Bola.net - - Di balik kesuksesan RB Leipzig pada musim 2016/17 ada kepiawaian Ralf Rangnick sebagai Sang Direktur Olahraga. Strategi Ralfball hasil gagasannya diterapkan dengan baik oleh sang pelatih, Ralph Hassenhüttl. Keberhasilan Die Bullen dalam pendekatan taktiknya membawa warna baru saat itu.
Namun perjalanan strategi sang pelatih asal Backnang ini bukan berarti mulus-mulus saja, ada banyak jalan terjal yang harus dialami Rangnick sebelum akhirnya ia boleh berbangga hati dengan pencapaian Leipzig saat ini. Ingin tau seperti apa sejarah dari perjalanan strategi ramuan Sang Football Professor fenomenal ini? Simak penjelasannya!.
Proses Penyempurnaan Penuh Rintangan
Sebelum bergabung bersama Leipzig, Rangnick sempat menjadi sosok di belakang layar dari permainan VfB Stuttgart pada musim 1999/00. Namun sayangnya, taktik yang ia ciptakan tidak
berhasil membawa performa Stuttgart semakin jaya, alih-alih dituding menjadi penyebab lepasnya kesempatan Stuttgart mendapatkan promosi ke Bundesliga. Tekanan yang ada membuatnya digantikan pada Februari 2001.
Kemudian Rangnick meneruskan perjalanannya dan menjadi pelatih Schalke pada 2004 dan Hoffenheim pada musim 2006. Bersama Hoffenheim, Rangnick diberi keleluasaan penuh untuk membangun strategi sesuai dengan pandangan dan pemikirannya dan ini membawa hasil yang sangat baik. Tim Hoffenheim maju sebagai klub yang masuk ke dalam divisi tiga Bundesliga.
Keputusan Rangnick menyusun formasi dari pemain-pemain muda yang ia rekrut berbuah manis. Hoffenheim berhasil promosi dua kali berturut-turut dan masuk ke kasta tertinggi Bundesliga pada musim 2008/09, di mana mereka juga mencetak rekor dengan finis di posisi 7. Di awal tahun 2011, Rangnick memutuskan mundur setelah kepindahan gelandang andalannya, Luiz Gustavo, ke Bayern München ditengarai tanpa sepengetahuannya.
Ia sempat kembali ke Schalke dalam waktu singkat sebelum akhirnya didapuk menjadi direktur olahraga untuk Red Bull Salzburg dan RB Leipzig. Dengan jabatan ini, ia juga bertanggung jawab menjadi sutradara untuk permainan RB Leipzig yang saat itu hanya bisa berhasil mencapai titik liga regional divisi empat. Dengan cepat Rangnick memutuskan mengganti pelatih sebelumnya yaitu Peter Pacult dengan Alexander Zorninger untuk bisa membuat peremajaan pada skuat Leipzig. Gagasannya membuahkan prestasi, cukup dua tahun saja Rangnick bisa membuktikan keberhasilannya dengan menggiring Leipzig masuk ke Bundesliga2.
Perjuangan Leipzig masih harus tertatih di divisi dua persepakbolaan Jerman ini. Hal ini juga yang menyebabkan Zorninger akhirnya diberhentikan. Rangnick sendiri pernah menggantikan posisi pelatih sebelum akhirnya Ralph Hasenhüttl asal Ingolstadt datang untuk menggantikannya. Lewat bimbingannya, Leipzig mampu lolos ke divisi utama Bundesliga. Akhirnya Die Bullen-lah tim yang benar-benar cocok dan berhasil dengan ramuan taktik dari Rangnick.
Tentang Taktik RalfBall
Strategi ini memiliki pertahanan yang intens dan konsisten dengan mengandalkan pola dasar dan sistem 4-2-2-2. Dengan menempatkan empat gelandang tengah, yang kemudian berkolaborasi dengan dua penyerang depan, masih jadi cara yang ampuh menyerang pertahanan lawan. Pemain tengah yang menumpuk akan memaksa lawan untuk membuang bola ke area sayap, di saat inilah trik sesungguhnya dimulai.
Dengan tekanan penuh, para fullback telah siap untuk mengambil umpan, bahkan tidak jarang mereka rela maju hingga ke tengah lapangan untuk semakin membuat winger lawan tidak berdaya yang bisa jadi pilihan untuk jadi umpan pada fullback. Tekanan inilah yang akhirnya akan mendorong fullback kembali menggiring bola ke tengah atau memberikan bola panjang, yang telah diantisipasi oleh pemain Leipzig. Trik ini memang membuat para Die Bullen fokus dengan bola, sehingga saat pihak lawan berhasil merebutnya mereka sudah bisa mengantisipasi dengan serangan dari berbagai sisi.
Lewat taktiknya, Rangnick mengandalkan strategi menyerang yang elegan dan tidak membabi buta. Build-up serangan Leipzig adalah kombinasi ketahanan dan kesabaran para pemain untuk menunggu momentum. Namun keadaan juga tergantung dari bagaimana serangan awal dari lawan. Leipzig telah siap dengan gelandang yang tak gentar untuk bertarung ke belakang sekaligus merebut bola dan menembakkannya ke depan. L
Leipzig memilih untuk tidak mengindahkan bola ke pemain sayap, tapi langsung melakukan tekanan vertikal lewat tengah di mana pemain tengah memang menjadi titik utama kekuatan mereka. Namun taktik ini tidak selamanya mujur, kerap kali Leipzig dihadang kebuntuan saat pemain tengah bermain dengan tempo yang kurang cepat. Di sinilah peran gelandang seperti Emil Forsberg dan Naby Keita jadi kunci. Mereka bisa menjadi penyambung bola kepada para penyerang, ataupun menjadi penghubung antara gelandang bertahan. Dengan menguasai bagian tengah, membuat Leipzig masih memiliki rencana B saat serangan vertikal mulai buntu. Saat itu pula Poulsen sang winger andalan bisa duel dengan bek lawan sekaligus menjaga bola, sementara Werner sang striker andalan dapat mengambil peluang yang ada dari kotak penalti.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Ketika Claudio Pizarro Menghapus Senyuman dari Wajah Dortmund
Bundesliga 7 Mei 2019, 16:33
-
Momen-momen Terbaik Franck Ribery Selama 12 Tahun di Bayern
Bundesliga 7 Mei 2019, 14:52
-
Mengenal RalfBall ala Rangnick
Bundesliga 7 Mei 2019, 14:17
LATEST UPDATE
-
3 Hal yang Patut Diperhatikan Jelang Barcelona vs Alaves
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 07:27
-
Kylian Mbappe Kini Memahami Kekecewaan Vinicius Junior di Ballon d'Or
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 07:23
-
Jadwal Lengkap La Liga 2026/2027
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 07:05
-
Jadwal Lengkap Serie A 2026/2027
Liga Italia 31 Oktober 2026, 07:03
-
Jadwal Lengkap Premier League 2026/2027
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 07:01
-
Lille vs Lens: Giroud Masuk Menit 72, Cetak Gol Kemenangan Menit 86
Liga Eropa Lain 31 Oktober 2026, 06:40
-
Man of the Match Le Havre vs PSG: Achraf Hakimi
Liga Eropa Lain 31 Oktober 2026, 06:27
-
Hasil Le Havre vs PSG: Hakimi Cetak Hat-Trick, Luis Enrique Cetak Sejarah
Liga Eropa Lain 31 Oktober 2026, 06:20
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18

























KOMENTAR