Legenda Italia Sebut Ide Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Memalukan

Legenda Italia Sebut Ide Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Memalukan
Reaksi pemain Italia ketika adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di playoff Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Bola.net - Fulvio Collovati menanggapi kabar soal peluang Italia tampil di Piala Dunia 2026. Eks bek Azzurri itu menilai skenario tersebut tidak tepat dari sudut pandang olahraga.

Italia diketahui gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Namun muncul spekulasi bahwa mereka bisa menggantikan Iran di turnamen tersebut.

Isu tersebut berkembang setelah adanya dorongan dari utusan khusus Amerika Serikat, Paolo Zampolli. Hal ini memicu berbagai reaksi dari kalangan sepak bola Italia.

Collovati pun menjadi salah satu yang menolak wacana tersebut. Ia menilai Italia harus lolos melalui jalur yang semestinya.

1 dari 3 halaman

Tolak Jalur Non Olahraga

Pemain Italia berkumpul di tengah lapangan saat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di playoff Piala Dunia 2026, 1 April 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Pemain Italia berkumpul di tengah lapangan saat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di playoff Piala Dunia 2026, 1 April 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Collovati menilai gagasan tersebut lebih didorong oleh kepentingan politik dibandingkan olahraga. Ia mengaku tidak pernah mempertimbangkan skenario tersebut.

Menurutnya, keikutsertaan di Piala Dunia harus ditentukan berdasarkan hasil di lapangan. Hal itu menjadi prinsip utama dalam sepak bola.

"Beberapa orang mendorong ide ini lebih pada tingkat politik daripada olahraga. Sejujurnya, saya bahkan tidak pernah mempertimbangkannya," kata Collovati kepada Scommesse.io.

"Itu akan menjadi sesuatu yang memalukan dari sudut pandang olahraga," tegas Collovati.

2 dari 3 halaman

Italia Dinilai Sedang Krisis

Reaksi pemain Italia setelah kalah dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Bosnia vs Italia di Zenica, 1 April 2026 (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Reaksi pemain Italia setelah kalah dalam laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Bosnia vs Italia di Zenica, 1 April 2026 (c) Fabio Ferrari/LaPresse via AP

Collovati menilai kegagalan beruntun Italia bukanlah kebetulan. Ia melihat adanya masalah serius dalam sistem sepak bola nasional.

Menurutnya, kegagalan tiga kali berturut turut menjadi tanda jelas adanya krisis. Hal tersebut harus segera ditangani dengan serius.

"Dalam olahraga, yang penting adalah lapangan dan hasil. Anda tidak bisa sampai ke sana melalui jalan pintas. Italia tidak lolos ke tiga Piala Dunia terakhir, dan itu bukan kebetulan," ujar Collovati.

“Itu mungkin terjadi sekali, bahkan dua kali, tetapi jika sampai ketiga kalinya berarti ada masalah serius. Sebelum tiga kali gagal lolos tersebut, kami juga sudah dua kali berturut-turut tersingkir di putaran pertama.

"Ini adalah krisis yang sudah berlangsung selama 20 tahun, sejak 2006. Sebelum memikirkan untuk bisa tampil di Piala Dunia, kami perlu memikirkan reformasi," lanjut Collovati.

3 dari 3 halaman

Desak Reformasi Sepak Bola Italia

Starting XI Timnas Italia saat melawan Timnas Bosnia-Herzegovina di final playoff Piala Dunia 2026, 1 April 2026 di Zenica. (c) AP Photo/Armin Durgut

Starting XI Timnas Italia saat melawan Timnas Bosnia-Herzegovina di final playoff Piala Dunia 2026, 1 April 2026 di Zenica. (c) AP Photo/Armin Durgut

Collovati menegaskan pentingnya reformasi untuk memperbaiki kondisi sepak bola Italia. Ia menilai perubahan struktural harus segera dilakukan.

Fokus utama menurutnya adalah pengembangan pemain muda dan peran klub dalam memberi kesempatan bermain. Tanpa itu, Italia akan terus stagnan.

"Anda bisa mengganti semua orang yang Anda inginkan, tetapi tanpa reformasi, tidak ada yang akan berubah," tutur Collovati.

"Kami perlu melakukan intervensi dalam pengembangan pemain muda, berinvestasi pada pemain muda, dan mengharuskan klub memasukkan mereka ke dalam skuad serta benar benar memainkan mereka di Serie A," imbuh Collovati.

Sumber: Football Italia


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL