Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Malam Sempurna Senne Lammens di Kandang Everton

Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Malam Sempurna Senne Lammens di Kandang Everton
Kiper Manchester United, Senne Lammens (c) MUFC Official

Bola.net - Sepak pojok di Premier League musim ini sering berubah menjadi adu fisik di kotak penalti, penuh dorongan dan perebutan ruang yang nyaris tak terkendali. Dalam situasi seperti itu, bertahan bukan lagi sekadar soal organisasi, tetapi juga keberanian dan ketenangan individu.

Manchester United merasakannya secara langsung saat bertandang ke markas Everton, Senin malam. Dalam kemenangan tipis 1-0 tersebut, satu sosok menjadi kunci di tengah kekacauan, yaitu penjaga gawang muda Senne Lammens.

Di saat Everton terus menekan lewat bola mati dan crossing, Lammens tampil dingin, tegas, dan nyaris tanpa cela. Penampilannya bukan hanya menjaga keunggulan United, tetapi juga menjadi pernyataan kuat tentang pentingnya figur kiper di era sepak bola modern.

1 dari 4 halaman

Kotak Penalti Premier League yang Semakin Brutal

Kiper Manchester United, Senne Lammens mencoba menepis sepak pojok Everton Selasa (24/2/2026) (c) MUFC Official

Kiper Manchester United, Senne Lammens mencoba menepis sepak pojok Everton Selasa (24/2/2026) (c) MUFC Official

Sepak pojok kini menjadi salah satu fase paling sulit dikendalikan di Premier League. Blok, tarikan, dan kerumunan pemain di depan gawang membuat ruang gerak kiper semakin sempit, sementara wasit kerap kesulitan melihat pelanggaran kecil di tengah keramaian.

Ada banyak pendekatan untuk menghadapinya. Beberapa tim memilih meninggalkan lebih banyak pemain di depan untuk mengancam serangan balik, sementara yang lain membalas dengan permainan fisik serupa. Ada pula wacana mendorong pembuat aturan untuk memperketat regulasi soal blocking dan grappling.

Namun, dalam laga di Goodison Park, United memilih solusi paling sederhana sekaligus paling efektif: memiliki kiper yang berani keluar dari kerumunan dan menguasai area udara. Dalam konteks inilah peran Lammens menjadi krusial.

2 dari 4 halaman

Malam Sibuk Senne Lammens di Goodison Park

Jarrad Branthwaite (kanan) mencoba merebut bola dari kaki Diogo Dalot di laga Everton vs Manchester United (c) AP Photo/Ian Hodgson

Jarrad Branthwaite (kanan) mencoba merebut bola dari kaki Diogo Dalot di laga Everton vs Manchester United (c) AP Photo/Ian Hodgson

Dalam laga yang berjalan ketat, Everton melepaskan 10 sepak pojok berbanding satu milik United. Mereka juga mengirimkan 35 crossing, angka yang jauh melampaui enam crossing dari tim tamu. Tekanan demi tekanan diarahkan ke area kotak penalti.

Lammens menjawabnya dengan ketenangan luar biasa. Ia dua kali menangkap crossing secara bersih dan memukul keluar empat bola lain, sering kali dengan tubuh lawan dan rekan setim mengerubunginya. Beberapa kali ia bahkan terdorong mundur mendekati garis gawang.

Usai laga, kiper berusia 23 tahun itu mengakui situasinya nyaris berlebihan. Kepada Sky Sports, ia mengatakan bahwa dirinya sampai harus berdiri di belakang garis gawang untuk bisa maju menyambut bola, seraya menyebut kondisi itu sulit dipantau wasit.

3 dari 4 halaman

Statistik, Clean Sheet, dan Pujian Pelatih

Tekanan Everton tidak berbuah gol. United mencatatkan clean sheet ketiga dalam enam laga di bawah asuhan Michael Carrick, sebuah peningkatan signifikan dibanding dua clean sheet dari 16 pertandingan sebelumnya.

Carrick menyebut performa Lammens sebagai “teladan”, sementara David Moyes tak ragu melontarkan pujian dengan menyebutnya “sangat brilian”. Moyes bahkan mengakui bahwa rencana sepak pojok Everton berangkat dari asumsi kiper United tak akan tampil sebaik itu.

Secara statistik, Lammens juga memimpin kategori expected goals prevented per 90 menit di Premier League musim ini. Saat melawan Everton, angkanya mencapai 0,86, dengan penyelamatan paling krusial datang pada menit ke-83 saat menggagalkan tembakan jarak jauh Michael Keane.

4 dari 4 halaman

Lebih dari Sekadar Aksi Spektakuler

Meski sempat melakukan satu penyelamatan akrobatik yang mencuri perhatian kamera, kekuatan utama Lammens justru terletak pada hal-hal mendasar. Ia menahan free kick James Garner dengan aman dan mematikan peluang Tyrique George tanpa memantulkannya kembali ke area berbahaya.

Pendekatan itu membuat United terhindar dari sepak pojok tambahan atau peluang rebound. Dalam konteks laga dengan tekanan konstan, keputusan-keputusan sederhana tersebut bernilai sama pentingnya dengan penyelamatan heroik.

Carrick bahkan melihat kemiripan karakter Lammens dengan mantan rekan setimnya, Edwin van der Sar, sosok yang juga memuji kiper Belgia itu saat menjadi pundit di Sky Sports.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL