
Bola.net - Kepergian maestro campursari Didi Kempot membuat banyak pihak merasa kehilangan. Termasuk di antaranya adalah Suporter fanatik PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS).
Meski beraliran ultras, BCS mengadopsi satu di antara hasil karya sang maestro campursari tersebut. Ada aksi BCS di Stadion Maguwoharjo pada beberapa musim lalu yang viral. Ribuan suporter khas Tifosi Italia tersebut menyayikan lagu Didi Kempot berjudul Suket Teki, di tengah pertandingan.
"Wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sopo wonge sing betah. Mripatku uwis ngerti sak nyatane, Kowe selak golek menangmu dewe. Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki," begitu penggalan lirik lagu yang dinyanyikan BCS.
Bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya: Orang yang salah tidak mau mengaku salah. Lama-lama siapa yang betah. Mataku sudah tahu faktanya, kamu mengejar menangmu sendiri. Aku menanam padi malah yang tumbuh suket teki (rumput teki).
Sindiran kepada Pemain Lawan

Bagi BCS, nyanyian tersebut memiliki maksud, yakni sindiran kepada pemain lawan saat memprotes wasit. Ketika pemain lawan melakukan pelanggaran, tapi malah memprotes wasit.
"Saat di itu di Sleman sedang booming. Awalnya teman-teman punya ide untuk menyanyikan lagu itu. Selain menjadi psywar karena ada makna tersirat, lagu dinyanyikan sebagai gambaran saat di pertandingan. Rasanya kami punya utang budi kepada beliau karena lagunya yang kami nyanyikan," kata Media Guide BCS, Aan Andrean"
"Lagu itu secara kultural, beliau (Didi Kempot) dan BCS dalam wilayah dan kedaerahan yang sama. Meski kami punya image fanatik dan keras, dengan menyanyikan Suket Teki ternyata bisa membuat suasana di tribune penonton cair," bebernya.
Kebanggaan Suporter

Pihaknya menambahkan, sejauh ini BCS baru menyanyikan lagu Suket Teki sebagai karya dari almarhum Didi Kempot. Fenomena banyaknya kelompok suporter, khususnya di Pulau Jawa, yang gemar melantunkan lagu-lagu Didi Kempot di tengah pertandingan, menjadi nilai positif tersendiri.
"Barangkali karena kondisi tim atau ketika pertandingan berlangsung. Selama ini lagu atau chant didominasi oleh budaya dari luar negeri. Harus diapresiasi karena sebuah kebanggaan mengangkat sosok dari daerah sendiri," pungkasnya.
Disadur dari: Bola.com/Vincentius Atmaja/Wiwig Prayugi
Published: 5 Mei 2020
Baca juga artikel-artikel lainnya:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
PSS Sleman Menilai Turnamen Pengganti Bisa Jadi Solusi
Bola Indonesia 23 April 2020, 09:21
-
PSS Sleman: Kalau Kompetisi Dilanjutkan, Kami Siap
Bola Indonesia 14 April 2020, 09:08
-
Pelatih PSS Sleman Beber Kondisi Hongkong di Tengah Pandemi Corona
Bola Indonesia 8 April 2020, 22:48
LATEST UPDATE
-
Manchester United Hidupkan Lagi Minat pada Bintang Berbakat Barcelona Ini
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 22:18
-
Michael Carrick Tidak Terkejut Dirinya Tidak Jadi Dipecat Manchester United
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 21:58
-
Goncalo Ramos Kesulitan di AC Milan: Transfer 73 Juta Euro Belum Mampu jadi Mesin Gol
Liga Italia 29 Oktober 2026, 21:44
-
Michael Carrick Girang Kobbie Mainoo Sudah Pulih, Tapi Prihatin dengan Kondisi Sesko
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 21:40
-
Michael Carrick Benarkan Sudah Berdamai dengan Bruno Fernandes
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 21:30
-
Dianggurin Chelsea, PSG Siap Tampung Estevao
Liga Inggris 29 Oktober 2026, 21:20
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18



















KOMENTAR