Bola.net - Bola.net - Sejak awal dimulai pada tahun 1955, kompetisi tertinggi antar klub Eropa yang saat ini dikenal sebagai Liga Champions telah menghadirkan sejumlah final yang mempertemukan wakil Italia versus wakil Spanyol. Artinya, final di Berlin akhir pekan ini bukanlah yang pertama mempertemukan dua klub dari dua negara sepak bola tersebut.
Bukan rahasia umum bila Real Madrid menjadi tim dengan gelar Champions terbanyak, kesuksesan merengkuh La Decima tahun lalu membuat mereka menjadi sulit dikejar dengan raihan 10 gelar. Bila melihat ke belakang, rupanya hegemoni Madrid di lima tahun pertama penyelenggaraan European Cup (nama yang dipakai sebelum Liga Champions) dihadang dua klub Italia berbeda selama dua tahun beruntun.
Begitu juga dengan , finalis edisi tahun ini. Trofi Champions pertama didapat dengan mengalahkan klub asal negara spaghetti tersebut.
Bagaimana dengan ? Tim yang bakal menantang Barca di Berlin nanti, sebelumnya juga pernah menghadapi tim asal Spanyol di final kompetisi hebat ini. Bagaimana skor akhirnya? Apa yang terjadi dalam laga-laga tersebut? Kali ini Bolanet menghadirkan rekaman pertandingan-pertandingan final Champions antara klub-klub Italia melawan klub-klub Spanyol.
1957

Masih dengan nama European Champions Club's Cup untuk kedua kalinya Real Madrid berhasil mengklaim satu tempat di final. Dan Fiorentina pun tercatat sebagai klub Italia pertama yang berhasil menembus partai puncak.
Kala itu kiper Fiorentina, Giuliano Sarti tampil luar biasa, seorang diri ia membendung serangan bintang-bintang Madrid, Alfredo DI Stefano, Raymond Kopa dan Francisco Gento.
Karena final ini diselenggarakan di Santiago Bernabeu, dukungan fans tuan rumah pun menjadi motivasi tersendiri bagi Los Galacticos hingga pada menit 69 wasit asal Belanda, Leo Horn menunjuk titik putih. Di Stefano pun melakukan ekseskusi dengan baik. Enam menit kemudian chip ball Gento memastikan Madrid mengangkat trofi Champions keduanya dihadapan 124 ribu penonton.
1958

Untuk ketiga kalinya Madrid berhasil melangkah ke partai puncak dan kembali mereka dihadang wakil Italia, AC Milan. Final edisi ini dimainkan di stadion legendaris, Heysel di Belgia.
Kekuatan Madrid belum banyak berubah dengan masih mengandalkan Di Stefano, Kopa dan Gento. Sedangkan tim merah hitam diperkuat Cesare Maldini, bintang Swedia, Nils Liedholm dan striker Juan Alberto Schiaffino.
Kejar mengejar gol membuat 67 ribu penonton tegang sepanjang pertandingan, Milan menunjukkan bahwa mereka bisa mengimbangi sang juara bertahan. Gol Schiaffino menit ke-59 dibalas Di Stefano saat laga masuk menit 74. Tiga menit selanjutnya, Rossoneri kembali memimpin lewat gol Ernesto Grillo, sayang keunggulan itu hanya berlangsung dua menit, sebab Hector Rial berhasil menyamakan skor.
Skor 2-2 bertahan hingga 90 menit selesai, tak ayal wasit asal Belgia, Albert Alsteen menginstruksikan pertandingan berlanjut ke extra time. Di sinilah drama terjadi, Francisco Gento mencetak gol menit 107 dan gol itu menjadi gol terakhir dalam final tersebut.
1964

Diarsiteki pelatih legendaris, Helenio Herrera, Inter melibas semua yang menghalang untuk mencapai final dengan catenaccio dan contropiede (pertahanan gembok dan serangan balik) yang sangat tersohor itu. Madrid juga berniat mengembalikan kejayaan di Eropa setelah terakhir juara tahun 1960.
Walaupun masih diperkuat Di Stefano, Francisco Gento ditambah legenda Hungaria, Ferenc Puskas, Los Merengues tak berdaya di hadapan La Beneamata.
Dengan strategi yang diusungnya Inter unggul dua gol melalui Sandro Mazzola (43') dan Aurelio Milani (61'), Madrid sempat memiliki harapan karena Felo memperkecil kedudukan menit 70. Tapi pertandingan ini sudah menjadi milik Inter, Mazzola mencetak gol pamungkas 14 menit jelang peluit panjang dibunyikan.
Untuk pertama kalinya, tim biru hitam itu mengangkat trofi bergengsi tersebut di Praterstadion, Austria.
1992

Setelah sekian tahun lamanya final European Champions Club's Cup tidak menghadirkan pertarungan antara wakil Italia versus wakil Spanyol, final di Wembley ini menjadi yang pertama.
Kala itu Sampdoria dipimpin pelatih asal Yugoslavia, Vujadin Boskov dengan bintang-bintang seperti Attilio Lombardo, Srecko Katanec, Gianluca Vialli dan Roberto Mancini. Sementara Barca tak kalah mengerikan, Ronald Koeman, Josep Guardiola, Michael Laudrup dan Hristo Stoichkov adalah andalan bagi pelatih Johan Cruyff.
Selama laga berlangsung, Vialli dan Mancini kesulitan menemukan ruang tembak, sedangkan Laudrup dan Stoichkov tak mampu menggetarkan gawang Gianluca Pagliuca. Tidak terciptanya gol pada waktu normal, tendangan bebas yang bagaikan geledek milik Ronald Koeman di menit 112 extra time mengubah arah pertandingan hingga akhirnya Barca keluar sebagai juara.
1994

Setelah dikalahkan Marseille di final tahun sebelumnya, Milan kembali lagi ke partai puncak. Barca pun berniat memenangkan gelar keduanya di Olympic Stadium, Athena, Yunani.
Motivasi atas kegagalan tahun sebelumnya benar-benar membakar semangat seluruh pemain Milan. Walaupun kapten Franco Baresi dan Alessandro Costacurta terkena hukuman larangan bermain, permainan Milan benar-benar luar biasa.
Mereka membuat Barca tak berkutik dengan keunggulan dua gol di babak pertama, dua gol Daniele Massaro mengembangkan senyum para pendukung Rossoneri. Di babak kedua Milan menciptakan dua gol tambahan melalui Dejan Savicevic dan Marcel Desailly.
Barca yang masih diarsiteki Johan Cruyff dengan pemain-pemain bintang seperti Stoichkov, Romario, Ronald Koeman dan Guardiola akhirnya hanya bisa tertunduk lesu saat peluit panjang dibunyikan. Mereka harus mengakui kehebatan racikan Fabio Capello.
1998

Dengan enam gelar Champions di lemari trofi, Madrid harus menunggu 32 tahun untuk meraih gelar ketujuh. Juventus datang ke Amsterdam Arena setelah dua tahun sebelumnya mereka selalu tampil sebagai finalis, mengalahkan Ajax dengan adu penalti di 1996 dan ditumbangkan Dortmund setahun sesudahnya.
Sayangnya Marcello Lippi gagal memberi trofi Champions gara-gara gol tunggal Predrag Mijatovic di menit 66. Deschamps, Zidane, Filipop Inzaghhi dan Del Piero pun meninggalkan Amsterdam Arena dengan kepala tertunduk.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Loew: Juventus Tahu Bagaimana Menangani Trio MSN Barcelona
Liga Champions 5 Juni 2015, 23:17
-
Chiellini: Status Underdog Tidak Diperhitungkan di Final
Liga Champions 5 Juni 2015, 22:55
-
Ferdinand: Pogba Bisa Lebih Baik Dari Messi Dan Ronaldo
Liga Italia 5 Juni 2015, 18:14
-
5 Faktor Juventus Bisa Kalahkan Barca di Final Liga Champions
Editorial 5 Juni 2015, 17:41
LATEST UPDATE
-
Hasil Napoli vs Lecce: Partenopei Selamat dari Kekalahan Setelah Tertinggal 0-2
Liga Italia 8 Januari 2026, 03:37
-
Prediksi Arsenal vs Liverpool 9 Januari 2026
Liga Inggris 8 Januari 2026, 03:00
-
Prediksi Milan vs Genoa 9 Januari 2026
Liga Italia 8 Januari 2026, 02:45
-
Prediksi Atletico Madrid vs Real Madrid 9 Januari 2026
Liga Spanyol 8 Januari 2026, 02:00
-
Tempat Menonton Man City vs Brighton: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 01:09
-
Prediksi PSG vs Marseille 9 Januari 2026
Liga Eropa Lain 8 Januari 2026, 01:00
-
Tempat Menonton Fulham vs Chelsea: Jadwal Live Streaming dan Tayang di Mana?
Liga Inggris 8 Januari 2026, 00:35
-
BRI Super League: Persebaya Menggebrak dengan Pelatih dan 2 Pemain Asing Baru
Bola Indonesia 7 Januari 2026, 21:57
-
Rodrygo Naik Level: Dari Cadangan Jadi Andalan Baru Real Madrid
Liga Spanyol 7 Januari 2026, 21:34
-
AC Milan Pilih Jadi Penonton Persaingan Scudetto Serie A 2025/2026
Liga Italia 7 Januari 2026, 20:48
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58


























KOMENTAR