Arsenal Memang Terlalu Tangguh! Melihat Rahasia Kemenangan Telak di Derby London

Arsenal Memang Terlalu Tangguh! Melihat Rahasia Kemenangan Telak di Derby London
Selebrasi pemain Arsenal (kiri-kanan), Gabriel Magalhaes, Viktor Gyoekeres dan Piero Hincapie merayakan gol ke gawang Tottenham, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Bola.net - Kualitas Arsenal akhirnya berbicara dalam kemenangan 4-1 atas Tottenham pada derby London Utara. Bukan hanya soal skor, The Gunners tampil cerdas dengan cara mereka mengekspos kelemahan taktik rival sekota.

Laga sempat berjalan seimbang di babak pertama, namun Arsenal selalu terlihat memiliki keunggulan di momen-momen krusial. Ketika tempo meningkat, perbedaan kualitas dan pengambilan keputusan menjadi penentu.

Hasil ini bukan sekadar kemenangan besar, melainkan sinyal kuat bahwa Arsenal telah kembali ke level permainan terbaik mereka musim ini.

1 dari 4 halaman

Arsenal Mengekspos Sistem Baru Tottenham

Selebrasi winger Arsenal, Eberechi Eze usai mencetak gol ke gawang Tottenham pada lanjutan Liga Inggris, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Selebrasi winger Arsenal, Eberechi Eze usai mencetak gol ke gawang Tottenham pada lanjutan Liga Inggris, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Tottenham tampil dengan formasi 3-5-2 di bawah pelatih baru Igor Tudor. Sistem ini tidak sepenuhnya defensif dan justru memberi ruang bagi Arsenal untuk menyerang area-area vital di sepertiga akhir lapangan.

Keputusan Spurs untuk tidak bertahan terlalu dalam membuat jarak antar lini kerap terbuka. Arsenal memanfaatkan situasi ini dengan pergerakan cepat dan kombinasi di area sayap serta half-space. Dalam konteks derby, pendekatan terbuka ini menjadi pedang bermata dua bagi tuan rumah.

Di babak pertama, Tottenham masih mampu bertahan lewat kerja keras dan intensitas. Namun seiring waktu berjalan, struktur mereka mulai goyah, terutama saat harus merespons variasi serangan Arsenal yang datang dari berbagai arah.

2 dari 4 halaman

Dominasi Sisi Kanan: Saka dan Timber Jadi Pembeda

Selebrasi Martine Odegaard bersama pemain Arsenal usai mengalahkan Tottenham di Derby London Utara, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Selebrasi Martine Odegaard bersama pemain Arsenal usai mengalahkan Tottenham di Derby London Utara, 22 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Keunggulan Arsenal paling jelas terlihat di sisi kanan serangan mereka. Kombinasi Bukayo Saka dan Jurrien Timber menjadi sumber masalah utama bagi pertahanan Spurs.

Timber menunjukkan kecerdasannya sebagai bek kanan modern. Ia tidak hanya overlap, tetapi juga mampu bergerak ke dalam dan memilih momen yang tepat untuk mendukung serangan. Ruang yang ia ciptakan membuat Saka bisa menerima bola dalam posisi berbahaya.

Tottenham kerap bersikap reaktif. Djed Spence sering mendapat bantuan darurat, entah dari Xavi Simons, Pape Matar Sarr, atau bahkan Micky van de Ven. Situasi ini menciptakan kebingungan peran dan jarak yang terlalu jauh untuk ditutup secara konsisten.

3 dari 4 halaman

Arsenal Tak Lagi Bertahan: Mentalitas Berubah

Keunggulan 2-1 tidak membuat Arsenal mengendurkan tekanan. Alih-alih bertahan, pasukan Mikel Arteta tetap menyerang dengan agresif. Pendekatan ini kontras dengan laga sebelumnya ketika mereka gagal menjaga keunggulan.

Pilihan untuk terus menekan menunjukkan pembelajaran yang jelas. Arsenal terlihat telah mendiskusikan respons terbaik saat unggul, terutama setelah keraguan terhadap mentalitas mereka muncul dalam beberapa pertandingan terakhir.

Babak kedua menjadi panggung perbedaan kondisi fisik dan kedalaman skuad. Tottenham mulai kehabisan tenaga, diperparah oleh minimnya opsi akibat cedera, sementara Arsenal justru semakin tajam dan klinis.

4 dari 4 halaman

Rice, Eze, dan Gyokeres Menghidupkan Lini Tengah dan Depan

Performa individu turut menguatkan dominasi kolektif Arsenal. Declan Rice tampil berpengaruh, terutama setelah kesalahannya berujung gol penyama kedudukan Spurs. Alih-alih larut, ia meningkatkan intensitas, disiplin saat bertahan, dan agresivitas ketika menyerang.

Di belakang penyerang, Eberechi Eze memberikan dimensi tambahan. Pergerakannya di antara lini membuat gelandang Spurs sibuk dan tak leluasa membantu sisi sayap, sehingga tekanan ke arah Saka dan Timber semakin sulit diredam.

Sementara itu, Viktor Gyokeres menikmati salah satu penampilan terbaiknya bersama Arsenal. Dengan cerdas ia mengeksploitasi ruang, memanfaatkan keunggulan kecepatan atas Radu Dragusin, dan mencetak dua gol berkualitas. Gol-gol tersebut terasa seperti beban yang terangkat, terutama di laga sebesar derby London Utara.

Selama ini, banyak tim mencoba mematikan Arsenal dengan fokus pada Saka dan Martin Odegaard. Namun dalam laga ini, ancaman datang dari segala penjuru. Eze menemukan ruang di depan pertahanan, Rice menusuk dari lini kedua, dan Gyokeres mendapat ruang lebih luas.

Variasi ini membuat pertahanan Tottenham kewalahan. Arsenal tidak lagi bergantung pada satu atau dua pemain, melainkan tampil sebagai unit yang saling melengkapi. Itulah perbedaan utama yang terlihat jelas di derby ini.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL