
Bola.net - Bola.net - Sejak menjuarai Premier League pada musim 2015/16, Leicester City sudah berganti manajer sebanyak dua kali. Namun ada satu hal yang tak berubah, yakni peran vital sang striker Jamie Vardy.
Sejumlah pilar telah pindah klub. N'Golo Kante menyeberang ke Chelsea, begitu pula Danny Drinkwater, tapi Vardy masih bertahan di King Power Stadium.
Jika Leicester diibaratkan sebuah kapal perang, meski nakhoda nakhoda sudah berganti, dari Claudio Ranieri ke Craig Shakespeare, dan kini Claude Puel, meriam utamanya tetaplah Vardy.

Leicester menjamu Everton di pekan ke-10 Premier League 2017/18, Minggu (29/10). Ini adalah laga pertama Leicester bersama manajer anyar Claude Puel, pengganti Craig Shakespeare yang dipecat sebelumnya.
Leicester mengawali era baru bersama Puel dengan kemenangan 2-0.
Keunggulan Leicester dibuka oleh Vardy dengan gol dari assist Riyad Mahrez pada menit 18. Di menit 29, diawali assist Christian Fuchs, Demarai Garay menciptakan gol kedua.
Gol pembuka Vardy melahirkan sebuah statistik istimewa.
3 - Jamie Vardy has now scored the first @PremierLeague goal under the last three Leicester managers (Ranieri, Shakespeare, Puel). Maiden. pic.twitter.com/UPTuq2iUJY
— OptaJoe (@OptaJoe) October 29, 2017
Vardy pun tercatat selalu mencetak gol pertama dalam debut tiga manajer terakhir Leicester di Premier League.
Era Ranieri, Shakespeare dan Puel sama-sama dibuka dengan gol Vardy. Selain itu, mereka juga sama-sama mengawalinya dengan kemenangan.
Debut Ranieri sebagai manajer Leicester di Premier League adalah laga kandang melawan Sunderland pada pekan pertama musim 2015/16. Vardy mencetak satu gol, yakni gol pembuka di menit 11, dan Leicester menang 4-2.
Musim itu, Ranieri sukses mengantarkan Leicester menjadi juara liga tertinggi Inggris untuk pertama kalinya dalam 132 tahun sejarah mereka. Vardy finis dengan torehan 24 gol, hanya kalah satu gol dari Harry Kane (Tottenham Hotspur) dalam perburuan gelar pemain tertajam.

Kesuksesan yang ibarat dongeng itu menemui antiklimaks pada musim berikutnya. Start buruk dicatatkan. Ujung-ujungnya, Leicester memecat Ranieri pada 23 Februari 2017, pada titik di mana mereka berada hanya satu poin di atas zona degradasi dengan Premier League cuma menyisakan 13 laga.
Shakespeare diangkat sebagai caretaker. Laga perdananya adalah laga menjamu Liverpool pada 27 Februari 2017. Leicester menang 3-1, setelah selalu kalah dalam lima laga terakhirnya bersama Ranieri di Premier League (lawan Chelsea, Southampton, Burnley, Manchester United, Swansea).
Kemenangan atas Liverpool dibuka dengan gol Vardy di menit 28. Drinkwater menggandakannya di menit 39, lalu Vardy kembali mengoyak gawang Liverpool di menit 60. Tim tamu hanya bisa mencetak satu gol lewat Philippe Coutinho di menit 68.
Shakespeare sendiri kemudian diberi kontrak permanen pada 12 Maret 2017. Bersamanya, sang juara bertahan akhirnya finis peringkat 12, juga melangkah hingga perempat final Liga Champions. Vardy hanya mencetak 13 gol liga (16 gol semua kompetisi), tapi tetap lebih banyak daripada rekan-rekannya.

Musim 2017/18, Leicester kembali ganti manajer di tengah jalan. Kali ini, Shakespeare yang jadi korban.
Hanya satu kemenangan 2-0 atas tim promosi Brighton diraih Leicester dalam delapan laga pertamanya (S3 K4) di Premier League musim ini. Menyusul hasil imbang 1-1 menjamu West Brom, Shakespeare didepak.
Setelah itu, Leicester menang 2-1 di kandang Swansea City bersama caretaker Michael Appleton. Kemenangan berlanjut dengan hasil 2-0 melawan Everton bersama Puel yang baru resmi diangkat sebagai manajer mereka. Vardy lagi-lagi mencetak gol pembuka dan membantu timnya meraih kemenangan.

Vardy mencetak 31 gol dalam 70 penampilan untuk Ranieri di semua kompetisi. Vardy lalu mengemas 14 gol dalam 24 penampilan untuk Shakespeare. Vardy pun telah mengawali era Puel di Leicester dengan satu gol ke gawang The Toffees.
Vardy adalah pencetak gol terbanyak Leicester di era Ranieri dan Shakespeare. Dia juga berpotensi mengulanginya di bawah kepelatihan Puel.
Meski nakhoda Leicester telah berganti, meriam utamanya tetaplah pemain dengan nomor punggung 9 itu - Jamie Vardy.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Matip: Kritikan Fans Jangan Diambil Hati
Liga Inggris 30 Oktober 2017, 22:48
-
Matip Ungkap Kemarahan Klopp Usai Dibantai Spurs
Liga Inggris 30 Oktober 2017, 22:11
-
Wijnaldum Berharap Koleksi Golnya Terus Bertambah
Liga Inggris 30 Oktober 2017, 19:59
-
Matic Ingin MU Bisa Hajar Chelsea dan Semua Klub Besar EPL
Liga Inggris 30 Oktober 2017, 17:30
-
Nakhoda Berganti, Meriam Utamanya Tetap Jamie Vardy
Editorial 30 Oktober 2017, 14:08
LATEST UPDATE
-
Prediksi Man City vs Brighton 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 10:38
-
Prediksi Chelsea vs Man Utd 31 Oktober 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 09:38
-
Prediksi Le Havre vs PSG 31 Oktober 2026
Liga Eropa Lain 30 Oktober 2026, 08:15
-
Sesko Cedera, Ini 5 Striker yang Bisa Direkrut Manchester United pada Januari
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 07:02
-
Cristiano Ronaldo Raih B.O.A.T Award, Mengapa Penghargaan Ini Kontroversial?
Liga Champions 30 Oktober 2026, 06:55
-
Mendalami Kebangkitan Ronald Araujo di Liverpool usia Tinggalkan Barcelona
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:48
-
Manchester United Catat Kerugian Transfer Terbesar di Eropa
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 06:41
-
Raphinha Dipanggil Timnas Brasil, Barcelona Kembali Khawatir
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:33
-
Barcelona Tutup Sementara Tribune Suporter Usai Insiden El Clasico
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 06:29
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




















KOMENTAR