7 Aspek Taktik 'Potterball' di Chelsea: Bisa Main 3-2-5, Kombinasi Sepak Bola, dan Nilai Kemanusiaan

Bola.net - Kehadiran Graham Potter membawa banyak aspek positif untuk Chelsea. Di bawah kendali sang manajer, Chelsea tidak pernah kalah pada lima laga terakhir di semua ajang.
Paling baru, Chelsea menang dengan skor 2-0 ketika berjumpa AC Milan pada matchday keempat Liga Champions, Rabu (12/10/2022) dini hari WIB. Chelsea menang dua kali atas Milan, di kandang dan tandang.
Chelsea kini dalam tren yang positif. Ada banyak kemajuan yang dialami The Blues setelah performa inkonsisten pada awal musim 2022/2023 di bawah kendali Thomas Tuchel.
'Potterball' menjadi kunci di balik performa bagus Chelsea beberapa pekan terakhir. Lantas, apa saja yang perlu dipahami dari Potterball Chelsea? Yuk simak selengkapnya di bawah ini ya Bolaneters.
Formasi Fleksibel

Satu aspek menonjol dari Potterball di Chelsea adalah formasi yang fleksibel. Di bawah Potter, Chelsea selalu tampil dengan formasi awal yang berbeda. The Blues bisa bermain dengan formasi tiga maupun empat bek.
Bahkan, Potter bisa mengubah formasi di tengah laga. Contohnya, ketika bersua Wolves, Chelsea berubah dari 4-2-3-1 menjadi 3-4-2-1 ketika memainkan Reece James untuk menggantikan Pulisic.
Perubahan ini membuat Chelsea sulit ditebak lawan. Selain itu, Potter juga akan menyesuaikan pilihan formasi dan pemain sesuai dengan gaya bermain lawan yang dihadapi.
Cara Bertahan

Potter memang mewarisi skuad yang dibangun Thomas Tuchel. Namun, dia mampu memaksimalkan pemain yang ada dengan sangat baik. Termasuk para pemain yang ada di lini belakang.
Ketika bermain dengan formasi 3-4-2-1 atau 3-4-3, Potter akan memerintahkan anak asuhnya bertahan dengan lima bek saat bertahan. Hal ini membuat mereka cukup sulit ditembus lawan.
Apalagi, Chelsea cenderung memakai pressing medium ketika bertahan. Jadi, mereka akan menang jumlah di lini tengah dan mempersempit ruang bagi lawan. Chelsea tidak kebobolan pada tiga laga terakhir dengan skema ini.
Menyerang dengan 3-2-5
Jika dibanding era Tuchel, ada dua perbedaan yang diterapkan Potter saat menyerang. Pertama, Potter meminta lebih banyak pemain berada di area kotak penalti saat menguasai bola.
Pada situasi tertentu, Chelsea bisa mengubah formasi menjadi 3-2-5. Dua wingback akan menjaga kelebaran di depan. Lalu, Mason Mount dan Raheem Sterling berada di ruang antarlini. Potter bisa memakai false nine atau target-man, tergantung kebutuhan.
Kedua, Potter meminta pemain lebih bebas. Sedangkan, pada era Tuchel, semua diatur secara detail. "Tidak terlalu banyak (perubahan era Potter), kami mencoba masuk ke dalam kotak dan menghubungkan lini tengah ke striker, dan lebih bebas," kata Mount.
Peran Wingback Tetap Dominan

Pada aspek ini, Potter agak mirip dengan Tuchel. Kedua wingback mendapat lisensi lebih untuk menyerang. Namun, ketika tim kehilangan bola, wingback harus turun agar tercipta situasi lima pemain di belakang.
Berbeda dengan Liverpool, di mana wingback sering memulai build-up, Potter memakai wingback untuk menjaga kelebaran. Potter ingin menjaga kelebaran dan membuka ruang seluas mungkin.
Sejauh ini, wingback kanan Chelsea lebih dominan dibanding kiri. Alasannya sederhana, karena James dan Mount sudah lama bermain bersama. Sementara, di kiri, Chilwell baru pilih dari cedera panjang dan Cucurella baru bergabung.
Dua Pivot yang Statis

Potter memang sering mengubah formasi. Akan tetapi, Potter tidak akan banyak mengubah struktur pemain di lini tengah. Potter mempertahankan dua pivot agar tetap statis.
Ketika menyerang maupun bertahan, dua pivot akan dibiarkan berada di posisi sejajar. Namun, mereka akan mendapat peran yang berbeda. Lagi-lagi, bergantung pada kebutuhan.
Kovacic punya kemampuan dribel progresif yang bagus. Loftus-Cheek sangat kuat dalam duel fisik. Jorginho punya kemampuan spesial dalam distribusi bola. Potter memainkan mereka bergantian dan hasilnya maksimal.
Sepak Bola dan Kemanusiaan

Graham Potter pernah memberi penjelasan soal Potterball. Bagi eks manajer Brighton, gaya bermainnya bukan hanya soal sepak bola. Potter juga memakai pendekatan kemanusiaan dalam sepak bola yang dimainkan.
"Kami senang bermain menyerang, keseimbangan, dan pemain harus merasa bebas untuk membuat keputusan dan mengekspresikan diri mereka sendiri," kata Potter.
"Ini tentang menang, menciptakan tim yang bersaing, jujur, dan bekerja sama. Ini adalah kombinasi antara sepak bola dan nilai-nilai kemanusiaan," tegas Potter.
Kepercayaan Pada Pemain

Graham Potter baru memainkan lima laga di Chelsea. Akan tetapi, dia sudah memakai 21 pemain berbeda. Potter memberi kepercayaan kepada setiap pemain untuk bermain.
Kepa dan Pulisic yang menjadi pesakitan pada era Tuchel, mendapat kepercayaan penuh. Kepa bahkan selalu bermain pada lima laga Chelsea. Sementara, Pulisic kembali dimainkan di posisi favoritnya. Cornor Galagher dan Trevoh Chalobah juga mendapat kepercayaan bermain.
"Gaya permainan tidak membuat Anda memenangkan pertandingan. Tantangan terbesar adalah membuat para pemain mempercayainya, bagaimana cara kerjanya," katanya.
Hasil Chelsea Bersama Graham Potter

15/09/22 Chelsea 1 - 1 Salzbourg
01/10/22 Crystal Palace 1 - 2 Chelsea
06/10/22 Chelsea 3 - 0 Milan
08/10/22 Chelsea 3 - 0 Wolverhampton
12/10/22 Milan 0 - 2 Chelsea
Hasil: 1 imbang, 5 menang
Mencetak gol: 11 gol
Kebobolan: 2 gol
Nirbobol: 3 kali
Klasemen Premier League 2022/2023
Baca Ini Juga ya Bolaneters:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Barcelona Berencana Angkut Dua Pemain Chelsea Sekaligus di 2023
Liga Inggris 12 Oktober 2022, 20:29
-
4 Pemain AC Milan dengan Penampilan Terburuk Saat Melawan Chelsea
Liga Italia 12 Oktober 2022, 10:33
LATEST UPDATE
-
Jadwal Pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026: Semua Laga Dimulai Pukul 20.30 WIB
Bola Indonesia 19 Februari 2026, 21:15
-
Jadwal Lengkap BRI Super League 2025/2026
Bola Indonesia 19 Februari 2026, 21:10
-
Arne Slot Ungkap Kondisi Alexander Isak, Masuki Tahap Akhir Rehabilitasi
Liga Inggris 19 Februari 2026, 20:44
-
AC Milan Gagal Pangkas Jarak, Inter Unggul 7 Poin dalam Perburuan Gelar Serie A
Liga Italia 19 Februari 2026, 20:25
-
Milan vs Como, Davide Bartesaghi: Sudah Main Bagus, Tapi Ada yang Kurang
Liga Italia 19 Februari 2026, 19:14
-
Drama Milan vs Como, Allegri Siapkan Aksi Balasan: Bakal Saya Sleding!
Liga Italia 19 Februari 2026, 18:49
-
Prediksi BRI Super League: Semen Padang vs Malut United 20 Februari 2026
Bola Indonesia 19 Februari 2026, 18:34
-
Prediksi BRI Super League: Persija vs PSM 20 Februari 2026
Bola Indonesia 19 Februari 2026, 18:21
-
Live Streaming Brann vs Bologna - Link Nonton Liga Europa/UEL di Vidio
Liga Eropa UEFA 19 Februari 2026, 17:47
-
Live Streaming Fenerbahce vs Nottm Forest - Link Nonton Liga Europa/UEL di Vidio
Liga Eropa UEFA 19 Februari 2026, 17:46
-
Live Streaming PAOK vs Celta Vigo - Link Nonton Liga Europa/UEL di Vidio
Liga Eropa UEFA 19 Februari 2026, 17:45
-
Milan vs Como Hanya Seri karena Blunder Maignan, Gabbia: Jangan Fokus pada Satu Kesalahan
Liga Italia 19 Februari 2026, 17:41
-
Milan vs Como: 2 Poin yang Hilang Terasa Menyakitkan Bagi Gabbia
Liga Italia 19 Februari 2026, 17:27
LATEST EDITORIAL
-
Dari Eks Chelsea hingga Barcelona: 5 Pemain yang Pensiun di 2026
Editorial 16 Februari 2026, 23:25
-
5 Transfer Ideal untuk Michael Carrick Jika Jadi Manajer Permanen Manchester United
Editorial 16 Februari 2026, 23:09
-
9 Pemain yang Tinggalkan Manchester United Musim Panas Lalu dan Nasib Mereka Sekarang
Editorial 12 Februari 2026, 22:39
-
10 Atlet dengan Bayaran Tertinggi di 2026: Ronaldo Kalahkan LeBron James dan Messi
Editorial 12 Februari 2026, 21:52
-
Jika Berpisah dengan Liverpool, Ini 5 Klub Potensial untuk Arne Slot
Editorial 11 Februari 2026, 23:48























KOMENTAR