Tor Monitor, Liam Rosenior! Menerka Arah Taktik Sang Pelatih untuk Skuad Muda Chelsea

Tor Monitor, Liam Rosenior! Menerka Arah Taktik Sang Pelatih untuk Skuad Muda Chelsea
Liam Rosenior dikenalkan sebagai pelatih baru Chelsea musim 2025/2026 (c) Official Chelsea

Bola.net - Chelsea kembali mengambil jalan yang familiar, yaitu memutus kerja sama dengan pelatih di tengah musim dan menunjuk sosok baru untuk memimpin proyek jangka panjang.

Kali ini, pilihan jatuh kepada Liam Rosenior, pelatih muda yang selama 18 bulan terakhir membangun reputasi di Ligue 1 bersama Strasbourg.

Penunjukan ini bukan semata soal hasil instan. Di bawah kepemilikan BlueCo, Chelsea kini lebih menekankan proses, pengembangan aset muda, dan kesinambungan filosofi dibanding sekadar mengejar trofi dalam waktu singkat.

Pertanyaannya kemudian mengerucut pada satu hal utama, seperti apa wajah Chelsea di bawah Rosenior? Dari pendekatan taktik, pilihan formasi, hingga tuntutan mental yang akan ia bawa ke ruang ganti Stamford Bridge.

1 dari 5 halaman

Filosofi Dasar: Chelsea Sebagai Proyek Jangka Panjang

Aksi Liam Rosenior saat masih menangani Strasbourg (c) Official Chelsea

Aksi Liam Rosenior saat masih menangani Strasbourg (c) Official Chelsea

Rosenior datang ke Chelsea pada momen ketika klub tidak lagi berada dalam mode “menang sekarang atau gagal”. Dengan regulasi PSR Premier League dan FFP UEFA yang membatasi manuver finansial, arah kebijakan klub jelas mengarah pada pembangunan berkelanjutan.

Di sinilah Rosenior dianggap relevan. Selama menangani Strasbourg, ia bekerja dengan skuad termuda di Ligue 1, dengan rata-rata usia 22,6 tahun. Lingkungan itu menuntut kesabaran, konsistensi ide, dan kemampuan mendidik pemain muda tanpa mengorbankan identitas bermain.

Bagi Chelsea, pendekatan tersebut sejalan dengan komposisi skuad saat ini. Rosenior tidak datang sebagai pemadam kebakaran, melainkan sebagai arsitek yang diminta membangun fondasi, bahkan jika hasilnya baru terasa dalam jangka menengah.

2 dari 5 halaman

Kepercayaan pada Pemain Muda dan Disiplin Ruang Ganti

Manajer baru Chelsea, Liam Rosenior (c) Chelsea FC Official

Manajer baru Chelsea, Liam Rosenior (c) Chelsea FC Official

Rekam jejak Rosenior menunjukkan satu benang merah yang kuat, yaitu kepercayaan pada pemain muda. Di Hull City, ia mengandalkan talenta belia dan membawa klub finis di posisi ketujuh Championship, sebuah capaian yang dianggap melampaui ekspektasi.

Di Strasbourg, pola itu berlanjut. Pemain-pemain muda tidak hanya diberi menit bermain, tetapi juga tanggung jawab taktis yang jelas. Rosenior dikenal menuntut kedewasaan dalam mengambil keputusan, terutama saat tim bermain dari belakang di bawah tekanan lawan.

Ia sendiri merangkum perannya secara lugas dalam wawancara dengan ITV. Kata Rosenior, ia melihat dirinya sebagai manajer sekaligus pelatih, sosok yang bukan hanya mengasah aspek teknis dan taktis, tetapi juga membangun budaya, aturan, dan kedisiplinan.

Pendekatan tersebut diyakini relevan bagi Chelsea yang kerap disorot karena masalah disiplin di atas lapangan.

3 dari 5 halaman

Formasi dan Pola Main: Lebih Fleksibel dari Era Sebelumnya

Ekspresi Cole Palmer di laga Manchester City vs Chelsea, Senin (05/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Ekspresi Cole Palmer di laga Manchester City vs Chelsea, Senin (05/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Salah satu kritik utama terhadap Enzo Maresca adalah kekakuan taktik. Chelsea kerap terjebak dalam pola 4-2-3-1 dengan full-back inverted, membuat permainan mudah ditebak dan tumpul saat menghadapi low block.

Rosenior membawa pendekatan yang mirip dalam filosofi dasar, tetapi berbeda dalam eksekusi. Ia tetap menuntut timnya membangun serangan dari belakang, dengan keberanian menguasai bola di bawah tekanan. Ia sering menekankan pentingnya keberanian mengambil risiko dan komitmen penuh dari setiap pemain.

biar begitu, perbedaannya terletak pada fleksibilitas. Sepanjang musim 2025/2026, Strasbourg kerap bermain dalam sistem 3-4-3 yang cair, tetapi tidak ragu beralih ke formasi empat bek ketika situasi memang sesuai.

Pendekatan tersebut memberi indikasi bahwa Rosenior tidak terikat pada satu sistem tunggal, sebuah sinyal positif bagi Chelsea yang membutuhkan adaptasi terhadap berbagai tipe lawan.

4 dari 5 halaman

Intensitas, Risiko, dan Tuntutan Kesabaran Publik Stamford Bridge

Gaya bermain Rosenior bukan tanpa risiko. Bermain dari belakang secara konsisten membuka peluang terjadinya kesalahan fatal, terutama jika kualitas eksekusi tidak maksimal.

Di Strasbourg, pendekatan ini menghasilkan gol-gol tim yang atraktif, tetapi juga momen-momen rapuh ketika lawan berhasil mematahkan pressing awal.

Di Chelsea, tantangannya berlipat ganda. Publik Stamford Bridge dikenal menginginkan tempo cepat dan agresivitas langsung ke depan. Ketika penguasaan bola tinggi tidak diiringi peluang bersih, kesabaran suporter kerap menipis.

Rosenior pada dasarnya hidup dan mati dengan sistem risk-reward ini. Akan ada pertandingan yang terlihat matang dan meyakinkan, tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul laga-laga dengan kesalahan elementer yang mengundang kritik keras.

5 dari 5 halaman

Ujian Kredibilitas: Dari Strasbourg ke Tekanan Klub Elite

Salah satu momen paling menonjol dari era Rosenior di Strasbourg adalah hasil imbang 3-3 melawan Paris Saint-Germain di Parc des Princes. Selama lebih dari satu jam, timnya mampu mendikte permainan dan bahkan sempat unggul 3-1.

Pujian datang langsung dari Luis Enrique. Pelatih PSG itu menyebut Strasbourg sebagai salah satu tim terbaik di Ligue 1 dalam cara mereka bermain, sebuah pengakuan yang menegaskan kualitas ide Rosenior di level tertinggi.

Namun, Chelsea adalah panggung berbeda. Tekanan konstan, ekspektasi global, dan sorotan media menjadikan setiap keputusan taktis sebagai bahan evaluasi instan.

Sejauh mana Rosenior mampu menerjemahkan prinsip-prinsipnya ke dalam konteks klub elite akan menjadi cerita utama musim ini.

Chelsea di bawah Liam Rosenior kemungkinan besar tidak langsung berubah menjadi mesin kemenangan. Yang lebih realistis adalah lahirnya identitas permainan yang jelas: berani menguasai bola, fleksibel dalam formasi, dan konsisten mengembangkan pemain muda.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL