
Bola.net - Como resmi menutup musim dengan sejarah baru setelah memastikan tiket Liga Champions untuk pertama kalinya. Kepastian itu datang usai kemenangan telak 4-1 atas Cremonese, Senin (25/5/2026) dini hari, yang sekaligus dipengaruhi hasil buruk AC Milan di San Siro.
Di lapangan, tim asuhan Cesc Fabregas tampil tenang di tengah tekanan pekan terakhir. Fabregas sendiri memilih tak terlalu memikirkan hasil laga rival dan meminta timnya fokus pada pekerjaan utama: menang. Cara sederhana itu justru berbuah hasil besar untuk I Lariani.
Bagi Como, pencapaian ini terasa seperti lompatan jauh. Beberapa tahun lalu, klub ini bahkan masih berjuang membenahi fasilitas dasar. Kini, mereka justru berdiri di panggung tertinggi sepak bola Eropa.
Fabregas menyebut perjalanan ini sebagai karya kolektif dari skuad muda yang ia bangun pelan-pelan. Ia juga mulai membuka cerita tentang proses di balik kesuksesan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Mahakarya Skuad Muda Como
Kelolosan Como ke Liga Champions mengejutkan banyak pihak, bukan hanya karena hasilnya, tetapi juga karena komposisi skuadnya. Fabregas banyak mengandalkan pemain muda sepanjang musim.
FULL TOME REACTION!!! WE ARE IN CHAMPIONS LEAGUE!!! pic.twitter.com/wEp1xWvqaE
— Como1907 (@Como_1907) May 24, 2026
Menurutnya, para pemain itu berkembang cepat karena etos kerja yang kuat. Di momen penting, mereka mampu menjaga standar permainan dan tidak runtuh di bawah tekanan. Kombinasi disiplin dan keberanian jadi fondasi utama tim ini.
“Pencapaian ini berada di urutan teratas karena cara kami meraihnya. Ini adalah skuad yang penuh dengan anak-anak, kami memiliki 15 pemain yang semuanya berusia di bawah 23 tahun, jadi ini adalah mahakarya dari seluruh tim,” ujar Fabregas.
“Saya hanya bisa angkat topi kepada para pemain ini, karena kami para pelatih mencoba mendorong mereka, memberikan pilihan, memberi tahu mereka di mana ruangnya, tetapi merekalah yang melakukannya di lapangan,” tambahnya.
Revolusi Fasilitas dari Ruang Belakang Bar

Di balik hasil besar ini, Como sebenarnya datang dari titik yang jauh lebih sederhana. Saat Fabregas pertama kali terlibat, kondisi klub masih terbatas, bahkan dalam hal fasilitas dasar.
Manajemen kemudian memberi ruang penuh kepada Fabregas untuk membangun ulang struktur sepak bola klub. Dari situ, perlahan muncul fasilitas latihan yang lebih layak hingga sistem kerja yang lebih profesional. Hasilnya kini mulai terlihat jelas di level Eropa.
“Saya selalu mengatakan bahwa saya harus membuat banyak keputusan di sini, karena saya praktis diberi kunci untuk urusan sepak bola, dan praktis tidak ada apa-apa ketika kami memulai,” kata Fabregas.
“Saya berbicara dengan dua fisioterapis hari ini yang bersama kami empat tahun lalu ketika saya datang untuk bermain, kami tidak memiliki lapangan latihan, jadi kami melakukan pijat di atas meja di ruang belakang sebuah bar! Sekarang, kami berada di Liga Champions,” lanjutnya.
Motivasi Unik Lewat Video Balap Sepeda
“You are the reason this is so beautiful. I thank you for the rest of my life because this is probably the best group I will ever coach in my future. I have no doubt you will be remembered forever.” - @cesc4official full time speech 🥹💙 pic.twitter.com/QFivDBhnvy
— Como1907 (@Como_1907) May 24, 2026
Perjalanan Como musim ini tidak selalu mulus. Mereka sempat melalui periode sulit dengan hasil yang tidak stabil, termasuk dua kekalahan beruntun dan hasil imbang yang mengecewakan.
Di situasi itu, Fabregas mencoba pendekatan yang tidak biasa menjelang laga melawan Parma. Ia menggunakan pendekatan visual untuk memulihkan mental pemain. Cara sederhana, tapi cukup efektif mengubah suasana ruang ganti.
“Sepanjang hidup saya, bahkan saat melakukan pergantian pemain, saya hanya mengandalkan perasaan tentang berbagai hal, dan saya mendapat perasaan sehari sebelum kami bermain melawan Parma bahwa dengan dua kemenangan, kami akan berada di Liga Champions,” ujar Fabregas kepada DAZN Italia.
“Saya menunjukkan kepada para pemain sebuah video tentang seorang pengendara sepeda yang berada di posisi keenam, tetapi dia mulai menekan pedal pada sprint terakhir dan dia memenangkan perlombaan. Itulah yang kami lakukan di musim ini,” jelasnya.
Nyaman Bersama Como
Kesuksesan ini membuat nama Fabregas mulai diperhitungkan di level lebih tinggi. Namun, ia tidak terlihat tergoda untuk pergi dalam waktu dekat.
Menurutnya, proyek di Como masih jauh dari selesai dan justru menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kehadiran pemain muda seperti Nico Paz juga memperkuat keyakinannya untuk bertahan lebih lama di Italia.
“Saya sangat bahagia di sini, jadi memang benar bahwa momentum itu penting, tetapi saya sangat bahagia dengan apa yang kami lakukan di sini,” tegas Fabregas.
“Ini seperti pergi ke universitas sepak bola setiap hari, karena saya harus membuat begitu banyak keputusan. Hidup ini panjang, saya baru saja menginjak usia 39 tahun beberapa minggu yang lalu… jalan masih panjang,” pungkasnya.
Ke depan, Como mulai bersiap menghadapi tantangan baru di Liga Champions. Bursa transfer musim panas akan menjadi langkah penting untuk memperdalam skuad, karena level kompetisi yang menanti jelas jauh lebih berat dari musim ini.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Gawat! Lionel Messi Cedera Jelang Piala Dunia 2026
Bola Dunia Lainnya 25 Mei 2026, 09:16
-
Luis Suarez Hattrick, Inter Miami Bungkam Philadelphia 6-4
Bola Dunia Lainnya 25 Mei 2026, 09:07
-
Jadwal Lengkap, Hasil Balapan, dan Klasemen Formula 1 2026
Otomotif 25 Mei 2026, 08:32
-
Klasemen Pembalap Formula 1 2026
Otomotif 25 Mei 2026, 08:32
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00
-
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manchester City
Editorial 19 Mei 2026, 09:39
-
5 Pemain yang Bisa Jadi Fondasi Jose Mourinho di Real Madrid
Editorial 18 Mei 2026, 12:25























KOMENTAR