Arsenal di Puncak Klasemen Liga Inggris, Tapi Mengapa Emirates Masih Belum Bisa Tidur Nyenyak?

Arsenal di Puncak Klasemen Liga Inggris, Tapi Mengapa Emirates Masih Belum Bisa Tidur Nyenyak?
Selebrasi pemain Arsenal, Cristhian Mosquera (kiri) Martin Odegaard, dan Viktor Gyoekeres (tengah) usai mencetak gol ke gawang Tottenham di Derby London Utara. (c) AP Photo/Ian Walton

Bola.net - Kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam derbi London Utara, kontrak anyar Bukayo Saka, dan posisi puncak klasemen Premier League. Sekilas, aroma kejayaan kembali menguar di Emirates Stadium. Arsenal bahkan masih belum terkalahkan di Liga Champions, melaju ke putaran kelima FA Cup, dan akan tampil di final Carabao Cup bulan depan.

Namun, di balik deretan optimisme itu, ada denyut keresahan yang tak bisa disembunyikan para pendukung. Kemenangan atas Spurs menjadi pengecualian manis di tengah catatan yang mengkhawatirkan: sebelumnya, The Gunners hanya menang dua kali dalam tujuh pertandingan Premier League. Bayangan Manchester City yang kembali mengintai seolah membuka luka lama.

Jika musim ini kembali berakhir tanpa gelar, alasan klasik "skuad muda" atau "cedera" mungkin tak lagi bisa diterima.

Pasalnya, untuk pertama kalinya dalam empat musim terakhir, Manajer Mikel Arteta memiliki amunisi lengkap hasil belanja besar-besaran. Pertanyaannya kini bergeser. Apakah manajemen skuad Arteta sendiri yang mulai menjadi ganjalan?

1 dari 4 halaman

Belanja Musim Panas yang Menjanjikan

Pemain Arsenal, Viktor Gyokeres, merayakan gol kedua timnya dalam pertandingan Premier League melawan Tottenham Hotspur, Minggu (22/2/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Pemain Arsenal, Viktor Gyokeres, merayakan gol kedua timnya dalam pertandingan Premier League melawan Tottenham Hotspur, Minggu (22/2/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Musim 2024/25 sempat menjadi ujian berat bagi kedalaman skuad Arsenal. Martin Odegaard dan Bukayo Saka tumbang akibat cedera saat jeda internasional. Ben White menjalani operasi lutut. Yang paling parah, Saka mengalami robek hamstring Grade 3 pada Desember yang membuatnya absen hingga April. Kai Havertz dan Gabriel Martinelli juga tak luput dari cedera. Gabriel Magalhaes bahkan ikut cedera di awal April.

Situasi darurat itu memaksa manajemen bergerak. Direktur olahraga anyar, Andrea Berta, mendapat lampu hijau untuk belanja besar.

Datanglah Cristhian Mosquera dan Piero Hincapie sebagai pelapis lini belakang. Martin Zubimendi direkrut sebagai gelandang utama, ditemani Christian Norgaard sebagai cadangan berpengalaman. Tak berhenti di situ. Noni Madueke, Viktor Gyokeres, dan Eberechi Eze didatangkan untuk menambah daya gedor.

Di atas kertas, skuad Arsenal musim ini bukan hanya dalam, tapi juga berkualitas. Beban Saka seharusnya bisa dikurangi. Para pemain kunci punya opsi rotasi yang mumpuni.

2 dari 4 halaman

Manajemen Pemain yang Dipertanyakan

Selebrasi Martine Odegaard bersama pemain Arsenal usai mengalahkan Tottenham di Derby London Utara, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Selebrasi Martine Odegaard bersama pemain Arsenal usai mengalahkan Tottenham di Derby London Utara, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Namun, realitas di lapangan kerap berbeda. Rentetan hasil buruk di awal tahun 2026 menunjukkan pola yang sama. Keunggulan yang mudah hilang. Dalam lima laga liga terakhir sebelum lawan Spurs, Arsenal tiga kali gagal mempertahankan keunggulan (kalah 2-3 dari Man United, imbang 1-1 dengan Brentford, dan imbang 2-2 dengan Wolves).

Indikasi fisik dan mental mulai dipertanyakan. Apakah para pemain mulai kelelahan karena minim rotasi?

Salah satu kasus paling mencolok adalah Christian Norgaard. Gelandang veteran asal Denmark itu tampil impresif sebagai bek tengah darurat di kompetisi piala dan menjadi bintang kala Arsenal menghancurkan Wigan Athletic 4-0 di FA Cup.

Namun di Premier League? Ia hanya bermain 34 menit, muncul empat kali sebagai pengganti.

Padahal, gelandang utama seperti Zubimendi mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena tak pernah absen di liga sepanjang musim debutnya. Keberadaan Norgaard yang siap pakai seolah hanya menjadi pajangan.

Dua produk akademi, Myles Lewis-Skelly dan Ethan Nwaneri, juga bernasib serupa. Setelah musim lalu menunjukkan diri layak jadi bagian tim utama, musim ini kepercayaan Arteta kepada mereka justru menipis.

Kasus Nwaneri paling menarik: pemain yang muda yang banyak disebut seabgai pemain yang lebih tajam daripada Odegaard sebagai gelandang serang, serta mampu menjadi pelapis Saka, justru kesulitan mendapat menit bermain. Kini ia dipinjamkan ke Marseille.

3 dari 4 halaman

Pertanyaan Besar di Lini Belakang dan Depan

Selebrasi winger Arsenal, Eberechi Eze usai mencetak gol ke gawang Tottenham pada lanjutan Liga Inggris, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Selebrasi winger Arsenal, Eberechi Eze usai mencetak gol ke gawang Tottenham pada lanjutan Liga Inggris, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Di sektor pertahanan, kebijakan Arteta juga menuai sorotan. Hincapie dan Mosquera memang jadi tambahan berharga, tapi kesempatan mereka hampir selalu datang setelah starter utama seperti Gabriel, William Saliba, atau Riccardo Calafiori cedera.

Masalahnya, Calafiori dikenal sebagai pemain yang rapuh secara fisik. Padahal, duetnya dengan Leandro Trossard di sisi kiri menjadi salah satu racikan paling ampuh Arsenal di musim ini. Jika Hincapie diperkenalkan secara bertahap, bukankah lebih baik ia siap sedia sebelum Calafiori tumbang?

Di sinilah letak kritik utama: Arteta dinilai kurang maksimal memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada.

Arsenal adalah tim yang mengandalkan soliditas. Identitas ini membuat mereka jarang kalah beruntun. Namun, dalam sepak bola modern, "jarang kalah" tak cukup jika tak diikuti dengan "sering menang".

Ketergantungan pada situasi bola mati sebagai pemecah kebuntuan adalah sinyal lain. Saat pertahanan lawan kokoh, Arsenal kerap tampil frustrasi. Empat hasil imbang dalam tujuh laga terakhir menjadi bukti. Di momen seperti itu, keberanian mengambil risiko dan memaksimalkan kualitas individu menjadi krusial.

4 dari 4 halaman

Pelajaran dari Derby London Utara

Pemain Arsenal, Viktor Gyokeres (kiri), merayakan gol kedua timnya dalam laga Premier League melawan Tottenham Hotspur, Minggu (22/2/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Pemain Arsenal, Viktor Gyokeres (kiri), merayakan gol kedua timnya dalam laga Premier League melawan Tottenham Hotspur, Minggu (22/2/2026) malam WIB. (c) AP Photo/Ian Walton

Kemenangan telak atas Tottenham seharusnya bisa menjadi titik balik. Dua pemain yang selama ini minim kepercayaan, Viktor Gyokeres dan Eberechi Eze, masing-masing mencetak dua gol.

Gyokeres, yang kerap tertekan saat melawan Brentford dan Wolves, mendapat ruang yang ia butuhkan saat masuk sebagai pemain pengganti melawan Sunderland. Eze, yang nyaris tak pernah dipercaya sebagai sayap kiri sepanjang 2026, akhirnya membuktikan kualitasnya saat dimainkan.

Derby kali ini membuktikan satu hal: jika Arteta berani mengambil risiko dan memberikan kepercayaan kepada pemainnya, Arsenal bisa menghancurkan lawan.

Alasan "ketiadaan Havertz" mungkin tak lagi relevan. Para pemain yang di lapanganlah yang memenangkan pertandingan, dan Arsenal saat ini memiliki cukup banyak pemain berkualitas untuk melakukan itu.

Pekerjaan rumah Arteta sekarang adalah memastikan momen kemenangan di Derby ini bukan sekadar kejutan manis, melainkan awal dari konsistensi yang selama ini dicari.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL