Bola.net - Oleh: Dendy Gandakusumah
"Rekonsiliasi adalah pengorbanan" (Nani Nurrachman - putri Letnan Jenderal Soetojo Siswomihardjo)
Roy Suryo bisa jadi tak mengenal Bardosono. Alih-alih mengenal Ketua Umum PSSI periode 1975-1977 itu, Roy masih gagap membedakan Diego Michiels -yang kekasih Nikita Willy- dengan Diego Mendieta, pemain Paraguay yang harus menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan nestapa di Indonesia.
Namun, meski tak mengenal Badrosono, Roy mungkin saja telah khatam 'Buku Hijau' -berisi Garis Besar Halauan Sepakbola- yang merupakan buah pikiran pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang) itu. Pendekatan Roy terhadap permasalahan sepakbola Indonesia identik dengan pendekatan sepakbola Pancasila yang dirumuskan berpangkat Brigadir Jenderal tersebut.
8 November 1975, Bardosono membuat sebuah 'terobosan' dalam sepakbola Indonesia. Di tengah kericuhan partai puncak Perserikatan, yang mempertemukan PSMS Medan dan Persija Jakarta, dia memutuskan bahwa kedua tim tersebut dinobatkan sebagai juara bersama. Alasannya simpel. Dia beranggapan dengan gelar ini, dua tim tersebut tak bakal membuat masalah lagi.
Selesaikah masalah dengan hal itu? Ternyata tidak. Meski fakta di lapangan wasit Mahdi Thalib tak bisa lagi mengendalikan situasi, banyak pihak yang merasa keputusan Bardosono tak adil. "Jika dua tim yang bermain ricuh dihadiahi gelar juara, untuk apa tim-tim lain bermain dengan 'sopan'," demikian rata-rata nada protes itu.
Namun, Bardosono tetaplah Bardosono. Dia berkeras, tentu saja. Baginya, 'kepentingan bangsa' termasuk menjaganya tetap 'utuh' haruslah didulukan. Bahkan, misalnya melanggar nilai-nilai keadilan sekalipun.
Keputusan Bardosono ini tak mampu meredakan badai kritik dan kecaman. Tak kurang dari Ketua KONI Pusat, Suprayogi melontarkan sindiran. "Pakailah bahasa olahraga dalam urusan olahraga," kecamnya. Suprayogi secara tak langsung telah terjadi penaklukan olahraga dan nilai-nilai sportivitas oleh tetek bengek politik.
Di Hotel Borobudur Jakarta, 17 Maret 2013 lalu, sikap serupa Bardosono ditiru sempurna oleh Roy Suryo. Beralasan menjaga sepakbola bangsa ini dari sanksi FIFA, sosok yang dikenal sebagai pakar telematika tersebut memaksakan suatu penaklukan yang dibungkus dengan kemasan rekonsiliasi.
Betapa tidak, nilai-nilai olahraga -seperti fairness dan sportivitas- yang selama ini dirapal bak mantra, harus tunduk pada kekuasaan. Pelanggaran demi pelanggaran aturanpun menjadi resmi dan sah. Semua juga melalui restu kekuasaan, yang diwakili Roy Suryo.
Memang betul yang dikatakan Nani Nurrachman bahwa rekonsiliasi adalah pengorbanan. Namun, alih-alih kedua pihak sama-sama mengorbankan ego masing-masing demi sebuah rekonsiliasi sejati, rekonsiliasi sepakbola kita hanya mengorbankan satu pihak.
Selain mengorbankan orang-orang yang berupaya- memperbaiki sepakbola kita -meski upaya tersebut belum berhasil- rekonsiliasi ala Roy Suryo ini juga mengorbankan nilai-nilai olahraga sendiri. Sportivitas dan fairness, yang dianggap oleh salah seorang mantan anggota Komite Eksekutif PSSI Bob Hippy sebagai benteng terakhir moralitas bangsa, harus [di]runtuh[kan] dan takluk dari kelompok-kelompok, yang berkedok kepentingan bangsa.
Sayangnya, kali ini tak ada suara bening lagi yang mengingatkan bahwa olahraga harus tetap dipahami dalam koridor olahraga, bukan politik atau kekuasaan. (den/mac)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
EDITORIAL: Roy Suryo, Bardosono dan Rekonsiliasi Semu Itu
Editorial 29 Oktober 2013, 14:03
-
EDITORIAL: Rumah Kartu Sepakbola Indonesia
Editorial 7 Oktober 2013, 08:55
-
Menpora Siap Kawal Konsep Playoff
Bola Indonesia 4 Oktober 2013, 09:14
-
Menpora: Playoff IPL Tak Ideal Tapi Realistis
Bola Indonesia 4 Oktober 2013, 09:10
-
Roy Suryo Bangga Dengan Perjuangan Timnas U-19
Tim Nasional 23 September 2013, 08:32
LATEST UPDATE
-
Tempat Menonton Man City vs Brighton: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 01:09
-
Prediksi PSG vs Marseille 9 Januari 2026
Liga Eropa Lain 8 Januari 2026, 01:00
-
Tempat Menonton Fulham vs Chelsea: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 00:35
-
BRI Super League: Persebaya Menggebrak dengan Pelatih dan 2 Pemain Asing Baru
Bola Indonesia 7 Januari 2026, 21:57
-
Rodrygo Naik Level: Dari Cadangan Jadi Andalan Baru Real Madrid
Liga Spanyol 7 Januari 2026, 21:34
-
AC Milan Pilih Jadi Penonton Persaingan Scudetto Serie A 2025/2026
Liga Italia 7 Januari 2026, 20:48
-
Tiket Early Bird KLBB 2026 Ludes Secepat Kilat, Habis Tak Sampai Satu Jam
Lain Lain 7 Januari 2026, 20:38
-
Live Streaming Parma vs Inter - Link Nonton Serie A/Liga Italia di Vidio
Liga Italia 7 Januari 2026, 19:45
-
Ole Gunnar Solskjaer Muncul di Cheshire, Segera Kembali ke Manchester United?
Liga Inggris 7 Januari 2026, 19:42
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58


























KOMENTAR