Bola.net - Oleh: Dendi Gandakusumah
Ikan yang hidup di air acap tak sadar apa artinya air, demikian orang sering bilang. Beruntunglah si ikan jika air yang didiami itu bersih dan sehat. Namun, tidakkah bakal jadi malapetaka baginya apabila air itu tak lebih dari selokan beracun?
Saat ini, bisa jadi, nasib si ikan tersebut sedang dialami pecinta sepakbola Indonesia. Saking cintanya dan menjadikan sepakbola Indonesia sebagai bagian dari keseharian, mereka kerap tak menyadari kondisi sepakbola Indonesia, yang mereka akui sebagai kecintaan mereka itu.
Ketika kompetisi kita digoyang kabar miring adanya pengaturan skor, para pecinta ini serentak berteriak menolak. Pun demikian ketika ada tengara sepakbola kita tak lebih dari sekadar dagelan -yang sudah diskenario, para pecinta itu menutup kuping sembari melontarkan pembelaan mati-matian, tak ketinggalan pula sumpah serapah yang disemburkan.
Saat Timnas Indonesia gagal berprestasi? Gampang. Salahkan saja pelatihnya, hina saja para pemainnya atau sumpahi saja pengurus PSSI. Atau, yang sedang nge-tren, 'salahkan' saja Tuhan. Bilang saja kegagalan ini sudah suratan Yang Maha Kuasa. Simpel dan pasti aman. Tak perlu berpanjang kata dan usaha mencari pangkal musababnya.
Di situasi seperti inilah Jacksen F Tiago hadir. Seiring perubahan rezim di PSSI, pelatih asal Brasil ini didapuk menahkodai Timnas Indonesia. Sebuah tugas yang bisa dikata sangat berat, apalagi di tengah badai konflik yang belum reda betul.
Jacksen tak menyerah dengan hambatan-hambatan yang muncul dalam menjalankan tugasnya. Mulai dari masalah pemain yang tidak datang tepat waktu, tambal sulam program sampai gagalnya Badan Tim Nasional dalam menyusun jadwal pertandingan uji coba, semua itu pernah dialami salah satu pemain asing terbaik di Indonesia tersebut.
Meski tampak tegar dan berupaya tak terpengaruh dengan semua itu, Jacksen tetaplah tidak menganggap ini sebagai sebuah hal yang wajar dan bisa dimaklumi. Dia misalnya mengaku bahwa tak adanya uji coba mengganggu persiapan timnya menghadapi pertandingan.
"Tapi Bigman, saya berusaha untuk tetap tidak terpaku pada masalah. Saya berusaha mencari solusinya. Saya berusaha tetap logis," ujar pria kelahiran 28 Mei 1968 ini beberapa waktu lalu. "Kalau saya terpaku pada masalah, ada banyak sekali masalah. Kapan kita akan bekerja kalau hanya berpikir masalah? Bisa stress sendiri saya."
Di tengah tuntutan membawa Skuat Garuda -julukan Timnas Indonesia- terbang tinggi, Jacksen harus berkejaran dengan berbagai halangan.
Sampailah pada suatu titik, Jacksen merasa cukup. Enough is enough. Entah ada tekanan atau tidak, yang jelas pecinta rawon ini menegaskan bakal meninggalkan tak hanya jabatan Timnas Indonesia. Dia juga mengaku bakal mundur dari Persipura.
Menurutnya, saat ini sepakbola Indonesia tengah menurun. Karenanya, dia perlu untuk mencari tantangan baru di luar negeri. "Tapi, saya pasti akan kembali ke sini, Bigman," janjinya.
Tak perlulah kita berpolemik mengenai keputusan Jacksen ini. Sebagai seorang logis -dan selalu berupaya mencari solusi- bisa jadi mundurnya Jacksen ini merupakan sebuah solusi baginya untuk menjaga kewarasan.
Sebagai sosok yang sejak lahir menghirup udara di tanah sepakbola, kecintaan Jacksen pada si kulit bundar tak perlu lagi diragukan. Bisa jadi, kondisi sepakbola Indonesia belakangan ini menyakiti hati dan menjadi sebuah masalah bagi pria kelahiran Rio de Jainero ini.
Yang pasti, Jacksen bukanlah sosok ikan yang tak tahu artinya air. Dia adalah cermin. Cermin kecintaan terhadap sepakbola, yang (sempat) memutuskan hijrah dari Indonesia karena tak sanggup melihat sepakbola disakiti dan diperkosa oleh orang-orang yang kerap mengaku mencintainya.
Sudah seharusnya kita bijak dalam bercermin dan mau mengakui kekurangan juga bopeng kita yang ditunjukkan cermin tersebut. Alih-alih melakukan apa yang telah menjadi peribahasa, buruk muka cermin dibelah. (den/dzi)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
EDITORIAL: Cermin Sepakbola Indonesia Itu Bernama Jacksen
Editorial 25 November 2013, 20:19
-
PSSI Punya Dua Target Bagi Timnas Senior
Tim Nasional 25 November 2013, 11:12
-
Kiprah Pelatih Timnas Indonesia, Bukti Kursi Panas Merah Putih
Editorial 22 November 2013, 09:39
-
MNC Cup Jadi Prospek Jangka Panjang PSSI
Tim Nasional 21 November 2013, 14:12
-
PSSI dan Papua Nugini Jalin Kerja Sama Pembinaan Usia Muda
Bola Indonesia 20 November 2013, 06:10
LATEST UPDATE
-
Luka Modric Siap Bertahan di AC Milan, Ini 2 Syarat Utamanya
Liga Italia 24 Mei 2026, 19:19
-
Jadwal Siaran Langsung Man City vs Aston Villa: Tayang di TV Mana?
Liga Inggris 24 Mei 2026, 18:59
-
Klasemen Pembalap Moto4 European Cup 2026
Otomotif 24 Mei 2026, 18:40
-
Bagaimana Torino dan Juventus Membentuk Bremer Jadi Bek Elite
Liga Italia 24 Mei 2026, 18:31
-
Dusan Vlahovic Masuk Radar Real Madrid, Juventus Hadapi Situasi Sulit
Liga Italia 24 Mei 2026, 18:26
-
Penghargaan Rising Star Serie A untuk Kenan Yildiz
Liga Italia 24 Mei 2026, 18:23
-
Jadwal Siaran Langsung Sunderland vs Chelsea: Tayang di TV Mana?
Liga Inggris 24 Mei 2026, 18:15
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00
-
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manchester City
Editorial 19 Mei 2026, 09:39
-
5 Pemain yang Bisa Jadi Fondasi Jose Mourinho di Real Madrid
Editorial 18 Mei 2026, 12:25

























KOMENTAR