Cerita Johnny Jansen soal Metode Perekrutan Bali United: Kami Tak Punya Sistem Pencari Bakat, Cuma Andalkan Video YouTube dan Transfermarkt

Cerita Johnny Jansen soal Metode Perekrutan Bali United: Kami Tak Punya Sistem Pencari Bakat, Cuma Andalkan Video YouTube dan Transfermarkt
Pemain Bali United merayakan gol Tim Receveur pada laga melawan PSBS Biak pada pekan ke-15 BRI Super League 2025/2026 (c) Dok. Bali United/@BaliUtd

Bola.net - Pelatih Bali United, Johnny Jansen buka-bukaan dengan media Belanda, Leeuwarder Courant. Ia mengaku betah menangani tim berjuluk Serdadu Tridatu tersebut.

Jansen baru melatih Bali United pada BRI Super League 2025/26. Ia sebelumnya menangani SC Heerenveen pada 2019-2022, Safa Beirut FC pada 2023, dan PEC Zwolle pada 2023-2025.

"Saya akan sangat senang jika bisa berada di sini selama dua hingga tiga tahun lagi, sehingga saya bisa meninggalkan jejak," ujar Jansen kepada Leeuwarder Courant dilansir dari Fean Online.

"Lalu klub bisa melanjutkan dari apa yang sudah dibangun, itu akan sangat luar biasa," katanya menambahkan.

1 dari 3 halaman

Soroti Metode Pencarian Pemain

Namun, Jansen menyoroti metode pencarian pemain Bali United. Serdadu Tridatu disebutnya tidak memiliki sistem pencari bakat sehingga lagi banyak mengandalkan tawaran dari agen.

"Dan saya akan ceritakan sesuatu kepada Anda: kami tidak memiliki sistem pencari bakat. Pemilik klub kami menerima kiriman video YouTube dari para agen, lengkap dengan data dari Transfermarkt," ucap Jansen.

"Lalu ia menghubungi saya dan berkata, 'kita sedang mencari penyerang, kan. Apakah pemain ini cocok?' Begitulah cara kerjanya di sini," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Pandangan Johnny Jansen

Jansen menilai absennya struktur pencari bakat membuat proses rekrutmen pemain di banyak klub Indonesia berjalan tidak terarah dan sangat bergantung pada tawaran eksternal. Kondisi tersebut, menurutnya, kerap menimbulkan ketidaksesuaian antara kebutuhan teknis tim dengan profil pemain yang diajukan kepada pelatih.

"Tidak ada satu pun klub di sini yang sudah menata hal tersebut dengan baik. Padahal, alangkah baiknya jika memiliki seorang pemandu bakat yang bisa memantau pemain di dalam negeri, dan juga satu pemandu bakat lain yang bisa memantau pemain di luar negeri," kata Jansen.

"Kadang contohnya begini: kami mencari penyerang, lalu pemilik klub kami yang sangat kaya datang membawa seorang pemain sayap kiri dengan tinggi 1,65 meter. Pemain seperti itu jelas tidak bisa dimainkan sebagai penyerang," sambungnya.

3 dari 3 halaman

Ingin Ubah Budaya

Situasi itu menggambarkan bagaimana keputusan perekrutan pemain kerap berangkat dari pertimbangan non-teknis sebelum akhirnya disesuaikan kembali dengan kebutuhan tim. Jansen menyatakan bahwa mekanisme seperti itu berbeda dengan sistem kerja yang selama ini ia jalani di klub-klub sebelumnya.

"Lalu pemilik klub menanggapi bahwa pemain seperti itu sebenarnya punya kemampuan teknik yang bagus. Saya pun menjawab: itu benar, tetapi kami sedang membutuhkan seorang penyerang. Setelah itu dia berkata 'oke', lalu nama pemain tersebut dicoret dan muncul lagi nama pemain baru," tutur Jansen.

"Begitulah cara kami bekerja. Namun, itu bukan cara kerja yang saya inginkan dan juga bukan cara kerja yang biasa saya jalani," imbuhnya.

(Bola.net/Fitri Apriani)


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL