Arsenal vs Chelsea: Menang Sih, Tapi Ada yang Kurang dari The Gunners, Apa itu?

Arsenal vs Chelsea: Menang Sih, Tapi Ada yang Kurang dari The Gunners, Apa itu?
Pemain Arsenal merayakan gol William Saliba ke gawang Chelsea di lanjutan Liga Inggris, 1 Maret 2026. (c) AP Photo/Alastair Grant

Bola.net - Kemenangan Arsenal atas Chelsea nyatanya tak cukup memuaskan legenda Premier League, Yaya Toure. Tiga poin krusial di Emirates Stadium itu justru menyisakan tanda tanya besar terkait kualitas permainan The Gunners.

Laga derbi London pada Minggu (1/3/2026) malam WIB memang berakhir manis lewat skor 2-1. Gol William Saliba dan sundulan Jurrien Timber yang mengapit gol bunuh diri Piero Hincapie memastikan tim asuhan Mikel Arteta mengamankan poin penuh. Sayangnya, ada celah taktik yang terlihat sangat jelas di atas lapangan.

Baik Toure maupun legenda klub, Patrick Vieira, kompak menyoroti kebuntuan kreativitas skuad Meriam London. Absennya sang kapten, Martin Odegaard, dituding sebagai biang kerok mandeknya aliran bola dari lini tengah ke depan.

Kondisi ini membuat Arsenal dianggap bermain terlalu aman. Sebuah alarm bahaya yang wajib diwaspadai mengingat persaingan gelar juara semakin memanas usai Manchester City sukses membungkam Leeds United.

1 dari 4 halaman

Kehilangan Sosok Jenderal Lapangan

Momen selebrasi Martin Odegaard usai mencetak gol dalam laga Liga Inggris antara Arsenal vs Brighton di Emirates Stadium, 27 Desember 2025 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Momen selebrasi Martin Odegaard usai mencetak gol dalam laga Liga Inggris antara Arsenal vs Brighton di Emirates Stadium, 27 Desember 2025 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Toure secara terang-terangan menyebut Arsenal kehilangan roh permainan mereka. Odegaard diketahui sudah absen sebagai starter dalam sembilan laga terakhir.

Cedera dan penurunan performa memaksa sang kapten menepi, memberi ruang bagi nama lain seperti Eberechi Eze. Namun, pergantian ini rupanya belum bisa menutup lubang kreativitas. Eks gelandang Manchester City itu merindukan umpan-umpan mematikan dari sang playmaker.

"Anda juga harus paham bahwa Martin Odegaard sang kapten adalah pemain yang brilian dan bagi saya dia adalah kehilangan besar," kata Toure.

"Dia bermain di antara lini, dia bergerak dengan sangat baik, saya menyukai tipe pemain seperti ini," tambahnya.

2 dari 4 halaman

Menang Lewat Bola Mati Belum Cukup

Momen gol Jurrien Timber (3 dari kiri) mencetak gol ke gawang Chelsea di situasi tendangan sudut, 1 Maret 2026. (c) AP Photo/Alastair Grant

Momen gol Jurrien Timber (3 dari kiri) mencetak gol ke gawang Chelsea di situasi tendangan sudut, 1 Maret 2026. (c) AP Photo/Alastair Grant

Tentu saja Toure tidak menampik pentingnya kemenangan di laga krusial sekelas derbi. Hanya saja, sebagai penikmat sepak bola, ia berharap lebih dari sekadar mengandalkan gol lewat skema bola mati.

Pola serangan balik dan tusukan mematikan khas Arsenal seolah menghilang di hadapan pertahanan The Blues.

"Babak pertama lumayan, lumayanlah. Tapi saya merasa sedikit kecewa karena kami ingin melihat serangan dan peluang, tapi kami hanya melihat tiga gol dari bola mati," keluhnya.

"Untuk sebuah derbi, ini aneh. Menang hari ini jelas sangat penting bagi Arsenal, tapi sebagai penggemar saya ingin melihat lebih banyak," tegas Toure.

3 dari 4 halaman

Kritik Tajam dari Sang Legenda

Jurrien Timber merayakan golnya dalam laga Liga Inggris antara Arsenal vs Chelsea di Emirates Stadium, 1 Maret 2026 (c) AP Photo/Alastair Grant

Jurrien Timber merayakan golnya dalam laga Liga Inggris antara Arsenal vs Chelsea di Emirates Stadium, 1 Maret 2026 (c) AP Photo/Alastair Grant

Sentimen serupa ternyata juga datang dari Patrick Vieira. Mantan kapten masa kejayaan Invincibles ini menyoroti ketidakmampuan barisan depan membongkar taktik defensif lawan.

Status elit sebagai pemuncak klasemen liga domestik dan Eropa seharusnya diimbangi dengan dominasi penuh di atas lapangan hijau. Apalagi mereka juga sudah menginjakkan kaki di partai final kejuaraan piala.

"Saya sedikit kecewa, tapi yang terpenting adalah menang," ucap Vieira.

"Ketika Anda berada di puncak klasemen Liga Champions, puncak klasemen Premier League, di final piala, ekspektasinya lebih tinggi. Anda mengharapkan lebih dari Arsenal ini," urainya lebih lanjut.

4 dari 4 halaman

Beban Mental Puasa Gelar

Cole Palmer dan Declan Rice berebut bola dalam laga Liga Inggris antara Chelsea vs Arsenal di Emirates Stadium, 1 Maret 2026 (c) AP Photo/Alastair Grant

Cole Palmer dan Declan Rice berebut bola dalam laga Liga Inggris antara Chelsea vs Arsenal di Emirates Stadium, 1 Maret 2026 (c) AP Photo/Alastair Grant

Vieira lantas mencoba membedah alasan di balik permainan super hati-hati bekas timnya tersebut. Ia mencium ada tekanan psikologis hebat yang kini menghantui skuad Arteta.

Puasa gelar liga selama 22 tahun jelas bukan beban ringan. Tekanan inilah yang membuat para pemain ragu untuk mengambil risiko eksplosif seperti di awal musim.

"Mungkin ada sedikit keputusasaan dan stres karena mereka sangat ingin meraih hasil bagus sehingga Anda tidak berani mengambil risiko seperti di awal musim," analisa Vieira.

Kini, ujian mentalitas itu akan langsung mendapat tantangan baru. Rabu malam mendatang, Meriam London harus bertandang ke markas Brighton yang tengah on fire usai mencetak dua kemenangan beruntun atas Brentford dan Nottingham Forest.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL