Bola.net - Piala Dunia 2014 hanya tinggal sekitar tujuh bulan lagi. Sejumlah negara sudah memastikan diri lolos ke Brasil. Namun, beberapa masih harus menunggu lebih lama dan berjuang sedikit lebih keras.
Dalam kurun waktu seminggu ke depan, sejumlah tim dari enam konfederasi berbeda akan melakoni play-off dua leg guna memperebutkan 11 tiket yang tersisa.
Siapa saja yang bakal menyusul tuan rumah Brasil dan 20 jebolan babak kualifikasi untuk mendapatkan hak tampil dalam pentas terakbar sepak bola ini tahun depan? Kita akan segera mengetahuinya.
Sebelum itu, mari kita kilas balik sejenak.
Di masa silam, sudah tersaji sejumlah play-off menuju Piala Dunia. Karena taruhannya adalah kesempatan untuk bertarung melawan tim-tim terbaik dari seluruh penjuru bumi di putaran utama, maka tak ayal laga pun berjalan sengit.
Pada edisi kali ini, potensi duel menarik adalah Portugal kontra Swedia di zona Eropa. Bagaimana dengan edisi-edisi sebelumnya?
Berikut enam partai play-off klasik pilihan dari sekian yang pernah ada. (fifa/gia)
Wales vs Israel - 1958

Wales menang dengan agregat 4-0
Play-off interkontinental pertama sepanjang sejarah dan tercipta dengan cara yang tidak biasa.
Penyebabnya adalah lawan-lawan potensial dari Asia dan Afrika menolak bertanding menghadapi Israel pada kualifikasi Swedia 1958. FIFA pun memutuskan digelar laga dua leg antara Israel kontra Wales, runner-up Grup 4 zona Eropa. Hadiahnya, partisipasi perdana di putaran utama Piala Dunia.
Dimotori John Charles yang brilian, Wales terbukti terlalu tangguh bagi Israel. Wales menang 2-0 di tiap leg dan lolos ke putaran utama Piala Dunia mereka yang pertama serta satu-satunya hingga sekarang.
Selain itu, berkat play-off kontra Israel ini, yang leg keduanya digelar 5 Februari 1958, manajer Wales Jimmy Murphy dan striker Colin Webster terhindar dari tragedi udara Munich bersama klub mereka, Manchester United, 24 jam setelahnya.
Skotlandia vs Australia - 1985

Skotlandia menang dengan agregat 2-0
Alex Ferguson merupakan bagian staf kepelatihan timnas Skotlandia selama kualifikasi Piala Dunia 1986.
Late equaliser di kandang Wales meloloskan Skotlandia secara dramatis ke babak play-off. Sayang bagi Skotlandia, atmosfer menegangkan dalam laga tersebut memakan korban. Pada penghujung laga, manajer Jock Stein mengalami serangan jantung di bench dan nyawanya tak terselamatkan meski sudah mendapat penanganan darurat di treatment room stadion.
Orang yang diberi kepercayaan untuk menuntaskan tugas Stein adalah sang asisten Alex Ferguson. Bersamanya, Skotlandia mengalahkan Australia 2-0 lewat gol-gol Davie Cooper serta Frank McAvennie pada play-off leg pertama di Hampden. Dipadu clean sheet pada leg kedua di Australia, Skotlandia pun lolos ke Meksiko 1986.
Langkah Skotlandia besutan Alex Ferguson terhenti di fase grup dan dia meletakkan jabatannya sebagai manajer timnas pada 15 Juni 1986.
6 November 1986, Alex Ferguson diangkat sebagai manajer Manchester United, klub di mana kemudian dia mendapatkan 'nama baru' - Sir Alex Ferguson.
Argentina vs Australia - 1993

Argentina menang dengan agregat 2-1
Kalau kegagalan Australia lolos ke Meksiko 1986 'disebabkan' oleh Alex Ferguson, kandasnya Socceroos dalam langkah menuju USA 1994 diakibatkan oleh nama legendaris lain, yakni Diego Maradona.
Setelah diskors selama 15 bulan akibat pemakaian kokain, Maradona kembali ke pentas internasional untuk memperkuat Argentina, yang terlempar ke babak play-off usai kalah memalukan 0-5 dari Kolombia di kandang sendiri.
Lawan di babak play-off adalah Australia. Dampak keberadaan seorang Maradona (saat itu berusia 33) sungguh luar biasa, bukan bagi Australia pastinya.
Pada leg pertama di Sydney, dengan permainannya yang brilian, Maradona merancang gol pembuka Abel Balbo untuk Argentina. Australia menutup laga dengan skor 1-1 berkat gol Aurelio Vidmar. Pada leg kedua, Maradona dan Argentina membuat Australia keteteran sepanjang laga. Gol bunuh diri Alex Tobin sudah cukup untuk meloloskan Argentina ke putaran utama.
Australia vs Uruguay - 2005

Agregat Skor 1-1, Australia menang adu penalti 4-2
Play-off merupakan jalur yang sangat identik dengan Australia. Hanya saja, tiga dekade gagal lolos ke putaran utama akibat kandas di partai play-off tentu menyisakan rasa penasaran.
Setelah dijegal Uruguay di play-off menuju Korea-Jepang 2002, Australia berjumpa lagi dengan lawan yang sama dalam perjalanan ke Jerman 2006. Namun, kali ini ceritanya berbeda.
Pasukan Guus Hiddink kalah 0-1 di Montevideo. Pada leg kedua, gol Mark Bresciano membuat 82.600 penonton di Sydney bergemuruh dan laga berlanjut hingga adu penalti.
Pemain pengganti John Aloisi sukses menunaikan tugasnya sebagai algojo penentu, menaklukkan Fabian Carini di bawah mistar, dan mengakhiri penantian panjang Australia.
Slovenia vs Rusia - 2009

Agregat Skor 2-2, Slovenia lolos dengan gol tandang
Dua negara Eropa dengan kekuatan yang terpisah oleh jurang cukup lebar bentrok memperebutkan satu hak tampil di Afrika Selatan 2010.
Rusia, yang populasinya mencapai 142 juta jiwa dan memiliki sederet talenta hebat, sangat dijagokan untuk bisa melewati hadangan Slovenia. Namun, negara yang hanya dihuni 2 juta penduduk itu punya skenario berbeda.
Setelah membawa pulang satu gol tandang nan krusial dari Moskow melalui Nejc Pecnik, Slovenia membuat lawannya yang kelas berat itu menangis di Maribor berkat gol tunggal Zlatko Dedic.
Pelatih Rusia Guus Hiddink, yang sukses bersama Australia empat tahun sebelumnya, pun tertunduk lesu. Sementara itu, arsitek Slovenia Matjaz Kek mengatakan: "Ini adalah laga yang bersejarah. Slovenia telah mewujudkan sebuah mimpi indah."
Selandia Baru vs Bahrain - 2009

Selandia Baru menang dengan agregat 1-0
"Kami sudah menunggu selama 27 tahun untuk mewujudkan sebuah hal yang sangat penting bagi kami."
Itu adalah kata-kata pelatih Selandia Baru Ricki Herbert, yang merupakan bagian skuat Kiwi di Spanyol 1982, setelah tim asuhannya menyingkirkan Bahrain di babak play-off Piala Dunia 2010.
Bahrain, yang kandas di fase yang sama oleh Trinidad & Tobago pada 2006, sejatinya lebih difavoritkan untuk lolos ke Afrika Selatan. Namun, wakil Asia itu hanya sanggup bermain imbang tanpa gol di kandang sendiri pada leg pertama.
Pada leg kedua, dengan rekor penonton di Wellington, diwarnai penyelamatan penalti Mark Paston dan winning goal Rory Fallon, Bahrain bertekuk lutut.
Selandia Baru melenggang ke putaran utama. Meski hanya terhenti sampai fase grup pada Piala Dunia keduanya ini, Selandia Baru masih sanggup meninggalkan catatan istimewa, yaitu menjadi satu-satunya tim yang tak terkalahkan di Afrika Selatan 2010.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Editorial 13 November 2013, 09:27

-
Wenger: Aneh Hadapi United Tanpa Fergie
Liga Inggris 10 November 2013, 11:16
-
Wenger: Hadapi United Tanpa Sir Alex Terasa Janggal
Liga Inggris 8 November 2013, 22:48
-
Wenger: Van Persie ke United Atas Pengaruh Meulensteen
Liga Inggris 8 November 2013, 20:50
-
Fergie: Pemain United Tak Boleh Diving
Liga Inggris 7 November 2013, 19:20
LATEST UPDATE
-
BRI Super League: Persebaya Menggebrak dengan Pelatih dan 2 Pemain Asing Baru
Bola Indonesia 7 Januari 2026, 21:57
-
Rodrygo Naik Level: Dari Cadangan Jadi Andalan Baru Real Madrid
Liga Spanyol 7 Januari 2026, 21:34
-
AC Milan Pilih Jadi Penonton Persaingan Scudetto Serie A 2025/2026
Liga Italia 7 Januari 2026, 20:48
-
Tiket Early Bird KLBB 2026 Ludes Secepat Kilat, Habis Tak Sampai Satu Jam
Lain Lain 7 Januari 2026, 20:38
-
Live Streaming Parma vs Inter - Link Nonton Serie A/Liga Italia di Vidio
Liga Italia 7 Januari 2026, 19:45
-
Ole Gunnar Solskjaer Muncul di Cheshire, Segera Kembali ke Manchester United?
Liga Inggris 7 Januari 2026, 19:42
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58





















KOMENTAR