Bedah Taktik Michael Carrick Saat Man United Permalukan Arsenal: Masterclass!

Bedah Taktik Michael Carrick Saat Man United Permalukan Arsenal: Masterclass!
Pelatih interim Manchester United, Michael Carrick saat memberikan arahan di laga melawan Arsenal, 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Manchester United akhirnya mematahkan kutukan panjang di markas Arsenal. Untuk pertama kalinya sejak 2017, Setan Merah pulang dari Emirates Stadium dengan kemenangan liga usai menundukkan The Gunners dengan skor dramatis 3-2.

Lebih dari sekadar tiga poin, kemenangan ini menjadi bukti nyata revolusi cepat Michael Carrick. Jika Ruben Amorim membutuhkan waktu setahun untuk mencatatkan kemenangan beruntun bersama United, Carrick hanya butuh dua pekan. Setelah menumbangkan Manchester City, Arsenal kini menjadi korban berikutnya.

Gol dari Bryan Mbeumo, Patrick Dorgu, dan Matheus Cunha menutup laga penuh intensitas yang memperlihatkan kecerdikan taktik Carrick sekaligus kebangkitan pemain-pemain yang sebelumnya tampil biasa saja.

1 dari 6 halaman

Rope-a-Dope ala Carrick, Arsenal Dipaksa Main di Area Tak Nyaman

Perebutan bola antara Lisandro Martinez dengan Martin Odegaard di laga Arsenal vs Manchester United di Emirates, 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Perebutan bola antara Lisandro Martinez dengan Martin Odegaard di laga Arsenal vs Manchester United di Emirates, 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Carrick datang ke Emirates dengan rencana yang sangat matang. United sengaja bermain “di dalam” struktur Arsenal, membiarkan tuan rumah menguasai bola, namun mematikan jalur progresi permainan mereka.

Arsenal yang dikenal rapi dan sistematis justru terjebak dalam bentuk permainan seperti tapal kuda. United bertahan disiplin, terutama melalui peran Amad Diallo dan Dorgu yang menjaga lebar permainan agar The Gunners tidak mampu meregangkan lini pertahanan.

Menariknya, duet Kobbie Mainoo dan Casemiro nyaris tak tercatat melakukan tekel atau intersepsi, namun kehadiran mereka sukses menutup ruang sentral dan memutus alur serangan Arsenal. Formasi ini juga tak lepas dari sentuhan asisten Carrick, Steve Holland, yang membantu mengoptimalkan struktur permainan United.

Full-back United berani naik di sisi luar, memaksa winger Arsenal bertahan lebih dalam dan menciptakan keunggulan jumlah pemain di lini tengah. Skema ini membuat United seolah bermain dengan “dua pemain ekstra” di lapangan.

2 dari 6 halaman

Patrick Dorgu, dari Wing-Back Biasa ke Kandidat Bintang Baru

Selebrasi bek sayap Manchester United, Patrick Dorgu usai membobol gawang Arsenal dalam laga Liga Inggris, Minggu (25/1/2026). (c) PA via AP Photo/Mike Egerton

Selebrasi bek sayap Manchester United, Patrick Dorgu usai membobol gawang Arsenal dalam laga Liga Inggris, Minggu (25/1/2026). (c) PA via AP Photo/Mike Egerton

Sorotan utama tertuju pada Patrick Dorgu. Dalam beberapa pekan terakhir, pemain 21 tahun itu mengalami lonjakan performa signifikan. Dari wing-back yang kerap dikritik, Dorgu kini mulai dibandingkan dengan Gareth Bale.

Perubahan peran menjadi lebih ofensif membuat Dorgu tampil lepas. Pola permainan yang jelas dari Carrick, Holland, dan Jonathan Woodgate memberi ruang bagi pemain untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut.

Mainoo menjadi kunci dalam skema ini. Pergerakannya di ruang sempit dan umpan-umpan pendeknya membuka jalur bagi Dorgu untuk masuk ke area tengah. Kombinasi Bruno Fernandes, Mainoo, Luke Shaw yang overlap, serta pergerakan Mbeumo yang menyeret bek Arsenal menciptakan ruang ideal yang berujung pada gol spektakuler Dorgu di babak kedua.

3 dari 6 halaman

Trio Kanan Mematikan, Arsenal Kehilangan Kendali

Pemain Manchester United, Bryan Mbeumo, merayakan gol pertama timnya dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pemain Manchester United, Bryan Mbeumo, merayakan gol pertama timnya dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Sisi kanan United menjadi mimpi buruk bagi Arsenal. Kombinasi Mbeumo, Fernandes, dan Amad tampil cair dan dinamis, seperti yang sebelumnya mereka perlihatkan saat menghadapi City.

Dengan Luke Shaw kerap masuk ke tengah, formasi United berubah fleksibel menyerupai 3-4-3. William Saliba ditugaskan mengawal Fernandes, namun kehadiran Amad dan Mbeumo di area yang sama justru menciptakan overload yang membuat lini belakang Arsenal kebingungan.

Gol pembuka Mbeumo memang diawali kesalahan fatal Martin Zubimendi, namun itu terjadi karena tekanan dan pemahaman posisi para pemain United yang sangat baik.

Bahkan saat Cunha masuk sebagai pemain pengganti, intensitas dan kombinasi serangan United tak menurun. Pergerakan Cunha yang menarik bek akhirnya membuka ruang untuk gol penentu kemenangan.

4 dari 6 halaman

Luke Shaw Redam Saka, Arsenal Kehilangan Senjata Utama

Kiper Manchester United Senne Lammens (kanan) menepis sundulan pemain Arsenal Martin Zubimendi (kiri) pada laga Premier League/Liga Inggris antara Arsenal vs Man Utd, 25 Januari 2026 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Kiper Manchester United Senne Lammens (kanan) menepis sundulan pemain Arsenal Martin Zubimendi (kiri) pada laga Premier League/Liga Inggris antara Arsenal vs Man Utd, 25 Januari 2026 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Luke Shaw menjadi salah satu pemain yang paling diuntungkan oleh perubahan sistem. Carrick membaca celah ketika Jurrien Timber sering masuk ke area tengah, membuat Shaw harus menutup ruang dan membiarkan Dorgu berhadapan langsung dengan Bukayo Saka.

Penyesuaian cepat dilakukan di tengah laga. Hasilnya, Saka gagal melewati Shaw dan kerap terjebak di sisi lapangan.

Dukungan Mainoo dan Casemiro di belakang Shaw memaksa bintang Arsenal itu bermain mundur, jauh dari zona berbahaya.

5 dari 6 halaman

Arsenal Kehabisan Ide, Pergantian Aman Tanpa Inspirasi

Pemain Arsenal, Gabriel Jesus (kanan), berduel dengan pemain Manchester United, Casemiro, dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pemain Arsenal, Gabriel Jesus (kanan), berduel dengan pemain Manchester United, Casemiro, dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Meski kalah, Arsenal masih difavoritkan menjuarai Premier League musim ini. Mereka mendominasi 30 menit awal dan tanpa kesalahan Zubimendi, hasil laga bisa saja berbeda.

Namun, minimnya koneksi antara Martin Odegaard dan Gabriel Jesus membuat permainan Arsenal terasa kaku. Pergantian pemain yang dilakukan Mikel Arteta terkesan aman, tapi minim kreativitas. Memindahkan Saka ke kiri demi memberi ruang bagi Noni Madueke di kanan justru tak memberi dampak signifikan.

Kekalahan kandang pertama musim ini menjadi alarm bagi Arsenal. Menjelang laga kontra Leeds, Arteta dituntut mengubah pendekatan: lebih berani mengambil risiko di sepertiga akhir, bukan sekadar menguasai bola tanpa ancaman nyata.

Sementara itu, Manchester United di bawah Carrick mulai menunjukkan wajah baru, lebih cerdas, lebih berani, dan jauh lebih mematikan.

Sumber: The Sun


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL