5 Alasan Manchester United Blunder Pecat Ruben Amorim: Kesalahan Lama yang Terulang Kembali

5 Alasan Manchester United Blunder Pecat Ruben Amorim: Kesalahan Lama yang Terulang Kembali
Ruben Amorim seusai pertandingan Liga Inggris Manchester United vs West Ham, Minggu (11/5/2025). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Bola.net - Manchester United kembali membuat keputusan besar dengan memecat Ruben Amorim dari kursi manajer. Langkah tersebut sejatinya tidak terlalu mengejutkan, mengingat hubungan Amorim dengan jajaran petinggi klub yang kerap memanas serta performa tim yang belum konsisten di Premier League.

Pelatih asal Portugal itu memang meninggalkan catatan win rate hanya 38 persen, angka yang jelas berada di bawah standar para pendahulunya sejak era Sir Alex Ferguson berakhir.

Dari sudut pandang manajemen, pemecatan ini terasa “logis”. Namun, jika ditilik lebih dalam, keputusan tersebut justru berpotensi menjadi blunder baru bagi Setan Merah.

Berikut lima alasan mengapa Manchester United dinilai keliru memecat Ruben Amorim.

1 dari 6 halaman

Mengulangi Kesalahan Lama

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim. (c) AP Photo/Dave Thompson

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim. (c) AP Photo/Dave Thompson

Manchester United seolah kembali terjebak dalam pola lama: mengganti pelatih di tengah musim dengan harapan ada efek instan. Catatan 1,24 poin per laga Amorim di Premier League memang tidak istimewa, tapi angka itu sejatinya selevel dengan beberapa manajer lain yang pernah bekerja di Inggris.

Harapan bahwa sosok baru, siapa pun itu, bisa langsung mengangkat atmosfer tim dan membawa United ke papan atas terdengar familiar. Sayangnya, sejarah klub menunjukkan bahwa situasi masih bisa memburuk.

Pergantian manajer tanpa pramusim, skuat yang dibangun untuk filosofi pelatih sebelumnya, serta rekrutan yang tidak sinkron kembali menjadi masalah klasik yang berulang.

2 dari 6 halaman

Minim Opsi Pengganti Ideal

Ruben Amorim dalam laga Premier League antara Manchester United vs Bournemouth, Selasa (16/12/2025). (c) AP Photo/Jon Super

Ruben Amorim dalam laga Premier League antara Manchester United vs Bournemouth, Selasa (16/12/2025). (c) AP Photo/Jon Super

Pemecatan manajer kerap dibenarkan jika klub sudah menyiapkan pengganti yang jelas lebih baik. Namun, kondisi tersebut tidak terlihat di Manchester United saat ini.

Pasar pelatih elite sedang tidak ramah, dengan opsi yang tersedia dinilai minim dan berisiko.

Tidak ada sosok sekelas Jurgen Klopp atau Pep Guardiola yang siap direkrut. Pertanyaannya, apakah United rela mengulang siklus ini lagi hanya demi taruhan pada nama yang belum tentu memberi jaminan peningkatan signifikan?

3 dari 6 halaman

Target Musim Masih dalam Jangkauan

Pemain Manchester United, Joshua Zirkzee, merayakan gol pada laga Premier League/Liga Inggris antara Man Utd vs Wolves di Manchester, Inggris, Selasa, 30 Desember 2025 (c) AP Photo/Dave Thompson

Pemain Manchester United, Joshua Zirkzee, merayakan gol pada laga Premier League/Liga Inggris antara Man Utd vs Wolves di Manchester, Inggris, Selasa, 30 Desember 2025 (c) AP Photo/Dave Thompson

Meski performa United belum stabil, posisi mereka di klasemen sejatinya masih kompetitif. Setan Merah hanya tertinggal selisih gol dari zona lima besar, posisi yang hampir pasti cukup untuk tiket Liga Champions dan terpaut tiga poin dari peringkat empat.

Target Amorim musim ini adalah membawa United kembali ke kompetisi Eropa. Dengan separuh musim masih tersisa, misi tersebut sebenarnya masih realistis.

Terlebih, ketatnya persaingan Premier League membuat inkonsistensi bukan hanya dialami United, tetapi juga klub-klub besar lain.

4 dari 6 halaman

Data Dasar yang Menjanjikan

Para pemain Manchester United merayakan gol yang tercipta dalam laga Premier League melawan Bournemouth di Old Trafford, Selasa, 16 Desember 2025. (c) AP Photo/Jon Super

Para pemain Manchester United merayakan gol yang tercipta dalam laga Premier League melawan Bournemouth di Old Trafford, Selasa, 16 Desember 2025. (c) AP Photo/Jon Super

Jika menilik data statistik, performa United di bawah Amorim tidak sepenuhnya buruk. Berdasarkan catatan expected goals (xG), hanya Arsenal dan Manchester City yang lebih unggul. United bahkan mencatat selisih xG terbaik ketiga di liga.

Dalam 13 dari 20 laga liga musim ini, United menciptakan xG lebih tinggi dibanding lawan, termasuk saat menghadapi tim-tim papan atas.

OPTA juga menempatkan mereka di peringkat empat klasemen “expected points”, sebuah indikator bahwa hasil di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan kualitas permainan.

5 dari 6 halaman

Menunjukkan Manajemen Tidak Konsisten

Skuad Manchester United merayakan gol Joshua Zirkzee ke gawang Crystal Palace (c) MUFC Official

Skuad Manchester United merayakan gol Joshua Zirkzee ke gawang Crystal Palace (c) MUFC Official

Alasan terbesar pemecatan Amorim justru terletak pada citra manajemen klub. United sebelumnya memberi dukungan penuh meski finis di posisi ke-15 musim lalu dan gagal di final Liga Europa.

Amorim juga dibekali dana besar untuk membangun tim sesuai filosofi 3-4-3 yang ia yakini sejak awal.

Dengan semua komitmen tersebut, perubahan arah di tengah jalan membuat kebijakan klub terlihat inkonsisten. Bahkan pernyataan petinggi klub sebelumnya menekankan pentingnya kesabaran dan proses jangka panjang. Keputusan memecat Amorim kini justru bertolak belakang dengan narasi tersebut.

Sumber: Planet Football


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL