
Bola.net - AC Milan menutup musim Serie A 2025/2026 dengan hasil yang benar-benar mengecewakan. Bermain di San Siro pada giornata ke-38, Senin (25/05/2026) dini hari WIB, Rossoneri justru kalah 1-2 dari Cagliari di laga penentuan tiket Liga Champions.
Milan sebenarnya membuka laga dengan sangat meyakinkan lewat gol cepat Alexis Saelemaekers saat pertandingan baru berjalan dua menit. Publik San Siro sempat percaya tim kesayangan mereka akan menuntaskan musim dengan kemenangan penting.
Namun situasi berubah cepat setelah Cagliari mampu menyamakan kedudukan melalui Gennaro Borrelli. Gol itu lahir dari situasi bola mati yang kembali memperlihatkan rapuhnya koordinasi pertahanan Milan.
Petaka Milan berlanjut di babak kedua ketika Rodriguez mencetak gol kemenangan untuk tim tamu, lagi-lagi lewat skema bola mati. Kekalahan ini membuat Rossoneri gagal lolos ke Liga Champions dan harus puas tampil di Liga Europa musim depan.
Berikut enam pelajaran dari duel tersebut.
Pulisic dan Leao Kehilangan Pengaruh di Momen Krusial

Keputusan Massimiliano Allegri mencadangkan Christian Pulisic dan Rafael Leao sejak menit awal cukup mengejutkan. Namun performa keduanya dalam beberapa laga terakhir memang sedang mengalami penurunan.
Saat masuk sebagai pemain pengganti, keduanya juga gagal memberikan perubahan berarti untuk permainan Milan. Intensitas serangan Rossoneri tetap mudah dipatahkan oleh lini belakang Cagliari.
Pulisic memang terlihat aktif membawa bola dan mencoba membuka ruang. Akan tetapi, kontribusinya di area sepertiga akhir lapangan sangat minim dan tidak menghasilkan peluang berbahaya yang benar-benar matang.
Leao pun mengalami situasi serupa sepanjang penampilannya di babak kedua. Ia sempat beberapa kali melewati lawan, tetapi keputusan akhirnya tidak efektif dan serangannya sering berhenti begitu saja.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa lini depan Milan membutuhkan evaluasi besar menjelang musim depan. Ketika dua pemain paling berbahaya mereka gagal tampil menentukan di laga sepenting ini, alarm bahaya jelas sudah berbunyi di San Siro.
Nkunku Kembali Tenggelam Setelah Sempat Dipuji

Christopher Nkunku sebelumnya sempat mendapatkan banyak pujian berkat kontribusinya dalam beberapa pertandingan terakhir. Ia berhasil memenangkan penalti penting saat menghadapi Atalanta dan Genoa.
Performa itu membuat Allegri kembali mempercayainya sebagai bagian penting di lini depan Milan. Namun kepercayaan tersebut gagal dibayar dengan penampilan yang meyakinkan saat melawan Cagliari.
Sepanjang pertandingan, Nkunku terlihat kesulitan terlibat dalam permainan. Ia minim menerima bola dan hampir tidak menciptakan ancaman berarti untuk pertahanan lawan.
Pergerakannya juga mudah dibaca sehingga Milan kehilangan variasi serangan di area depan. Situasi itu membuat Rossoneri terlalu bergantung pada bola-bola individu yang justru gagal berjalan efektif.
Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan besar soal masa depan pemain asal Prancis tersebut di Milan. Dengan harga transfer yang mahal dan ekspektasi tinggi, kontribusinya sejauh ini masih jauh dari kata memuaskan.
Lini Tengah dan Pertahanan Milan Benar-Benar Rapuh

Kekalahan dari Cagliari kembali memperlihatkan masalah lama Milan yang belum juga selesai. Lini belakang dan lini tengah tampil tanpa koordinasi sepanjang pertandingan.
Dua gol Cagliari lahir dari situasi bola mati yang sebenarnya bisa diantisipasi dengan lebih baik. Namun para pemain Milan terlihat kehilangan fokus dan gagal menjaga organisasi permainan.
Matteo Gabbia sebenarnya diharapkan menjadi pemimpin di lini pertahanan. Sayangnya, koordinasi antarpemain bertahan tetap terlihat kacau terutama saat mengawal area kotak penalti.
Masalah lebih besar justru muncul di lini tengah Rossoneri. Youssouf Fofana dan Ardon Jashari tampil jauh di bawah standar dan gagal mengontrol ritme permainan.
Keduanya sering terlambat melakukan pressing dan tidak mampu mengalirkan bola dengan cepat ke lini depan. Milan bahkan beberapa kali terlihat seperti bermain tanpa lini tengah karena begitu mudah ditembus lawan.
Situasi ini membuat tekanan terus datang ke area pertahanan Milan sepanjang pertandingan. Ketika lini tengah gagal bekerja dan pertahanan kehilangan konsentrasi, kekalahan akhirnya menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Mike Maignan Jadi Satu-Satunya Cahaya di Tengah Kekacauan

Di tengah buruknya performa Milan, Mike Maignan menjadi satu-satunya pemain yang tampil konsisten sepanjang laga. Sang kapten memperlihatkan mentalitas dan fokus yang berbeda dibanding rekan-rekannya.
Maignan beberapa kali melakukan penyelamatan penting untuk menjaga Milan tetap hidup dalam pertandingan. Tanpa aksinya, Rossoneri kemungkinan sudah kebobolan lebih banyak gol sejak babak pertama.
Kiper asal Prancis itu tampil sigap menghadapi tekanan dan terus berusaha memberi ketenangan kepada lini belakang. Sayangnya, usaha kerasnya tidak diimbangi oleh performa pemain lain di depannya.
Penampilan apik Maignan justru membuat kekhawatiran baru muncul di kalangan fans Milan. Dengan kondisi finansial klub yang terancam akibat gagal lolos ke Liga Champions, masa depan sang penjaga gawang kini mulai dipertanyakan.
Padahal, Maignan justru termasuk pemain yang paling layak dipertahankan Milan untuk proyek jangka panjang. Ia berkali-kali menjadi penyelamat Rossoneri di musim yang penuh kekacauan ini.
Allegri Bukan Satu-Satunya Penyebab Ambyarnya Milan

Massimiliano Allegri tentu menjadi sosok yang paling mudah disalahkan atas kegagalan Milan musim ini. Strategi bertahan setelah unggul cepat dianggap menjadi salah satu penyebab utama kekalahan dari Cagliari.
Namun masalah Milan sebenarnya jauh lebih kompleks dibanding sekadar urusan taktik. Banyak kesalahan individu dan lemahnya kualitas skuad yang sudah terlihat sejak awal musim.
Rossoneri memang sempat menjalani periode 24 pertandingan tanpa kekalahan. Akan tetapi, fondasi permainan mereka tetap terlihat rapuh terutama ketika berada di bawah tekanan.
Kebijakan transfer manajemen juga dinilai tidak benar-benar mendukung kebutuhan pelatih. Allegri disebut menginginkan striker seperti Dusan Vlahovic dan bek tengah berpengalaman, tetapi permintaannya tidak terpenuhi.
Milan justru mendatangkan Nkunku dengan biaya besar di akhir bursa transfer. Situasi itu membuat proyek Allegri sejak awal terlihat tidak berjalan sesuai rencana.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kegagalan Milan musim ini adalah tanggung jawab kolektif. Pelatih memang punya peran besar, tetapi kualitas skuad dan keputusan manajemen juga ikut menentukan arah kehancuran Rossoneri.
Masa Depan Luka Modric Kini Jadi Misteri Baru

Luka Modric menjadi salah satu figur paling penting dalam permainan Milan musim ini. Pengalaman dan kualitasnya di lini tengah membuat Rossoneri tetap kompetitif dalam banyak pertandingan besar.
Kontrak gelandang asal Kroasia itu sebenarnya akan segera habis pada akhir musim ini. Milan memiliki opsi memperpanjang masa baktinya selama satu musim tambahan.
Rossoneri kabarnya ingin mengaktifkan opsi tersebut demi mempertahankan pengaruh Modric di ruang ganti. Namun situasi kini menjadi jauh lebih rumit setelah kegagalan lolos ke Liga Champions.
Salah satu syarat utama Modric untuk bertahan disebut adalah tampil di Liga Champions musim depan. Syarat itu jelas tidak bisa dipenuhi Milan setelah kalah dari Cagliari.
Selain itu, Modric juga dikabarkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Massimiliano Allegri. Kini setelah Allegri tak lagi di Milan, masa depan sang veteran pun ikut menjadi tanda tanya besar.
Jika Modric benar-benar pergi pada musim panas nanti, Milan bisa kehilangan salah satu pemain paling berpengaruh di ruang ganti mereka. Situasi itu akan semakin memperbesar kebutuhan Rossoneri untuk melakukan revolusi besar menjelang musim baru.
Klasemen Liga Italia
(Bola/SempreMilan)
Baca Juga:
- AC Milan Chaos! Ultras Minta Zlatan Ibrahimovic Pergi Setelah Allegri Dipecat
- AC Milan Cari Direktur Olahraga Baru: Fabio Paratici, Arsitek Era Emas Juventus Masuk Radar
- Zlatan Ibrahimovic Jadikan Karakter Cesc Fabregas Sebagai Cetak Biru Pelatih Baru AC Milan
- AC Milan Siapkan 5 Nama Sebagai Pengganti Massimiliano Allegri, Siapa Saja?
- AC Milan Resmi Pecat Massimiliano Allegri dan 3 Petinggi Klub Usai Gagal ke Liga Champions
- Juventus dan AC Milan Buang Tiket Liga Champions karena Tim Kecil
- Napoli Cari Pelatih Anyar, Andoni Iraola Masuk Radar
- 3 Klub, 3 Cerita Berbeda: Como Ukir Sejarah, AC Milan dan Juventus Lalui Musim Kelam
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Jadwal Piala Dunia 2026
Liga Champions 26 Mei 2026, 11:58
-
Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Liga Champions 26 Mei 2026, 11:57
-
Daftar Lengkap Skuad 48 Negara di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 26 Mei 2026, 11:55
-
Kabar Baik, Lionel Messi Cuma Lelah Otot
Piala Dunia 26 Mei 2026, 11:45
-
Buruan! Juventus Kebut Transfer Alisson Becker Dari Liverpool
Liga Inggris 26 Mei 2026, 11:37
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00























KOMENTAR