Percaya Proses! Slogan Arsenal yang Dulu Jadi Ejekan, Sekarang Jadi Simbol Keberhasilan

Percaya Proses! Slogan Arsenal yang Dulu Jadi Ejekan, Sekarang Jadi Simbol Keberhasilan
Pemain Arsenal merayakan gol yang dicetak Viktor Gyokeres dalam pertandingan Premier League melawan Fulham, Sabtu (2/5/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Kin Cheung

Bola.net - Arsenal akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun untuk kembali menjadi juara Premier League. Kepastian itu datang setelah Manchester City bermain imbang dengan Bournemouth (1-1) pada Rabu 20 Mei 2026, hasil yang memastikan pasukan Mikel Arteta finis di puncak klasemen.

Kesuksesan ini terasa jauh lebih besar karena Arsenal sempat berkali-kali gagal di momen penentuan dalam beberapa musim terakhir. Namun, klub tetap memberi dukungan penuh kepada Arteta, bahkan ketika kritik terhadap proyeknya semakin keras terdengar.

Kini, slogan “Trust the Process” yang dulu sering dijadikan bahan ejekan justru berubah menjadi simbol keberhasilan Arsenal.

Arteta membuktikan bahwa kesabaran, keteguhan, dan perubahan pendekatan akhirnya membawa The Gunners kembali ke singgasana Inggris.

1 dari 5 halaman

Kesabaran Arsenal yang Akhirnya Berbuah Gelar

Pemain Arsenal, Riccardo Calafiori, berpelukan dengan Piero Hincapie setelah pertandingan Premier League kontra Burnley, Selasa (19/5/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Pemain Arsenal, Riccardo Calafiori, berpelukan dengan Piero Hincapie setelah pertandingan Premier League kontra Burnley, Selasa (19/5/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Beberapa tahun lalu, Gary Neville pernah menyebut pencapaian terbesar Arteta di Arsenal bukanlah trofi Piala FA 2020, melainkan kemampuannya tetap bertahan sebagai pelatih meski gagal meraih gelar besar dalam lima musim berikutnya.

Komentar itu menggambarkan betapa besarnya kesabaran yang diberikan manajemen Arsenal kepada mantan asisten Pep Guardiola tersebut. Di tengah tekanan hasil dan ekspektasi tinggi, klub tetap mendukung Arteta, terutama lewat investasi besar di bursa transfer.

Keputusan itu akhirnya terbukti tepat. Arsenal memang beberapa kali nyaris juara tetapi selalu gagal di tikungan akhir. Namun musim ini mereka berhasil melewati garis finis, sekaligus mengakhiri puasa gelar liga yang telah berlangsung sejak era Arsene Wenger.

Arteta sendiri sejak awal percaya bahwa proyeknya hanya membutuhkan waktu. Meski prosesnya lebih lama dari perkiraan, pelatih asal Spanyol itu akhirnya memenuhi janjinya untuk membawa Arsenal kembali menjadi juara.

2 dari 5 halaman

Arsenal Bangkit dari Masa Kelam

Pemain Arsenal merayakan gol dalam pertandingan Premier League melawan West Ham, Minggu (10/5/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Pemain Arsenal merayakan gol dalam pertandingan Premier League melawan West Ham, Minggu (10/5/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Saat Arteta datang pada akhir 2019, kondisi Arsenal memang sedang jauh dari ideal. Era akhir Arsene Wenger dipenuhi frustrasi, sementara masa kepelatihan Unai Emery gagal mengangkat performa maupun suasana klub.

Bahkan sebelum resmi menjadi pelatih Arsenal, Arteta mengaku sudah melihat situasi buruk itu secara langsung ketika datang ke Emirates bersama Manchester City. Atmosfer stadion yang sepi membuatnya sadar bahwa klub sedang kehilangan arah.

“Gambaran itu, perasaan di stadion, ketika 50 persen kursi kosong, benar-benar membekas bagi saya,” kata Arteta.

“Saya berkata, ‘Dengan kondisi seperti ini, tidak ada proyek yang bisa berjalan.’ Lalu situasinya menjadi lebih buruk karena Covid datang dan stadion menjadi kosong total. Kami harus membangun semuanya kembali.”

Tantangan itu membuat pekerjaan Arteta jauh lebih berat dibanding sekadar membentuk tim kompetitif. Ia harus menghidupkan kembali koneksi antara klub, pemain, dan suporter yang sempat hilang.

3 dari 5 halaman

Dari Sepak Bola Indah ke Mentalitas Menang

Selebrasi Bukayo Saka usai laga Arsenal vs Atletico Madrid di leg kedua semifinal Liga Champions 2025/2026, Rabu (6/5/2026). (c) AP Photo/Alastair Grant

Selebrasi Bukayo Saka usai laga Arsenal vs Atletico Madrid di leg kedua semifinal Liga Champions 2025/2026, Rabu (6/5/2026). (c) AP Photo/Alastair Grant

Pada awal proyeknya, Arteta banyak dianggap sebagai versi mini Guardiola. Arsenal bermain dengan dominasi penguasaan bola dan membangun serangan dari belakang, terlebih setelah kedatangan Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko dari Manchester City.

Meski begitu, dalam tiga musim terakhir, terutama musim ini, Arsenal berubah drastis. Arteta mulai meninggalkan idealisme sepak bola indah dan memilih pendekatan yang jauh lebih pragmatis.

Arsenal menjadi tim yang sangat kuat dalam duel fisik, disiplin bertahan, serta efektif memanfaatkan bola mati. Mereka juga kerap memainkan tempo pertandingan sesuai kebutuhan, termasuk memperlambat permainan ketika sedang unggul.

Perubahan itu membuat Arsenal sering dibandingkan dengan tim-tim Jose Mourinho ketimbang Manchester City racikan Guardiola. Banyak lawan dan pengamat merasa The Gunners terlalu sinis dalam bermain.

Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, termasuk salah satu sosok yang paling keras mengkritik pendekatan Arsenal setelah timnya kalah 0-1 dari The Gunners pada Maret lalu.

4 dari 5 halaman

Kritik Datang, Trofi Tetap Jadi Jawaban

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, bereaksi dalam pertandingan Premier League melawan Bournemouth di London, Inggris, Sabtu (11/4/2026). (c) AP Photo/Dave Shopland

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, bereaksi dalam pertandingan Premier League melawan Bournemouth di London, Inggris, Sabtu (11/4/2026). (c) AP Photo/Dave Shopland

Meski gaya bermain Arsenal menuai kritik, hasil akhirnya tetap tidak bisa dibantah. Thierry Henry bahkan mengakui dirinya sempat meragukan proyek Arteta ketika Arsenal terus gagal di momen penting.

Legenda Arsenal itu mempertanyakan arah perkembangan tim ketika slogan “Trust the Process” terus digaungkan tanpa trofi besar. Namun musim ini pandangannya berubah.

Henry menilai Arsenal kini memiliki kemampuan untuk “menang dengan cara buruk”, sesuatu yang dulu sering dianggap tidak dimiliki The Gunners. Menurutnya, tim Arsenal sebelumnya terlalu lembut dan mudah kehilangan keunggulan.

“Pertanyaannya dulu adalah, ‘Bisakah Anda menang dengan cara buruk?’ Sekarang justru itulah yang dilakukan tim ini,” kata Henry.

“Saya mungkin tidak menyukai semuanya, tetapi saya menghormatinya. Setelah 22 tahun, apa pun caranya, saya akan tetap menghormatinya.”

Henry juga menegaskan tidak ada satu definisi mutlak tentang “The Arsenal Way”. Tim Arsenal era Wenger sangat berbeda dengan tim George Graham yang terkenal lewat kemenangan tipis 1-0, tetapi keduanya sama-sama sukses membawa gelar.

5 dari 5 halaman

Arteta Menemukan Formula Juara

Arsenal musim ini mungkin akan dikenang banyak orang sebagai “Set Piece FC” karena kekuatan mereka dalam situasi bola mati. Namun lebih dari itu, mereka juga akan diingat sebagai tim yang mengakhiri salah satu puasa gelar paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris.

Arteta berhasil membentuk tim yang disiplin, solid, kuat secara fisik, pekerja keras, dan memiliki mentalitas kompetitif tinggi. Arsenal tidak selalu tampil indah, tetapi mereka tahu bagaimana cara memenangkan pertandingan.

Pendekatan itu membuat Arsenal menjadi representasi sempurna Premier League modern yang semakin keras dan penuh pertarungan fisik. Proses yang dijalani memang tidak selalu cantik dipandang, tetapi terbukti efektif.

"Kita minta Mikel untuk mencari cara. Dan dia melakukannya," kata Henry.

Pada akhirnya, itulah alasan terbesar mengapa Arteta kini mendapatkan rasa hormat yang dulu sempat diragukan banyak orang.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL