Lamine Yamal, Kisah Bocah yang Sulit Dipisahkan dari Bola Menuju Final Piala Dunia

Lamine Yamal, Kisah Bocah yang Sulit Dipisahkan dari Bola Menuju Final Piala Dunia
Pemain Spanyol Lamine Yamal bereaksi dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Belgia di Inglewood, California, dekat Los Angeles, Jumat, 10 Juli 2026 (c) AP Photo/Lindsey Wasson

Bola.net - Lamine Yamal pernah menjadi bocah yang enggan meninggalkan lapangan, bahkan ketika latihan sudah selesai dan teman-temannya pulang. Baginya, bola bukan sekadar permainan, melainkan teman yang selalu ingin ia kejar sejak usia sangat belia.

Kini, hampir 15 tahun kemudian, anak yang tumbuh di lingkungan sederhana itu berdiri di ambang panggung terbesar sepak bola dunia. Final Piala Dunia 2026 menghadapkan Yamal dengan Argentina, negara asal pelatih pertamanya sekaligus tim yang diperkuat sosok yang sejak kecil ia kagumi, Lionel Messi.

Perjalanan itu tidak lahir dalam semalam. Ada taman kecil di Granollers, ada orang-orang yang percaya pada bakatnya, dan ada pelajaran tentang berbagi bola yang perlahan membentuknya menjadi pemain yang lebih utuh.

Saat jutaan pasang mata tertuju ke MetLife Stadium pada Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB, sebagian orang akan melihat seorang bintang muda. Namun, bagi mereka yang mengenalnya sejak kecil, Yamal tetaplah bocah yang selalu berlari mengejar bola dengan senyum lebar di wajahnya.

1 dari 4 halaman

Lapangan Kecil yang Menjadi Awal Segalanya

Leo Giordanella, pelatih pertama Yamal, masih mengingat pertemuan mereka di sebuah taman. Ayah Yamal rutin mengajak putranya bermain di sana, sementara Giordanella datang bersama teman-temannya untuk bermain sepak bola.

"Dia lucu karena masih sangat kecil dengan rambut ikal panjang yang terus mengejar bola sepanjang hari. Bolanya bahkan terlihat lebih besar daripada tubuhnya," kenang Giordanella.

Bakat Yamal semakin terlihat ketika bergabung dengan CF La Torreta pada usia empat tahun. Koordinator akademi, Inocente Diez, langsung melihat sesuatu yang berbeda dibanding anak-anak seusianya.

"Dia berbeda dari yang lain, mulai dari cara bergerak, mengambil posisi, hingga memahami permainan meski masih sangat muda. Dia seperti satu dari sejuta," ujar Diez.

2 dari 4 halaman

Belajar Menjadi Pemain Tim

Kemampuan menggiring bola memang sudah dimiliki Yamal sejak kecil. Akan tetapi, Giordanella merasa ada satu hal yang harus dipelajari muridnya, yakni memahami arti bermain untuk tim.

"Saya dua atau tiga kali mencadangkannya. Setelah masuk lagi, dia selalu mengubah jalannya pertandingan. Itu saya lakukan agar dia tidak terlalu individualis dan belajar tiki-taka serta kerja sama tim," katanya.

Pelajaran itu perlahan mengubah cara bermain Yamal. Dari pemain yang gemar membawa bola sendirian, ia berkembang menjadi sosok yang mampu menciptakan peluang bagi rekan-rekannya.

3 dari 4 halaman

Barcelona Menjadi Rumah Impian

Pada 2014, Yamal memilih bergabung dengan akademi Barcelona meski sempat menjalani seleksi bersama Espanyol. Keputusan tersebut membuka jalan menuju tim utama Blaugrana dan kemudian mengantarnya menjadi pilar penting Spanyol.

Di final nanti, ia akan berhadapan langsung dengan Messi, pemain yang sejak kecil menjadi inspirasinya. Sang kapten Argentina pun memberikan penghormatan kepada calon lawannya itu.

"Lamine adalah pemain yang luar biasa. Dia salah satu pemain terbaik di dunia meski baru berusia 19 tahun. Dia masih memiliki karier yang panjang dan peluang besar untuk mencetak sejarah," kata Messi.

4 dari 4 halaman

Dilema Sang Pelatih Pertama

Final Piala Dunia juga menghadirkan perasaan campur aduk bagi Giordanella. Ia berasal dari Argentina, tetapi memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Yamal yang pernah ia bimbing sejak kecil.

"Saya mengirim pesan kepada Lamine bahwa saya sangat menyayanginya, tetapi saya juga mencintai negara saya. Kalau dia mencetak gol ke gawang Argentina, saya akan membunuhnya," ujarnya sambil bercanda.

Ucapan itu menggambarkan hubungan yang telah terjalin jauh sebelum nama Yamal dikenal dunia. Apa pun hasil final nanti, kisah bocah yang sulit dipisahkan dari bola ini telah menjadi bagian indah dari perjalanan menuju puncak sepak bola dunia.

Sumber: FIFA


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL