
Bola.net - Timnas Indonesia harus bertekuk lutut kepada Irak pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia Grup F. Dalam pertandingan yang dihelat di Gelora Bung Karno, Kamis (06/06), Skuad Garuda kalah dua gol tanpa balas. Dua gol Irak pada laga ini dicetak Aymen Hussein dan Ali Jasim.
Kekalahan Indonesia ini terbilang tak mengejutkan. Pasalnya, secara permainan, mereka tak tampil terlalu bagus. Secara rata-rata, performa penggawa tim besutan Shin Tae-yong ini hanya mendapat nilai 6,06.
Namun, kendati gagal mengemas poin, laga ini tetap sangat berharga bagi Skuad Garuda. Mereka bisa mendapat banyak pelajaran dari performa dan capaian pada laga ini.
Apa saja pelajaran yang didapat Timnas Indonesia kala diremukkan Irak? Berikut empat di antaranya.
Finishing Lemah

Pada pertandingan ini, Indonesia bukannya nihil peluang. Skuad Garuda sempat melepas delapan tembakan.
Namun, dari semua sepakan tersebut, menurut laman statistik Lapangbola, hanya ada satu tembakan tepat sasaran. Satu tembakan melenceng dari sasaran dan enam tembakan sisanya diblok pemain Irak.
Terlepas dari jumlah sepakan yang diblok, jumlah sepakan on target para penggawa Timnas Indonesia masih sangat kurang. Bukan tak mungkin jika ada lebih banyak sepakan tepat sasaran, Indonesia bakal bisa mencetak gol ke gawang Irak.
Tak cuma soal kuantitas sepakan tepat sasaran, kualitas peluang Indonesia pada laga ini juga masih kurang. Hal ini tak lepas dari keberhasilan pemain Irak mengadang serangan-serangan Indonesia, terutama yang memiliki nilai expected goals (xG) tinggi.
Selain membenahi akurasi tembakan, yang perlu dibenahi adalah skema serangan Skuad Garuda, yang diharapkan bisa meningkatkan nilai xG peluang yang dimiliki. Ujungnya, apalagi jika bukan untuk meningkatkan kemungkinan Indonesia mencetak gol ke gawang lawan.
Tidak Ada Distributor Bola

Pada laga ini, lini tengah Indonesia tak banyak berdaya. Padahal, lini ini merupakan ruang mesin yang sangat krusial dalam permainan sebuah tim.
Pada laga ini, pengatur permainan Indonesia, Thom Haye, hanya mampu melepas 35 umpan, yang 25 di antaranya akurat. Tentu ini sangat jauh dari standar Sang Profesor, julukan Haye.
Hal ini, bukan semata karena Haye tampil buruk. Pemain 29 tahun tersebut memang mendapat pengawalan ketat sepanjang penampilannya. Para penggawa Irak seakan paham bahwa Haye merupakan otak permainan Indonesia yang perlu dimatikan.
Kondisi ini membaik bagi Skuad Garuda setelah masuknya Ivar Jenner. Tak cuma mampu menjaga kedalaman, Jenner juga piawai mendistribusikan bola. Dengan kemampuannya ini, ia bisa mengisi tugas yang semestinya dijalankan Haye.
Dengan kondisi ini, Jenner tampaknya cocok untuk dipasang sebagai tandem Haye ke depannya. Jika Haye dimatikan, masih ada Jenner yang bisa mengisi peran distributor permainan Skuad Garuda.
Geser Jordi Amat

Jordi Amat bermain tak terlalu bagus pada laga ini. Ini bukan kali pertama pemain 32 tahun tersebut gagal menampilkan performa terbaiknya kala memperkuat Timnas Indonesia.
Bisa jadi, hal tersebut tak lepas dari kira menuanya Amat. Hal ini bisa membuat kecepatan dan respons pemain berdarah Spanyol ini tergerus.
Saat ini, Amat juga memperkuat Johor Darul Tazim di Malaysia. Hal ini bisa jadi performa Amat sudah tergerus, sehingga tak lagi 'layak' berkompetisi di liga-liga kelas satu Eropa.
Selain itu, berkompetisi di liga yang tak terlalu intens bisa jadi juga kian mempercepat turunnya performa Amat.
Tentu, Amat masih layak menjadi salah satu penggawa Timnas Indonesia. Namun, sebagai pilihan utama di jantung pertahanan, Shin Tae-yong harus mencari alternatif lain.
Kurangi Salah Sendiri

Pertandingan kontra Irak ini bisa jadi merupakan pameran blunder-blunder penggawa Skuad Garuda. Pelanggaran yang berbuah kartu merah bagi Jordi Amat juga pelanggaran Ernando Ari merupakan contoh kesalahan-kesalahan penggawa Indonesia pada laga kontra Irak.
Selain itu, yang paling mencolok, adalah kesalahan Ernando Ari dalam menerima bola back-pass jelang pengujung babak kedua. Terlebih lagi, hal ini berbuah gol kedua Irak.
Memang, melakukan kesalahan merupakan bagian tak terpisahkan dalam permainan sepak bola. Namun, harus tetap ada upaya untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan ini.
(Dendy Gandakusumah/Bola.net)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Gokil! Bos Besar Pastikan AC Milan Bakal Jor-joran di Bursa Transfer Januari 2027
Liga Italia 30 Oktober 2026, 17:28
-
Sudah Tidak Bahagia di MU, Barcelona Siap Jadi Rumah Baru untuk Lisandro Martinez
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 17:00
-
Jorge Martin Resmi Bisa Balapan di MotoGP Malaysia 2026
Otomotif 30 Oktober 2026, 16:50
-
AC Milan Mulai Linglung, Apakah Ruben Amorim Bakal Dipecat?
Liga Italia 30 Oktober 2026, 16:48
-
Hasil FP1 MotoGP Malaysia 2026: Marc Marquez Tercepat Meski Sempat Terjadi Insiden
Otomotif 30 Oktober 2026, 16:40
-
Sesko Cedera, MU Pertimbangkan Gaet Striker Timnas Inggris Ini
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 16:33
-
Jadwal Liga Inggris di SCTV Pekan Ini, 31 Oktober - 3 November 2026
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 16:32
-
Jadwal Lengkap MotoGP Malaysia 2026 di Sepang, 30 Oktober - 1 November 2026
Otomotif 30 Oktober 2026, 16:06
-
Link Streaming Java United vs Bhayangkara FC di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 15:17
-
Prediksi Barcelona vs Alaves 1 November 2026
Liga Spanyol 30 Oktober 2026, 14:26
-
Prediksi Milan vs Inter 1 November 2026
Liga Italia 30 Oktober 2026, 13:29
-
Prediksi Bayern vs Dortmund 1 November 2026
Bundesliga 30 Oktober 2026, 12:31
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18























KOMENTAR