
Bola.net - Persaingan gelar Premier League memasuki fase krusial. Arsenal saat ini memimpin klasemen dengan keunggulan tujuh poin atas Manchester City menjelang rangkaian pertandingan akhir musim.
Meski begitu, keunggulan tersebut belum sepenuhnya aman. City masih memiliki satu laga lebih sedikit dan kedua tim juga akan saling berhadapan pada 19 April, sebuah pertandingan yang berpotensi memangkas jarak menjadi hanya satu poin.
Di tengah ketatnya persaingan, muncul perdebatan menarik, apakah urutan kick-off pertandingan, siapa yang bermain lebih dulu, dapat memengaruhi arah perburuan gelar?
Teori Tekanan Psikologis Dalam Perburuan Gelar

Ketika persaingan gelar semakin ketat, setiap detail kecil bisa terasa sangat penting. Salah satu yang kerap dibicarakan adalah urutan pertandingan antara dua kandidat juara di setiap pekan liga.
Mantan gelandang Arsenal, Paul Merson, sempat mengangkat isu ini saat menjadi analis di Sky Sports setelah Arsenal bermain imbang 2-2 melawan Wolves pada Februari lalu. Menurutnya, tim yang bermain lebih dulu bisa memberikan tekanan mental kepada rivalnya.
Ia menjelaskan bahwa efek psikologis tersebut bisa terasa signifikan, terutama jika tim yang bermain lebih dulu meraih kemenangan dan memaksa pesaingnya untuk merespons.
“Gelar juara bisa ditentukan oleh siapa yang bermain lebih dulu, dan Sky punya peran besar dalam hal itu lewat penjadwalan siaran langsung,” kata Merson.
Contoh Kasus Tekanan Jadwal: Leicester vs Tottenham 2016

Contoh yang sering disebut adalah musim 2015-16, ketika Leicester City secara mengejutkan menjuarai Premier League di bawah Claudio Ranieri.
Saat itu, Tottenham menjadi pesaing utama Leicester. Namun dalam banyak pekan terakhir musim, Leicester lebih sering bermain lebih dulu dibanding Spurs.
Data menunjukkan bahwa dalam 13 pekan terakhir musim tersebut, Leicester bermain lebih dulu sebanyak sembilan kali. Tottenham hanya tiga kali mendapatkan kesempatan yang sama, sementara pekan terakhir dimainkan serentak seperti biasa.
Gelandang Tottenham saat itu, Eric Dier, mengakui bahwa situasi tersebut memberikan tekanan mental tambahan.
“Mereka sepertinya selalu bermain sebelum kami setiap akhir pekan, dan itu terasa seperti pukulan ketika mereka menang,” kata Dier dalam wawancara dengan Gary Neville di The Overlap.
Ia menjelaskan bahwa kemenangan dramatis dari rival bisa memengaruhi kondisi mental tim. “Jika mereka menang di menit akhir, atau mencetak dua gol di menit ke-90, itu bisa memberi dampak.”
Data Statistik Tidak Menunjukkan Keuntungan Besar

Meski teori tekanan psikologis cukup menarik, data statistik menunjukkan gambaran yang sedikit berbeda.
Dalam berbagai perebutan gelar Premier League, tim yang bermain lebih dulu rata-rata meraih 2,27 poin per pertandingan. Sementara tim yang bermain setelahnya mencatat rata-rata 2,20 poin.
Perbedaannya sangat kecil dan tidak cukup signifikan untuk menyimpulkan bahwa bermain lebih dulu memberikan keuntungan nyata.
Contoh lain datang dari musim 2022-23. Saat itu Manchester City sering bermain lebih dulu dalam fase akhir musim ketika mereka mengejar Arsenal.
City memainkan sekitar 73 persen pertandingan run-in mereka lebih dulu. Namun kegagalan Arsenal pada musim itu lebih disebabkan oleh hilangnya kontrol dalam beberapa pertandingan penting.
Arsenal sempat unggul dua gol saat melawan Liverpool dan West Ham, tetapi gagal mempertahankan keunggulan tersebut. Kekalahan telak 4-1 dari City di Etihad kemudian menjadi pukulan terbesar bagi peluang mereka.
Faktor Penentu Tetap Kualitas Tim
Pada akhirnya, urutan kick-off hanya merupakan salah satu detail kecil dalam kompleksitas perburuan gelar.
Setiap tim memiliki karakter mental, taktik, dan kualitas skuad yang berbeda. Faktor-faktor tersebut jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar siapa yang bermain lebih dulu.
Kadang-kadang narasi tentang jadwal pertandingan juga berubah tergantung hasil akhir. Jika tim yang bermain kedua kalah, urutan jadwal dianggap merugikan. Namun jika mereka menang, situasinya justru dianggap sebagai peluang untuk memberikan tekanan balik.
Mikel Arteta pernah menyinggung hal ini setelah Arsenal gagal mempertahankan keunggulan dalam perburuan gelar musim 2022-23.
“Untuk bisa menang di liga ini, Anda harus luar biasa dalam segala hal, karena tidak ada margin kesalahan,” kata Arteta.
Mengingat Arsenal dan Manchester City kembali terlibat dalam persaingan sengit musim ini, fokus utama kedua tim kemungkinan tetap pada aspek yang bisa mereka kendalikan, yaitu performa di lapangan.
Urutan jadwal kick-off mungkin menambah bumbu drama, tetapi kualitas dan konsistensi tetap menjadi penentu utama siapa yang akhirnya mengangkat trofi Premier League.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Jadwal Liga Inggris Pekan Ini Live di SCTV, MOJI, dan Vidio, 14-17 Maret 2026
- 5 Gelandang Incaran Manchester United: Sandro Tonali Jadi Nama Terbaru yang Masuk Daftar
- Proyek Stadion Baru Manchester United Terancam Molor Hingga 10 Tahun, Ada Masalah Apa?
- Man United vs Aston Villa: Inilah Taktik yang Bisa Dipakai Setan Merah untuk Kalahkan Tim Tamu
- Prediksi West Ham vs Man City 15 Maret 2026
TAG TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Prediksi Arsenal vs Everton: The Gunners Diunggulkan, tapi Tak Akan Mudah
Liga Inggris 13 Maret 2026, 18:18
-
Perang Politik di Barcelona: Xavi dan Laporta Terus Saling Serang!
Liga Spanyol 13 Maret 2026, 17:47
-
Real Madrid vs Elche: Statistik Bernabeu Ungkap Rekor yang Sulit Dipatahkan
Liga Spanyol 13 Maret 2026, 17:17
-
Pedro Neto Masuk Radar Barcelona, Peran Agen Ini Bisa Jadi Kunci Transfer
Liga Spanyol 13 Maret 2026, 16:45
-
Borussia Dortmund Krisis Finansial, Dua Pemain Ini Mungkin Harus Dikorbankan
Bundesliga 13 Maret 2026, 16:15
-
Miliano Jonathans Cedera ACL, PSSI Tegaskan Dukungan Penuh
Tim Nasional 13 Maret 2026, 16:11
-
Jadwal La Liga Pekan Ini Live di beIN Sports dan Vidio, 14-17 Maret 2026
Liga Spanyol 13 Maret 2026, 15:55
LATEST EDITORIAL
-
Starting XI Gabungan PSG dan Chelsea Sepanjang Masa, Siapa Saja Masuk?
Editorial 11 Maret 2026, 21:05
-
3 Pelatih yang Pernah Menangani PSG dan Chelsea, Ada yang Juara Liga Champions
Editorial 11 Maret 2026, 20:54
-
11 Pemain yang Pernah Membela PSG dan Chelsea, Ada Legenda Liga Champions
Editorial 11 Maret 2026, 20:44





















KOMENTAR