
Bola.net - Oleh: Muhammad Rizqi
AS Roma berhasil mencatatkan rekor sensasional dengan meraih 10 kemenangan beruntun di awal kompetisi berkat kemenangan 1-0 atas pada kamis malam lalu (31/10). Adalah attacante gaek, Marco Borriello yang menjadi penentu kemenangan setelah sundulan terarahnya di menit ke 67 gagal diantisipasi dengan baik oleh kiper Christian Puggioni.
Itu adalah gol pertama Borriello bagi Roma musim ini. Untuk pertama kalinya dalam 10 giornata, pria 31 tahun ini mendapatkan penghargaan yang layak dari suporter Giallorossi yang mayoritas sejak awal musim mempertanyakan ketajaman Borriello.
Namun satu hal yang seringkali luput dari perhatian penonton bahwa terlepas dari predikatnya sebagai striker mandul, sebenarnya selama ini Borriello memiliki peranan yang cukup penting dalam skema permainan Roma. Jebolan akademi AC Milan ini menjalankan tugasnya sebagai suffaco dalam taktik kreasi allenatore Rudi Garcia.
Suffaco, Bertahan di Lini Depan
Suffaco, yang sering juga disebut sebagai defensive-forward atau advance-destroyer adalah sebuah peranan evolusioner dari seorang attacker. Seorang suffaco biasanya diposisikan sebagai penyerang atau second striker, namun dibebani tugas untuk sebisa mungkin mengganggu alur serangan saat bola masih berada di daerah pertahanan lawan.
Sederhananya, para suffaco ditugaskan bertahan di lini depan.
Peranan tersebut muncul sebagai penawar paling ampuh dari konsep deep-lying midfielder, yaitu seorang playmaker yang mengatur ritme permainan dan jalur umpan dari posisi gelandang bertahan.
Salah satu contoh keberhasilan penggunaan strategi ini adalah saat Alex Ferguson menempatkan Park Ji-Sung sebagai gelandang serang dalam laga kontra Milan di tahun 2010, dengan misi untuk mengunci Andrea Pirlo yang saat itu menjadi dirijen permainan Rossoneri. Danny Welbeck juga beberapa kali memerankan posisi tersebut dalam tahun-tahun terakhir kepemimpinan Fergie di Old Trafford.
Contoh pemain lain yang tampil apik pada posisi ini adalah Mario Mandzukic di Bayern Munich. Sebagai seorang penyerang tunggal, Mandzukic terkenal dengan work-rate dan staminanya yang mengagumkan, mengejar bola dalam penguasaan lawan sejak di daerah pertahanan mereka sendiri.

Namun berbeda dengan sebagian besar defensive-forward yang 'bermasalah' dengan rekening gol, Mandzukic tetap mampu tampil tajam walau dibebani tugas bertahan tambahan. Keistimewaan itulah yang membuat Bayern tak ragu untuk mengirm striker utama mereka sebelumnya, Mario Gomez ke Firenze.
Bagaimana kiprah Borriello dalam menjalankan peran suffaco? Simak di halaman kedua sebagai berikut.
[initial]Next: Analisa Peranan Borriello Sebagai Seorang Suffaco (sq/mri)
Peranan Borriello Sebagai Seorang Suffaco

Pemain jangkung ini memiliki peranan penting untuk memberi waktu bagi Roma dalam melakukan transisi dari menyerang ke bertahan, terutama saat timnya kehilangan penguasaan bola. Tak jarang Borriello harus melakukan pelanggaran agar lini tengah dan pertahanan timnya sempat menata ulang formasi kembali saat lawan akan melakukan serangan balik.
Hal itu bisa dilihat dari total angka pelanggaran yang dilakukan Borriello. Saat ini ia tercatat sebagai pemain dengan angka pelanggaran terbanyak di kubu Roma dengan 18 foul dalam delapan pertandingan, rata-rata 2,3 foul per laga.
Borriello 'memuncaki' klasemen pelanggaran terbanyak di kubu Roma (via Squawka)Borriello 'memuncaki' klasemen pelanggaran terbanyak di kubu Roma. Klik untuk memperbesar (via Squawka)
Angka tersebut berselisih cukup jauh dengan Mehdi Benatia dan Kevin Strootman yang tercatat sebagai pemain terkotor selanjutnya dengan rata-rata 1,5 dan 1,7 foul per laga. Padahal menit bermain Borriello jauh lebih sedikit ketimbang kedua rekannya yang berposisi lebih defensif tersebut.
Dalam laga lawan Chievo kemarin, Borriello tercatat melakukan empat pelanggaran, dua kali lipat dari yang dilakukan oleh Mehdi Benatia yang merupakan seorang defender. Selain itu, pelanggaran dilakukan oleh pemain berusia 31 tahun ini juga terjadi di area tengah lapangan sebagai bagian dari tugasnya untuk merusak serangan lawan sejak dini.
Grafik lokasi pelanggaran yang dilakukan oleh Borriello dalam laga lawan Chievo (via Squawka)Grafik lokasi pelanggaran yang dilakukan oleh Borriello dalam laga lawan Chievo (via Squawka)
Selain itu, Borriello juga tidak sungkan untuk turun jauh ke area pertahanan sendiri dalam melakukan tugas defensifnya. Hal ini akan sangat terlihat saat Roma menghadapi tim dengan kualitas lini tengah dan lini depan yang mumpuni. Seperti saat menghadapi Napoli di giornata 8 lalu.
Grafik yang menunjukkan posisi bermain Borriello dalam sepanjang laga kontra Napoli (via Squawka)Grafik yang menunjukkan posisi bermain Borriello dalam sepanjang laga kontra Napoli (via Squawka)
Dari gambar di atas, terlihat sekali bahwa Borriello turun sangat jauh sampai ke area pertahanan sendiri untuk membantu pertahanan. Ia menjelajahi seluruh lapangan, dalam arti sebenarnya. Dalam laga itu, Borriello juga tercatat sebagai pemain dengan pelanggaran terbanyak, padahal ia bermain tidak sampai 60 menit.
Namun yang menjadi kekurangan utama dari Borriello adalah ia kerap kali terlalu 'khusyuk' dalam menjalankan tugas memutus alur serangan lawan, sehingga kurang mampu memberikan ancaman ke gawang lawan. Hal ini nampak dari jumlah shootnya yang hanya mencapai empat buah dalam hampir 400 menit pertandingan Serie A. Tiga di antaranya on goal, termasuk gol pengunci kemenangan atas Chievo Verona kemarin.
Next: Borriello, Keberadaan Yang Seperti Angin
Keberadaan Borriello Yang Seperti Angin

Namun dengan memikul peranan seperti ini, Borriello mau tak mau harus menerima bahwa ia hanya akan menjadi unsung hero bagi suporter Roma. Para fans tentu akan lebih cenderung menyanjung kinerja lini belakang di balik rekor defensif Il Lupi yang luar biasa.
Sementara sebagai striker, Borriello akan dihakimi negatif berdasarkan assist dan golnya yang relatif minim, berbanding terbalik dengan jumlah pelanggarannya. Bagaimanapun juga stigma bahwa seorang striker hanya dinilai dari jumlah golnya masih melekat terlalu kuat di dunia sepakbola.
Seperti itulah memang nasib seorang suffaco, berperan sangat penting namun namun tidak terlihat dan acapkali luput mendapatkan apresiasi. Keberadaan yang seperti angin.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Open Play 1 November 2013, 18:15

-
EDITORIAL - Suffaco Borriello, Keberadaan Yang Seperti Angin
Editorial 1 November 2013, 17:07
-
Garcia: Roma Pakai Kekuatan Magis? Mungkin Saja
Liga Italia 1 November 2013, 15:36
-
Garcia Enggan Terlena Rekor Fantastis Roma
Liga Italia 1 November 2013, 09:19
-
Sosok Kharismatik Totti Jadi Inspirasi Roma
Liga Italia 1 November 2013, 08:31
LATEST UPDATE
-
Bandung BJB Tandamata Mengawali Proliga 2026 dengan Tekad Juara yang Kembali Menyala
Voli 8 Januari 2026, 22:08
-
Pelita Jaya Launching Tim untuk IBL 2026, Bidik Juara demi Wujudkan Bintang Lima
Basket 8 Januari 2026, 22:02
-
Proliga 2026: Popsivo Polwan Tetap Lakukan Evaluasi Meski Sukses Kalahkan Medan Falcons
Voli 8 Januari 2026, 21:43
-
Hasil Proliga 2026: Juara Bertahan Bhayangkara Presisi Kalahkan Medan Falcons
Voli 8 Januari 2026, 20:47
-
Antoine Semenyo Mendarat di Manchester, Segera Resmi Jadi Pemain Anyar Man City
Liga Inggris 8 Januari 2026, 20:32
-
Ini PR Disiplin Chelsea yang Harus Dilihat Oleh Pelatih Baru Liam Rosenior
Liga Inggris 8 Januari 2026, 19:57
-
Battle of WAGs Liga Inggris 2025/2026: Arsenal vs Liverpool
Bolatainment 8 Januari 2026, 19:55
-
Live Streaming Milan vs Genoa - Link Nonton Serie A/Liga Italia di Vidio
Liga Italia 8 Januari 2026, 19:45
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58

























KOMENTAR