Rapuhnya Timnas Inggris Tanpa Harry Kane: Alarm Bahaya Thomas Tuchel

Rapuhnya Timnas Inggris Tanpa Harry Kane: Alarm Bahaya Thomas Tuchel
Penyerang Timnas Inggris, Harry Kane usai laga melawan Jepang di Wembley, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Sorakan tajam menggema di seluruh stadion saat peluit panjang berbunyi tanda pertandingan berakhir. Dari total 79.233 penonton, sebagian besar sudah lebih dulu beranjak pergi bahkan sebelum laga benar-benar usai.

Timnas Inggris baru saja dipermalukan Jepang dengan skor 1-0, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Hasil ini bukan sekadar kekalahan, tapi juga sejarah. Jepang menjadi negara Asia pertama yang mampu menaklukkan The Three Lions.

Kekalahan ini membuka kenyataan yang sulit diterima publik Inggris jelang Piala Dunia 2026. Harapan berbicara soal gelar Piala Dunia selalu hidup saat Harry Kane ada di lapangan. Namun tanpa dirinya, ambisi itu terasa rapuh, bahkan nyaris tak terlihat.

Masalah dimulai sejak sang kapten mengalami cedera ringan dalam sesi latihan hari Senin. Ia sempat mengikut sesi latihan tersebut, tetapi hanya bertahan 15 menit sebelum akhirnya menepi ke ruang medis.

Situasi itu memaksa Thomas Tuchel mengambil keputusan cepat. Dalam waktu singkat, ia merombak strategi. Namun perubahan mendadak justru memperlihatkan lemahnya lini serang Inggris.

1 dari 4 halaman

Eksperimen False Nine Inggris yang Gagal Total

Pemain Inggris, Harry Maguire, Phil Foden dan Harry Kane usai laga melawan Jepang, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pemain Inggris, Harry Maguire, Phil Foden dan Harry Kane usai laga melawan Jepang, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Tuchel mencoba pendekatan berbeda dengan menempatkan Phil Foden sebagai false nine. Ia ditopang Morgan Rogers di kanan, Anthony Gordon di kiri, dan Cole Palmer di belakangnya.

Alih-alih memberi variasi, skema ini justru memutus aliran serangan. Palmer, yang diharapkan jadi penghubung, malah melakukan kesalahan fatal karena kehilangan bola di area krusial.

Kesalahan itu langsung dibayar mahal. Jepang melancarkan serangan cepat yang dituntaskan dengan dingin oleh Kaoru Mitoma.

Di sisi lain, Foden tampil tanpa dampak berarti. Dari 19 peluang yang tercipta, ia tidak mencatatkan satu pun tembakan. Dalam 60 menit, ia hanya menyentuh bola 22 kali sebelum akhirnya ditarik keluar.

Ironisnya, pemain dengan sentuhan terbanyak justru datang dari bawah mistar. Jordan Pickford mencatat 39 sentuhan—sebuah angka yang menggambarkan tumpulnya lini depan Inggris.

2 dari 4 halaman

Frustrasi yang Tak Terjawab

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel bereaksi di laga melawan Jepang, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel bereaksi di laga melawan Jepang, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Perubahan di babak kedua tidak banyak mengubah keadaan. Dominic Solanke masuk, Rogers bergeser ke tengah, dan Jarrod Bowen mencoba memberi energi dari sisi kanan.

Tekanan baru terasa di akhir laga, itupun lewat bola mati. Harry Maguire dan Dan Burn sempat menciptakan kemelut di kotak penalti, sebelum peluang jatuh ke kaki Lewis Hall. Tembakannya berhasil ditepis dengan sigap oleh Zion Suzuki.

Sejak awal, suasana stadion memang sudah tegang. Ben White mendapat cemoohan bahkan sebelum kickoff. Pada akhirnya, seluruh tim menerima reaksi yang sama. Empat tembakan tepat sasaran terasa jauh dari cukup untuk meredam kekecewaan publik.

Di balik semua itu, absennya Harry Kane terasa sangat nyata. Musim ini, ia mencetak 53 gol dari 45 penampilan bersama Bayern Munchen dan timnas Inggris. Namun kontribusinya tak hanya soal angka. Kehadirannya memberikan harapan untuk permainan dan mentalitas tim lebih baik.

Data sejak Piala Dunia 2018 memperlihatkan ketergantungan tersebut. Inggris mencatat rasio kemenangan 65 persen dari 88 laga saat Kane menjadi starter. Tanpanya, angka itu turun menjadi 57 persen dari 14 pertandingan.

Thomas Tuchel pun tak menutupinya.

"Tanpa Harry Kane, kami kehilangan ancaman utama. Tim mana pun akan merasakan hal yang sama. Tidak mudah menggantikan pemain seperti dia," akunya.

“Kami kehilangan dia terlalu cepat, dan itu memengaruhi keseimbangan tim—baik secara permainan maupun karakter. Kami tetap bisa menang tanpa dia, tapi tanpa diia semuanya jadi jauh lebih sulit," lanjutnya.

3 dari 4 halaman

Pilihan Tuchel yang Semakin Terbatas

Starting XI Timnas Inggris saat melawan Jepang di laga uji coba, 1 April 2026 di Wembley. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Starting XI Timnas Inggris saat melawan Jepang di laga uji coba, 1 April 2026 di Wembley. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Kebutuhan akan pelapis Kane kini menjadi hal mendesak. Ia sempat terlihat kelelahan saat membawa Inggris ke final Euro 2024. Fakta ini tak bisa diabaikan, apalagi dengan ancaman cuaca panas di Amerika Serikat pada turnamen mendatang.

Rotasi akan sangat penting, tetapi opsi yang ada belum meyakinkan. Solanke dan Dominic Calvert-Lewin belum mampu menjawab kepercayaan yang diberikan.

Ollie Watkins sebenarnya sudah ada dalam rencana Tuchel, meski tidak dipanggil di jeda internasional ini. Satu tempat di skuad utama tampaknya hampir pasti menjadi miliknya.

Di tengah situasi ini, muncul nama tak terduga: Danny Welbeck. Di usia 35 tahun, penyerang Brighton itu justru sedang dalam performa yang stabil dan kembali masuk pembicaraan.

4 dari 4 halaman

PR Besar di Hadapan Tim Besar

Pelatih Inggris, Thomas Tuchel melihat timnya bermain saat melawan Jepang di laga uji coba, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pelatih Inggris, Thomas Tuchel melihat timnya bermain saat melawan Jepang di laga uji coba, 1 April 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Laga ini seharusnya menjadi ruang eksperimen. Namun hasilnya justru menegaskan masalah lama: Inggris masih kesulitan saat menghadapi tim kuat.

Rekor sempurna di fase kualifikasi seakan tidak berarti. Dalam tiga laga melawan tim peringkat 20 besar dunia, mereka gagal meraih kemenangan.

Hasil melawan Senegal, Uruguay, dan Jepang berakhir dengan satu imbang dan dua kekalahan.

Absennya pemain seperti Jude Bellingham, Declan Rice, dan Bukayo Saka memang berpengaruh. Namun itu bukan satu-satunya alasan.

Waktu terus berjalan menuju turnamen besar. Hingga kini, Thomas Tuchel masih mencari cara untuk mengurangi ketergantungan timnya pada satu nama: Harry Kane.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL