Mesir Itu Tentang Chemistry dan Mentalitas, Bukan Cuma Mohamed Salah

Mesir Itu Tentang Chemistry dan Mentalitas, Bukan Cuma Mohamed Salah
Pemain Mesir Mohamed Salah (10) bereaksi setelah laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Australia vs Mesir di Arlington, Texas, dekat Dallas, Jumat, 3 Juli 2026 (c) AP Photo/Sam Hodde

Bola.net - Nama Mohamed Salah hampir selalu menjadi pusat perhatian ketika Mesir memasuki lapangan. Namun, perjalanan bersejarah Mesir hingga babak 16 besar Piala Dunia 2026 ternyata berdiri di atas fondasi yang jauh lebih kokoh daripada sekadar kehebatan sang kapten.

Mesir datang sebagai penantang saat bertemu Argentina. Di balik status lawan yang lebih diunggulkan, The Pharaohs membawa identitas permainan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Pandangan itu datang dari Tito Garcia Sanjuan, mantan asisten pelatih Mesir pada era Javier Aguirre. Ia pernah berada di dalam tim dan memahami bagaimana karakter skuad tersebut dibentuk dari waktu ke waktu.

Menurut Garcia Sanjuan, kekuatan terbesar Mesir bukan hanya berada pada kualitas individu. Mentalitas, fleksibilitas taktik, dan kuatnya kompetisi domestik menjadi alasan utama mengapa Mesir mampu melangkah sejauh ini.

1 dari 3 halaman

Mentalitas yang Terbentuk Selama Puluhan Tahun

Garcia Sanjuan menilai daya saing telah menjadi identitas Mesir selama tiga dekade terakhir. Karakter itu membuat para pemain tidak mudah kehilangan kepercayaan diri meski menghadapi lawan dengan reputasi lebih besar.

"Mesir memiliki sesuatu yang menjadi ciri khas tim ini selama 30 tahun terakhir. Semuanya tentang daya saing. Bagi saya, mereka adalah sebuah tim yang sesungguhnya. Argentina memang tampak sebagai favorit, tetapi saya tidak akan terkejut jika Mesir mampu memberikan perlawanan sengit. Ini tidak akan mudah bagi Argentina."

Karakter tersebut juga terlihat dari kemampuan Mesir beradaptasi sepanjang pertandingan. Mereka dapat berganti dari empat bek menjadi lima bek sesuai kebutuhan tanpa kehilangan keseimbangan permainan.

Garcia Sanjuan melihat para pemain Mesir tumbuh dari budaya sepak bola jalanan. Kebiasaan itu membentuk naluri untuk memperjuangkan setiap bola dengan penuh semangat.

2 dari 3 halaman

Salah Tetap Menjadi Wajah Mesir

Meski mengedepankan kekuatan kolektif, Garcia Sanjuan tidak mengurangi arti penting Mohamed Salah. Penyerang berusia 34 tahun itu tetap menjadi pemimpin yang memberi pengaruh besar, baik di dalam maupun di luar lapangan.

"Mereka bisa mencetak sejarah. Bagi semua orang, terutama Mo, ini kemungkinan menjadi Piala Dunia terakhirnya dan ia pantas mendapatkan pengakuan."

Garcia Sanjuan juga memiliki pengalaman pribadi saat bekerja bersama Salah. Ia mengingat bagaimana Salah tetap rendah hati ketika berada di puncak performanya.

Menurut Garcia Sanjuan, Salah merupakan pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap. Kemampuan itu membuat Mesir selalu memiliki harapan di setiap pertandingan besar.

3 dari 3 halaman

Liga Domestik Menjadi Pondasi Kekuatan

Perjalanan Mesir menuju fase gugur juga tidak lepas dari kuatnya kompetisi domestik. Sebanyak 17 dari 26 pemain dalam skuad Hossam Hassan berasal dari Liga Primer Mesir.

Al Ahly menjadi penyumbang pemain terbanyak dengan delapan nama. Kehadiran mereka membuat chemistry antarpemain sudah terbentuk sebelum memperkuat tim nasional.

Garcia Sanjuan juga menilai Zamalek dan Pyramids ikut meningkatkan kualitas persaingan dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan itu melahirkan pemain yang siap menghadapi tekanan di panggung internasional.

Ketika banyak orang melihat Mesir melalui sosok Mohamed Salah, Garcia Sanjuan melihat cerita yang lebih besar. Di balik sang bintang, terdapat tim yang dibangun dari kebersamaan, karakter, dan fondasi sepak bola domestik yang terus berkembang hingga mampu membawa Mesir menantang Argentina di Piala Dunia 2026.

Sumber: FIFA


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL