Harga Mahal Strategi Ultradefensif Arteta di Final Liga Champions

Harga Mahal Strategi Ultradefensif Arteta di Final Liga Champions
Ekspresi pemain Arsenal usai kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions 2025/2026 (c) AP Photo/Andreea Alexandru

Bola.net - Arsenal harus kembali menunda mimpi meraih gelar Liga Champions pertama setelah kalah dari PSG di final, Sabtu (30/5/2026) malam. Tim asal London itu tumbang lewat adu penalti setelah bermain imbang sepanjang waktu normal dan perpanjangan waktu. Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena mereka sempat berada di posisi yang menjanjikan.

Dua kegagalan eksekutor penalti menjadi titik balik yang menentukan hasil akhir. Padahal, David Raya sempat menjaga harapan Arsenal tetap hidup dengan menggagalkan satu tendangan pemain PSG.

Dari tribun kehormatan, Arsene Wenger menyaksikan langsung drama tersebut. Mantan manajer legendaris Arsenal itu terlihat tegang saat duduk bersama Luis Figo, seolah kembali mengingat kekecewaan yang pernah dirasakan klubnya di final dua dekade lalu.

Di atas lapangan, pendekatan yang dipilih Mikel Arteta menjadi sorotan. Arsenal tampil sangat hati-hati sejak awal dan perlahan kehilangan kendali permainan seiring berjalannya pertandingan.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

1 dari 4 halaman

Kejutan Gol Cepat yang Mengubah Pendekatan

Kai Havertz merayakan golnya pada laga final Liga Champions 2025/2026 antara Arsenal vs PSG (c) AP Photo

Kai Havertz merayakan golnya pada laga final Liga Champions 2025/2026 antara Arsenal vs PSG (c) AP Photo

Arsenal membuka keunggulan saat laga baru berjalan enam menit. Kai Havertz memanfaatkan bola hasil intersepsi Leandro Trossard untuk membawa timnya unggul lebih dulu.

Gol itu membuat Havertz masuk dalam daftar pemain yang pernah mencetak gol final Eropa untuk dua klub berbeda, menyamai catatan Mario Mandzukic. Namun, pencapaian tersebut akhirnya kehilangan makna karena tidak diikuti kemenangan.

Setelah unggul cepat, Arsenal memilih bermain lebih konservatif. Mereka bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran hingga pertandingan berakhir.

Pilihan Arteta terlihat jelas dari susunan pemain yang diturunkannya. Viktor Gyokeres memulai laga dari bangku cadangan, sementara Arsenal lebih banyak mengandalkan pemain dengan karakter defensif untuk menjaga keunggulan.

2 dari 4 halaman

Harga Mahal Pendekatan Negatif

Duel antara penyerang Arsenal, Kai Havertz dengan bek PSG, Marquinhos di laga Champions League final, 30 Mei 2026. (c) AP Photo/Andreea Alexandru

Duel antara penyerang Arsenal, Kai Havertz dengan bek PSG, Marquinhos di laga Champions League final, 30 Mei 2026. (c) AP Photo/Andreea Alexandru

PSG perlahan mengambil alih pertandingan setelah tertinggal. Arsenal hanya menguasai bola sebesar 24,7 persen, angka yang menggambarkan betapa dominannya tim asal Prancis tersebut.

Perbedaan itu terlihat jelas dari statistik operan. PSG mencatatkan 837 umpan sepanjang laga, sementara Arsenal hanya mampu membukukan 199 operan sukses.

Menariknya, para pemain Arsenal justru menempuh jarak lari yang lebih jauh. Mereka dipaksa bekerja keras tanpa bola untuk menutup ruang dan meredam serangan lawan.

Dalam fase bertahan, Arsenal kerap berubah menjadi formasi 4-4-2 tanpa penyerang murni di depan. Struktur itu memang membuat PSG kesulitan menemukan ruang, tetapi strategi seperti ini menuntut konsentrasi sempurna selama 120 menit.

3 dari 4 halaman

Mengorbankan Kreativitas Demi Meredam Lawan

Laga PSG vs Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 (c) AP Photo/Vadim Ghirda

Laga PSG vs Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 (c) AP Photo/Vadim Ghirda

Fokus besar pada pertahanan berdampak langsung pada kreativitas Arsenal. Martin Odegaard kesulitan berkembang dan hanya mencatatkan 12 sentuhan sebelum ditarik keluar pada menit ke-65.

Bukayo Saka juga gagal memberi pengaruh besar seperti biasanya. Sementara itu, assist Leandro Trossard untuk gol Havertz lahir dari situasi bola liar setelah sapuan pemain belakang PSG.

Di tengah minimnya suplai bola, Havertz tetap menjadi ancaman utama Arsenal. Penyerang Jerman itu tampil efektif dan menjadi satu-satunya pemain depan yang mampu meninggalkan jejak signifikan sepanjang pertandingan.

Semua itu menunjukkan betapa berhati-hatinya Arteta menghadapi juara bertahan. Dalam sejumlah keputusan penting, ia lebih memilih keamanan di lini belakang dibanding menambah daya serang timnya.

4 dari 4 halaman

Tragedi Titik Putih

PSG vs Arsenal: Momen penalti Gabriel Magalhaes yang gagal di laga final Liga Champions 2026. (c) AP Photo/Vadim Ghirda

PSG vs Arsenal: Momen penalti Gabriel Magalhaes yang gagal di laga final Liga Champions 2026. (c) AP Photo/Vadim Ghirda

Pertandingan yang berlangsung ketat akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti. Arsenal sebenarnya memiliki alasan untuk percaya diri mengingat rekam jejak mereka dalam situasi bola mati sepanjang musim.

Harapan sempat membesar ketika David Raya berhasil menggagalkan tendangan Nuno Mendes. Di sisi lain, kiper PSG Matvei Safonov tidak mampu menepis satu pun penalti Arsenal, sehingga peluang tetap terbuka lebar.

Namun momentum berubah saat Eberechi Eze gagal mengarahkan bola ke sasaran setelah awalan yang tidak biasa. Situasi semakin buruk ketika Gabriel Magalhaes, yang sering menjadi penentu dalam situasi bola mati, juga melambungkan tendangannya.

Dua kegagalan itu memastikan Arsenal kembali pulang tanpa trofi Liga Champions. Mimpi mengangkat Si Kuping Besar harus ditunda lagi, sementara PSG mempertahankan status mereka sebagai penguasa Eropa.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL