
Bola.net - Chelsea kembali mengambil jalan yang familiar, yaitu memutus kerja sama dengan pelatih di tengah musim dan menunjuk sosok baru untuk memimpin proyek jangka panjang.
Kali ini, pilihan jatuh kepada Liam Rosenior, pelatih muda yang selama 18 bulan terakhir membangun reputasi di Ligue 1 bersama Strasbourg.
Penunjukan ini bukan semata soal hasil instan. Di bawah kepemilikan BlueCo, Chelsea kini lebih menekankan proses, pengembangan aset muda, dan kesinambungan filosofi dibanding sekadar mengejar trofi dalam waktu singkat.
Pertanyaannya kemudian mengerucut pada satu hal utama, seperti apa wajah Chelsea di bawah Rosenior? Dari pendekatan taktik, pilihan formasi, hingga tuntutan mental yang akan ia bawa ke ruang ganti Stamford Bridge.
Filosofi Dasar: Chelsea Sebagai Proyek Jangka Panjang

Rosenior datang ke Chelsea pada momen ketika klub tidak lagi berada dalam mode “menang sekarang atau gagal”. Dengan regulasi PSR Premier League dan FFP UEFA yang membatasi manuver finansial, arah kebijakan klub jelas mengarah pada pembangunan berkelanjutan.
Di sinilah Rosenior dianggap relevan. Selama menangani Strasbourg, ia bekerja dengan skuad termuda di Ligue 1, dengan rata-rata usia 22,6 tahun. Lingkungan itu menuntut kesabaran, konsistensi ide, dan kemampuan mendidik pemain muda tanpa mengorbankan identitas bermain.
Bagi Chelsea, pendekatan tersebut sejalan dengan komposisi skuad saat ini. Rosenior tidak datang sebagai pemadam kebakaran, melainkan sebagai arsitek yang diminta membangun fondasi, bahkan jika hasilnya baru terasa dalam jangka menengah.
Kepercayaan pada Pemain Muda dan Disiplin Ruang Ganti

Rekam jejak Rosenior menunjukkan satu benang merah yang kuat, yaitu kepercayaan pada pemain muda. Di Hull City, ia mengandalkan talenta belia dan membawa klub finis di posisi ketujuh Championship, sebuah capaian yang dianggap melampaui ekspektasi.
Di Strasbourg, pola itu berlanjut. Pemain-pemain muda tidak hanya diberi menit bermain, tetapi juga tanggung jawab taktis yang jelas. Rosenior dikenal menuntut kedewasaan dalam mengambil keputusan, terutama saat tim bermain dari belakang di bawah tekanan lawan.
Ia sendiri merangkum perannya secara lugas dalam wawancara dengan ITV. Kata Rosenior, ia melihat dirinya sebagai manajer sekaligus pelatih, sosok yang bukan hanya mengasah aspek teknis dan taktis, tetapi juga membangun budaya, aturan, dan kedisiplinan.
Pendekatan tersebut diyakini relevan bagi Chelsea yang kerap disorot karena masalah disiplin di atas lapangan.
Formasi dan Pola Main: Lebih Fleksibel dari Era Sebelumnya

Salah satu kritik utama terhadap Enzo Maresca adalah kekakuan taktik. Chelsea kerap terjebak dalam pola 4-2-3-1 dengan full-back inverted, membuat permainan mudah ditebak dan tumpul saat menghadapi low block.
Rosenior membawa pendekatan yang mirip dalam filosofi dasar, tetapi berbeda dalam eksekusi. Ia tetap menuntut timnya membangun serangan dari belakang, dengan keberanian menguasai bola di bawah tekanan. Ia sering menekankan pentingnya keberanian mengambil risiko dan komitmen penuh dari setiap pemain.
biar begitu, perbedaannya terletak pada fleksibilitas. Sepanjang musim 2025/2026, Strasbourg kerap bermain dalam sistem 3-4-3 yang cair, tetapi tidak ragu beralih ke formasi empat bek ketika situasi memang sesuai.
Pendekatan tersebut memberi indikasi bahwa Rosenior tidak terikat pada satu sistem tunggal, sebuah sinyal positif bagi Chelsea yang membutuhkan adaptasi terhadap berbagai tipe lawan.
Intensitas, Risiko, dan Tuntutan Kesabaran Publik Stamford Bridge
Gaya bermain Rosenior bukan tanpa risiko. Bermain dari belakang secara konsisten membuka peluang terjadinya kesalahan fatal, terutama jika kualitas eksekusi tidak maksimal.
Di Strasbourg, pendekatan ini menghasilkan gol-gol tim yang atraktif, tetapi juga momen-momen rapuh ketika lawan berhasil mematahkan pressing awal.
Di Chelsea, tantangannya berlipat ganda. Publik Stamford Bridge dikenal menginginkan tempo cepat dan agresivitas langsung ke depan. Ketika penguasaan bola tinggi tidak diiringi peluang bersih, kesabaran suporter kerap menipis.
Rosenior pada dasarnya hidup dan mati dengan sistem risk-reward ini. Akan ada pertandingan yang terlihat matang dan meyakinkan, tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul laga-laga dengan kesalahan elementer yang mengundang kritik keras.
Ujian Kredibilitas: Dari Strasbourg ke Tekanan Klub Elite
Salah satu momen paling menonjol dari era Rosenior di Strasbourg adalah hasil imbang 3-3 melawan Paris Saint-Germain di Parc des Princes. Selama lebih dari satu jam, timnya mampu mendikte permainan dan bahkan sempat unggul 3-1.
Pujian datang langsung dari Luis Enrique. Pelatih PSG itu menyebut Strasbourg sebagai salah satu tim terbaik di Ligue 1 dalam cara mereka bermain, sebuah pengakuan yang menegaskan kualitas ide Rosenior di level tertinggi.
Namun, Chelsea adalah panggung berbeda. Tekanan konstan, ekspektasi global, dan sorotan media menjadikan setiap keputusan taktis sebagai bahan evaluasi instan.
Sejauh mana Rosenior mampu menerjemahkan prinsip-prinsipnya ke dalam konteks klub elite akan menjadi cerita utama musim ini.
Chelsea di bawah Liam Rosenior kemungkinan besar tidak langsung berubah menjadi mesin kemenangan. Yang lebih realistis adalah lahirnya identitas permainan yang jelas: berani menguasai bola, fleksibel dalam formasi, dan konsisten mengembangkan pemain muda.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Resmi! Chelsea Perkenalkan Liam Rosenior Sebagai Manajer Baru
- Carragher dan Neville Kompak Ragukan Liam Rosenior: Penurunan Standar Chelsea?
- Baru Dipecat Chelsea, Enzo Maresca Merapat ke Manchester United?
- Setelah Kejutan Pemecatan Enzo Maresca, Chelsea Siap Beri Kejutan Lagi: Pecahkan Rekor Transfer Demi Vinicius Junior!
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Mengapa Liam Rosenior Tak Langsung Debut Usai Resmi Tukangi Chelsea?
Liga Inggris 6 Januari 2026, 20:31
-
Liam Rosenior Boyong 3 Staf dari Strasbourg ke Chelsea, Debut Resmi di Piala FA
Liga Inggris 6 Januari 2026, 19:42
LATEST UPDATE
-
Tempat Menonton Man City vs Brighton: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 01:09
-
Prediksi PSG vs Marseille 9 Januari 2026
Liga Eropa Lain 8 Januari 2026, 01:00
-
Tempat Menonton Fulham vs Chelsea: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 00:35
-
BRI Super League: Persebaya Menggebrak dengan Pelatih dan 2 Pemain Asing Baru
Bola Indonesia 7 Januari 2026, 21:57
-
Rodrygo Naik Level: Dari Cadangan Jadi Andalan Baru Real Madrid
Liga Spanyol 7 Januari 2026, 21:34
-
AC Milan Pilih Jadi Penonton Persaingan Scudetto Serie A 2025/2026
Liga Italia 7 Januari 2026, 20:48
-
Tiket Early Bird KLBB 2026 Ludes Secepat Kilat, Habis Tak Sampai Satu Jam
Lain Lain 7 Januari 2026, 20:38
-
Live Streaming Parma vs Inter - Link Nonton Serie A/Liga Italia di Vidio
Liga Italia 7 Januari 2026, 19:45
-
Ole Gunnar Solskjaer Muncul di Cheshire, Segera Kembali ke Manchester United?
Liga Inggris 7 Januari 2026, 19:42
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58























KOMENTAR