Chelsea Era Baru: Membongkar Apa yang Bisa Diberikan Liam Rosenior untuk The Blues

Chelsea Era Baru: Membongkar Apa yang Bisa Diberikan Liam Rosenior untuk The Blues
Aksi Liam Rosenior saat masih menangani Strasbourg (c) Official Chelsea

Bola.net - Chelsea tidak perlu mencari terlalu jauh ketika memutuskan berpisah dengan Enzo Maresca. Jawabannya justru sudah ada di dalam ekosistem mereka sendiri, lewat sosok yang bekerja tenang namun progresif di Strasbourg.

Liam Rosenior kini resmi menjadi manajer baru Chelsea, membawa reputasi sebagai pelatih muda yang fleksibel, berani, dan piawai mengelola skuad belia. Tugas terbesarnya jelas: mengakhiri inkonsistensi yang membayangi The Blues dalam 18 bulan terakhir.

Di atas kertas, fondasi skuad Chelsea sudah tersedia. Posisi lima besar liga dan peluang lolos ke fase gugur Liga Champions memberi ruang bagi Rosenior untuk menanamkan identitas barunya.

Lantas, seperti apa sebenarnya gaya sepakbola yang akan dibawa Rosenior ke Stamford Bridge?

1 dari 5 halaman

Pragmatis dan Fleksibel dalam Formasi

Manajer baru Chelsea, Liam Rosenior (c) Chelsea FC Official

Manajer baru Chelsea, Liam Rosenior (c) Chelsea FC Official

Liam Rosenior dikenal bukan sebagai pelatih yang terikat pada satu pakem formasi. Di Strasbourg, ia menunjukkan pendekatan pragmatis dengan menyesuaikan struktur tim berdasarkan lawan yang dihadapi.

Dalam beberapa pertandingan, Strasbourg tampil dengan tiga bek menggunakan skema 3-4-2-1. Namun di laga lain, mereka beralih ke empat bek melalui formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1. Fleksibilitas ini memberi tim kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas dasar permainan.

Pendekatan tersebut kontras dengan tren pelatih modern yang sering kaku pada satu filosofi. Bagi Rosenior, kontrol permainan bukan soal bentuk, melainkan fungsi setiap pemain di dalam struktur.

Bagi Chelsea yang kerap kesulitan menemukan keseimbangan taktik musim ini, kemampuan beralih sistem tanpa mengganti prinsip inti menjadi nilai tambah yang signifikan.

2 dari 5 halaman

Build-up Pendek dan Progresi Lewat Tengah

Liam Rosenior dikenalkan sebagai pelatih baru Chelsea musim 2025/2026 (c) Official Chelsea

Liam Rosenior dikenalkan sebagai pelatih baru Chelsea musim 2025/2026 (c) Official Chelsea

Penguasaan bola tetap menjadi fondasi utama, namun dengan penekanan yang lebih fungsional. Di Strasbourg, Rosenior membangun tim yang nyaman mengalirkan bola pendek dan cepat sejak lini belakang.

Peran penjaga gawang menjadi krusial. Mike Penders, kiper muda pinjaman dari Chelsea, kerap berdiri tinggi dan ikut membentuk garis pertama build-up. Statistik menunjukkan tidak ada kiper Ligue 1 lain yang lebih sering menyentuh bola di luar kotak penalti dibanding Penders.

Pendekatan ini selaras dengan kecenderungan Strasbourg yang sangat jarang memainkan umpan panjang. Hanya Paris Saint-Germain dan Barcelona yang memiliki persentase umpan jauh lebih rendah di lima liga top Eropa musim ini.

Namun yang paling menonjol adalah progresi lewat tengah. Strasbourg aktif mengalirkan bola melalui koridor sentral untuk memancing lawan, sebelum mempercepat serangan ketika ruang terbuka.

3 dari 5 halaman

Cepat Saat Celah Terbuka, Tajam di Kotak Penalti

Selebrasi Cole Palmer usai mencetak gol di laga Chelsea melawan Bournemouth pada lanjutan Liga Inggris. (c) AP Photo/Kin Cheung

Selebrasi Cole Palmer usai mencetak gol di laga Chelsea melawan Bournemouth pada lanjutan Liga Inggris. (c) AP Photo/Kin Cheung

Berbeda dengan keluhan sebagian suporter Chelsea terhadap penguasaan bola yang terasa steril di era Maresca, progresi Strasbourg selalu memiliki tujuan akhir yang jelas.

Meski tidak terlalu dominan secara teritorial, Strasbourg justru sangat efektif dalam menciptakan peluang berkualitas tinggi. Ketika struktur lawan mulai terpecah, tempo langsung dipercepat.

Pola umpan satu sentuhan dan pergerakan third-man menjadi ciri khas. Dalam beberapa gol, bek sayap atau wing-back melakukan tusukan ke ruang kosong setelah kombinasi cepat di tengah.

Hasilnya terlihat nyata. Hanya Atletico Madrid, Real Madrid, dan Bayern Munich yang menciptakan peluang “clear shot” lebih banyak dibanding Strasbourg di lima liga top Eropa musim ini.

4 dari 5 halaman

Pressing Tinggi dengan Energi Kolektif

Di luar penguasaan bola, Rosenior juga membentuk Strasbourg sebagai tim yang agresif tanpa bola. Pressing tinggi dilakukan dengan keberanian dan intensitas kolektif.

Dalam sebuah wawancara, Rosenior menegaskan bahwa dominasi tidak hanya soal menguasai bola, tetapi juga mengontrol ruang dan wilayah. Pressing, baginya, adalah cara tercepat untuk kembali menyerang.

Strasbourg kerap melakukan penjagaan satu lawan satu saat mendorong garis tinggi. Pendekatan ini meningkatkan peluang merebut bola di sepertiga akhir lapangan.

Statistik Ligue 1 musim ini menunjukkan lonjakan signifikan dalam perebutan bola tinggi yang berujung peluang. Hanya PSG yang mencatat angka lebih baik dibanding Strasbourg.

5 dari 5 halaman

Bekal Inggris dan Dampak Nyata di Prancis

Meski belum pernah melatih di Premier League, Rosenior bukan sosok asing dengan sepakbola Inggris. Ia pernah menangani Hull City dan Derby County, serta memiliki karier bermain panjang di berbagai klub Inggris.

Di Strasbourg, dampaknya langsung terasa. Klub itu finis di peringkat ketujuh dan lolos ke kompetisi Eropa pada musim pertamanya, setelah dua musim sebelumnya berkutat di papan tengah bawah.

Kini, Rosenior membawa reputasi itu ke Chelsea. Dengan fleksibilitas taktik, keberanian pressing, dan pengalaman membina pemain muda, era baru di Stamford Bridge resmi dimulai.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL