Manchester United Bisa Tiru Langkah Arsenal untuk Bangkit dari Keterpurukan

Manchester United Bisa Tiru Langkah Arsenal untuk Bangkit dari Keterpurukan
Pemain Manchester United berkumpul sebelum pertandingan Premier League melawan Manchester City di Old Trafford, Minggu (13/9/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Bola.net - Manchester United membutuhkan perubahan besar untuk keluar dari keterpurukan yang kembali membayangi klub pada musim 2026/2027. Kemerosotan performa di bawah Michael Carrick memperpanjang persoalan yang sudah menghantui Setan Merah sejak era Sir Alex Ferguson berakhir.

Situasi tersebut bukan berarti Manchester United tidak bisa kembali bersaing di papan atas Premier League. Arsenal pernah menghadapi masalah serupa sebelum perlahan membangun kembali kekuatan mereka di bawah asuhan Mikel Arteta.

Ketika Arteta mengambil alih Arsenal pada 2019, klub London Utara itu memiliki sejumlah pemain bergaji tinggi yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan tim. Perombakan skuad, keberanian memberi kesempatan kepada pemain muda, dan dukungan manajemen menjadi bagian penting dari proses kebangkitan mereka.

Manchester United kini menghadapi tantangan untuk menentukan arah pembangunan tim. Klub perlu mengevaluasi pemain yang tidak memenuhi ekspektasi sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan talenta muda.

Pengalaman Arsenal bisa menjadi acuan bagi Manchester United untuk memperbaiki kondisi tersebut. Berikut tiga pelajaran penting dari proyek pembangunan kembali Arsenal yang dapat diterapkan Setan Merah.

1 dari 4 halaman

1. Berani Melepas Pemain Bergaji Tinggi yang Tidak Memenuhi Ekspektasi

Diogo Dalot dan Harry Maguire usai laga Manchester United vs Liverpool, Minggu (3/5/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Diogo Dalot dan Harry Maguire usai laga Manchester United vs Liverpool, Minggu (3/5/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Salah satu persoalan Manchester United adalah keberadaan pemain bergaji besar yang belum mampu memberikan kontribusi sesuai harapan. Nama seperti Joshua Zirkzee, Manuel Ugarte, Diogo Dalot, Harry Maguire, dan Luke Shaw menjadi contoh pemain yang masa depan serta perannya di klub layak dievaluasi.

Situasi ini mengingatkan pada kondisi Arsenal ketika Arteta mulai menangani tim pada 2019. Mesut Ozil, Shkodran Mustafi, Sead Kolasinac, dan Sokratis Papastathopoulos memiliki kontrak bernilai besar, tetapi tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pelatih asal Spanyol tersebut.

Arsenal kemudian mengambil langkah tegas dengan melepas sejumlah pemain senior, termasuk melalui pemutusan kontrak. Keputusan itu membutuhkan biaya besar karena klub harus menyelesaikan kontrak mereka, tetapi manajemen menganggapnya sebagai investasi untuk masa depan.

Langkah tersebut membuka ruang dalam skuad sekaligus mengurangi beban gaji. Arsenal pun memiliki kesempatan lebih besar untuk mendatangkan pemain yang sesuai dengan rencana Arteta, alih-alih terus mempertahankan pemain yang tidak masuk dalam proyek jangka panjangnya.

Manchester United bisa menerapkan pendekatan serupa dengan mengevaluasi kontribusi, usia, gaji, dan kebutuhan tim sebelum menentukan masa depan setiap pemain. Namun, keputusan melepas pemain harus didasarkan pada pertimbangan sepak bola dan finansial, bukan sekadar keinginan melakukan perombakan besar-besaran.

2 dari 4 halaman

2. Memberikan Kepercayaan kepada Pemain Muda

Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo dan pelatih Michael Carrick usai laga melawan Liverpool, 3 Mei 2026 di Old Trafford. (c) AP Photo/Dave Thompson

Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo dan pelatih Michael Carrick usai laga melawan Liverpool, 3 Mei 2026 di Old Trafford. (c) AP Photo/Dave Thompson

Pemain muda menjadi fondasi penting dalam pembangunan kembali Arsenal. Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe, dua lulusan akademi klub, muncul sebagai bagian penting dari proyek Arteta sebelum Arsenal memperkuat skuad melalui perekrutan pemain muda lainnya.

Pada bursa transfer musim panas 2021, Arsenal mendatangkan sejumlah pemain yang masih berada dalam usia produktif, termasuk Ben White, Martin Odegaard, dan Aaron Ramsdale. Kehadiran mereka membantu memberikan energi baru kepada tim dan membangun kembali antusiasme suporter di Emirates Stadium.

Manchester United juga memiliki sejumlah pemain muda yang bisa dikembangkan untuk membangun masa depan klub. Kobbie Mainoo dan Shea Lacey merupakan talenta dari akademi, sedangkan Ayden Heaven, Leny Yoro, Patrick Dorgu, Andrey Santos, Carlos Baleba, dan Benjamin Sesko termasuk nama-nama muda yang disebut dalam rencana pembangunan skuad.

Meski demikian, memberikan kesempatan kepada pemain muda berarti klub harus siap menghadapi kesalahan dan performa yang belum konsisten. Arsenal sendiri finis di posisi kedelapan dalam dua musim pertama Arteta, sebelum naik ke peringkat kelima pada musim ketiganya.

Manajemen Arsenal tetap mempertahankan Arteta dan memberi waktu kepada para pemain untuk berkembang. Manchester United perlu memiliki kesabaran serupa jika ingin membangun tim yang lebih kompetitif, terutama apabila mereka memutuskan menjadikan talenta muda sebagai bagian utama proyek jangka panjang.

3 dari 4 halaman

3. Membangun Budaya Tim dan Mendukung Otoritas Pelatih

Pelatih Manchester United Michael Carrick bertepuk tangan setelah timnya menang dalam pertandingan Liga Champions kontra Sabah FK, Jumat (11/9/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Pelatih Manchester United Michael Carrick bertepuk tangan setelah timnya menang dalam pertandingan Liga Champions kontra Sabah FK, Jumat (11/9/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Perombakan skuad tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak disertai perubahan budaya di dalam tim. Arsenal memahami bahwa pemain muda membutuhkan lingkungan yang sehat agar bisa berkembang, sehingga klub tidak hanya melepas pemain senior untuk mengurangi beban gaji, tetapi juga memastikan mereka tidak menghambat perubahan yang sedang dibangun.

Di Manchester United, sejumlah pernyataan pemain senior setelah pertandingan memunculkan pertanyaan mengenai kondisi internal tim. Komentar Lisandro Martinez dan Bruno Fernandes dalam beberapa hari terakhir menjadi bagian dari pembicaraan mengenai suasana skuad dan pengaruh para pemain berpengalaman terhadap rekan-rekan mereka.

Arteta menunjukkan ketegasannya dengan menyingkirkan sejumlah pemain penting yang dinilai tidak lagi sesuai dengan standar tim. Ozil dan Pierre-Emerick Aubameyang termasuk nama besar yang akhirnya tidak lagi menjadi bagian dari rencana Arsenal.

Keputusan tersebut juga didukung manajemen klub, yang memberikan kewenangan kepada Arteta untuk menegakkan standar yang diinginkannya. Seiring waktu, Arsenal semakin mencerminkan identitas dan pendekatan yang dibangun sang pelatih.

Manchester United perlu memastikan pelatih mereka memiliki dukungan serupa, siapa pun yang nantinya memimpin tim. Pada era sebelumnya, Ruben Amorim dan Erik ten Hag sempat mengambil tindakan tegas terhadap sejumlah pemain, tetapi keduanya kemudian kehilangan pekerjaan, sehingga konsistensi dukungan manajemen terhadap pelatih menjadi persoalan penting.

Jika Carrick tetap bertahan atau digantikan pelatih baru, klub harus menetapkan standar yang jelas dan memastikan semua pemain mematuhinya. Tanpa kesatuan visi antara pelatih, pemain, dan manajemen, perombakan skuad berisiko hanya menjadi perubahan jangka pendek tanpa menyelesaikan persoalan mendasar.

Sumber: The Telegraph

4 dari 4 halaman

Klasemen Premier League


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL