
Bola.net - Ada satu hal menarik dari duel antara Manchester City dan Arsenal, bahwa solusi taktik justru datang dari masa lalu. Di tengah era sepak bola modern yang dipenuhi inovasi, Pep Guardiola memilih menoleh ke belakang.
Masalah ini tidak muncul secara kebetulan. Dalam beberapa pertemuan penting, tim asuhan Mikel Arteta terlihat kehabisan ide saat menghadapi pendekatan berbeda yang diterapkan City.
Situasi ini membuka pertanyaan besar, mengapa tim yang dikenal progresif seperti Arsenal justru kesulitan menghadapi pendekatan yang terkesan lebih klasik?
Pergeseran Tren: Dari Man-to-Man ke Zona

Dalam beberapa musim terakhir, Premier League mengalami perubahan signifikan dalam cara bertahan. Banyak tim kini mengadopsi pendekatan man-to-man, terutama saat menghadapi build-up dari lini belakang lawan.
Pendekatan ini membuat setiap pemain bertanggung jawab langsung terhadap satu lawan. Ketika kiper mengalirkan bola ke bek, lawan akan langsung menekan dengan penjagaan ketat, sehingga opsi umpan menjadi sangat terbatas.
Dampaknya jelas. Tim yang membangun serangan dari belakang sering dipaksa mengambil risiko, baik melalui umpan sulit maupun kehilangan bola di area berbahaya.
Namun, seperti hukum alam dalam sepak bola, setiap tren akan memunculkan respons. Ketika pressing man-to-man menjadi dominan, tim-tim mulai mencari cara untuk mengatasinya.
Rotasi Pemain: Senjata Utama Arsenal

Salah satu solusi paling efektif menghadapi man-to-man adalah rotasi posisi. Ide dasarnya sederhana, jika lawan menjaga pemain, maka pergerakan pemain akan menciptakan ruang.
Arsenal menjadi salah satu tim terbaik dalam menerapkan konsep ini. Melalui rotasi dinamis, mereka mampu menciptakan “separation” atau jarak dari penjaga, sehingga membuka jalur progresi bola.
Contohnya terlihat saat Declan Rice turun ke dalam untuk menerima bola. Pergerakan ini menarik gelandang lawan dan membuka ruang di lini tengah. Ruang tersebut kemudian dimanfaatkan pemain lain yang masuk dari lini kedua.
Rotasi tidak berhenti di satu titik. Pergerakan berantai antar pemain membuat struktur lawan goyah. Dalam satu fase, posisi pemain bisa berubah drastis, gelandang menjadi bek sayap, winger masuk ke tengah, semuanya demi menciptakan celah.
Dengan pendekatan ini, Arsenal mampu membongkar banyak tim yang mengandalkan pressing berbasis individu.
Guardiola Mengubah Permainan

Meskipun demikian, Pep Guardiola melihat celah dari pendekatan Arsenal tersebut. Alih-alih mengikuti tren man-to-man, ia justru kembali ke sistem zona dengan bentuk 4-2-4.
Dalam skema ini, pemain tidak fokus pada individu, melainkan menjaga ruang. Lini depan City ditempatkan untuk menutup jalur umpan ke gelandang pivot Arsenal, sehingga aliran bola ke tengah menjadi sangat sulit.
Hasilnya efektif. Arsenal dipaksa mengalirkan bola ke sisi lapangan, di mana City dengan cepat menggeser blok mereka untuk menutup ruang.
Pendekatan ini mengalihkan tanggung jawab progresi bola ke bek tengah dan kiper Arsenal. Ketika jalur tengah tertutup dan sisi lapangan dikunci, opsi mereka menjadi sangat terbatas.
Di titik ini, masalah mulai terlihat jelas bagi tim Arteta.
Mengapa Perputaran Pemain Tak Lagi Efektif?
Perpindahan posisi pemain yang biasanya ampuh ternyata tidak memberikan dampak signifikan saat menghadapi sistem zona. Alasannya sederhana, yaitu karena tidak ada penjagaan individu yang bisa “ditarik” keluar dari posisinya.
Ketika pemain Arsenal berpindah posisi, struktur City tetap utuh. Tidak ada ruang besar yang terbuka karena setiap pemain City menjaga area, bukan lawan langsung.
Bahkan ketika Arsenal mencoba overload di lini tengah, peluang tersebut sering tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Dalam beberapa situasi, mereka justru memilih mengembalikan bola ke lini belakang.
Kondisi ini membuat Arsenal akhirnya mengubah pendekatan. Mereka lebih sering memainkan bola panjang melewati blok City, meski konsekuensinya kehilangan dominasi penguasaan bola.
Masalah Adaptasi dan Kebiasaan
Kegagalan Arsenal menemukan solusi bukan semata soal kualitas pemain. Bahkan ketika skuad terbaik tersedia, masalah yang sama tetap muncul.
Ada indikasi bahwa para pemain Arsenal lebih terbiasa menghadapi sistem man-to-man. Mereka terlatih untuk menciptakan separation melalui rotasi, bukan membongkar struktur zona yang lebih statis.
Pendekatan zona menuntut hal berbeda, mulai dari pergeseran struktur tim, eksploitasi celah antar lini, hingga kemampuan menemukan pemain bebas di ruang sempit.
Secara teori, Arteta pernah berhasil menerapkan pendekatan ini, terutama pada musim 2022-23. Namun, dalam sepak bola, pengetahuan taktik harus terus diasah dalam praktik sehari-hari.
Ketika jarang digunakan, kemampuan tersebut bisa memudar, dan itulah yang tampaknya terjadi pada Arsenal.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Situasi Sudah Genting! Chelsea Mungkin Tidak Main di UCL Musim Depan
- Manchester United Bidik Aurelien Tchouameni dari Real Madrid di Bursa Transfer Musim Panas
- Legenda Man United Ini Bisiki Michael Carrick Agar Tidak Buang Rasmus Hojlund, Apa Alasannya?
- Kabar Buruk untuk Real Madrid, Ibrahima Konate Beri Sinyal Kuat Bertahan di Liverpool
- Ryan Giggs Dukung Michael Carrick Jadi Bos Permanen Man United, Alasannya: Hidupkan Lagi DNA MU
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Prediksi Burnley vs Man City 23 April 2026
Liga Inggris 21 April 2026, 21:29
-
Arsenal Krisis di Momen Penentuan: Kena Mental dan Habis Napas
Liga Inggris 21 April 2026, 20:15
-
Analisis: Pep Guardiola Pakai Cara 'Kuno' untuk Buat Arsenal Tak Berkutik
Liga Inggris 21 April 2026, 19:14
-
Melihat Peran Krusial Rodri dan Silva: Rahasia Man City Kalahkan Arsenal
Liga Inggris 21 April 2026, 16:45
-
Jika Poin Arsenal dan Man City Sama, Siapa Juara?
Liga Inggris 21 April 2026, 10:24
LATEST UPDATE
-
Prediksi Burnley vs Man City 23 April 2026
Liga Inggris 21 April 2026, 21:29
-
Prediksi Atalanta vs Lazio 23 April 2026
Liga Italia 21 April 2026, 20:57
-
Bonucci Ingin Guardiola Tangani Timnas Italia
Piala Dunia 21 April 2026, 20:26
-
Prediksi Leverkusen vs Bayern 23 April 2026
Bundesliga 21 April 2026, 20:25
-
AC Milan Kehilangan Ritme, Juventus Lebih Stabil Jelang Duel Krusial Serie A
Liga Italia 21 April 2026, 20:15
-
Arsenal Krisis di Momen Penentuan: Kena Mental dan Habis Napas
Liga Inggris 21 April 2026, 20:15
-
AC Milan dan Filosofi Corto Muso: Menang Tipis, tetapi Konsisten
Liga Italia 21 April 2026, 20:06
-
Prediksi PSG vs Nantes 23 April 2026
Liga Eropa Lain 21 April 2026, 19:59
-
Krisis Lini Depan AC Milan Kian Nyata, Tak Peduli Kombinasi Penyerang
Liga Italia 21 April 2026, 19:58
-
Prediksi BRI Super League: PSIM vs Persija 22 April 2026
Bola Indonesia 21 April 2026, 19:52
-
Prediksi BRI Super League: Persis vs Bhayangkara FC 22 April 2026
Bola Indonesia 21 April 2026, 19:47
-
Analisis: Pep Guardiola Pakai Cara 'Kuno' untuk Buat Arsenal Tak Berkutik
Liga Inggris 21 April 2026, 19:14
-
Liga Inggris 21 April 2026, 18:48

LATEST EDITORIAL
-
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hugo Ekitike Usai Cedera Parah
Editorial 21 April 2026, 11:46
-
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid
Editorial 16 April 2026, 23:37
-
6 Top Skor Sepanjang Masa Liga Champions
Editorial 15 April 2026, 20:59






















KOMENTAR