Dan, sejauh ini belum ada tanda-tanda Ibra akan memperpanjang kontraknya bersama PSG. Hal ini sontak membuat masa depan Ibra terus dispekulasikan. Ia dikaitkan dengan beberapa klub di luar Eropa, terutama Tiongkok dan MLS.
Tak hanya dari luar Eropa, penyerang 34 tahun ini juga dikaitkan dengan beberapa klub elit Eropa. Yang paling santer tentu saja Manchester United. Kebetulan, sepanjang karirnya Ibra belum pernah merasakan kerasnya persaingan di Premier League.
Kendati reputasinya sebagai penyerang kelas wahid tidak perlu diragukan lagi, peluang Ibra untuk menjadi transfer flop bagi MU tetap terbuka. Potensi Ibra gagal bersinar di Old Trafford bahkan sangat besar.
Apa saja faktor yang bisa membuat Ibra jadi transfer flop bagi MU? simak selengkapnya: (bola/asa)
Faktor usia

Kondisi fisik Ibrahimovic memang masih sangat prima. Hal tersebut tidak diragukan lagi. Namun, mesti diingat pula bahwa Ibra saat ini sudah memasuki usia yang ke-34. Usia yang tidak muda lagi bagi seorang pemain sepakbola.
Perlu diingat juga, di Inggris tidak ada jeda tengah kompetisi. Setiap klub juga akan ambil bagian di Piala FA dan Piala Carling. Dengan usia 34 tahun, mampukah Ibra bertahan dengan jadwal padat Premier League.
Faktor ini menjadi masalah serius bagi eks bomber Inter Milan.
Sikap dan tempramen

Jejak karir Ibrahimovic tidak hanya sarat akan prestasi. Ia juga tercatat pernah terlibat beberapa perselisihan di baik dengan lawan maun rekannya sendiri.
Pada tahun 2010 silam misalnya, ia terlibat sebuah perseteruan dengan rekan satu timnya, Oguchi Onyewu. Saat itu keduanya membela klub yang sama AC Milan. Ibra kerap berlaku semena-mena kepada pemain muda yang enggan tunduk kepadanya dan menyulut emosinya.
Potensi ini sangat terbuka terjadi di MU. Terlebih pada musim ini MU diperkuat oleh beberapa pemain muda seperti Memphis Depay, Anthony Martial dan Jesse Lingard.
Tekanan lawan dan pers

Tekanan di Ligue 1 dan Premier League tentu sangat berbeda. Saat bermain di Ligue 1, mungkin Ibra bisa dengan mudah mengatasi tekanan saat bermain melawan tim papan tengah seperti SC Bastia atau Nantes. Level kedua tim ini jauh dibandingkan dengan PSG.
Lantas, apa jadinya jika Ibra harus berhadapan dengan klub papan tengah seperti Stoke City, Everton atau Southampton. Level klub-klub ini tidak beda jauh dengan klub papan atas.
Kondisi bisa menjadi semakin pelik menilik pers di Inggris terkenal sangat kejam. Mereka tak ragu melancarkan kritik terbuka kepada pemain yang tidak tampil konsisten.
Tipe pemain individual

"Ibrahimovic adalah pemain fantastis, tapi dia terlalu individualis padahal sepakbola adalah permainan tim," ujar pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi.
Dengan sikap yang seperti ini, Ibra rawan menjadi sumber konflik dalam tim. Tidak hanya dengan sesama pemain, juga dengan pelatih. Hal tersebut pernah terjadi saat ia membela Barcelona. Ia menolak tunduk kepada pelatih Josep Guardiola yang menuntutnya bermain sebagai tim. Ia juga enggan mendapatkan beban harus membantu pertahanan,
Jika musim depan MU masih mempertahankan Louis van Gaal sebagai pelatih, faktor ini bisa menjadi masalah besar.
Kick n Rush

Seperti yang sebelumnya sudah disinggung. Premier League merupakan liga yang sangat keras. Kontak fisik adalah hal yang biasa terjadi. Tak hanya keras, di Premier League kecepatan juga jadi faktor penentu. Terkadang faktor inilah yang membuat para pemain baru sulit beradaptasi.
Tidak hanya untuk pemain yang sudah berumur, pemain muda terkadang juga sulit beradaptasi dengan kerasnya Premier League. Contoh nyata ada pada diri Memphis Depay dan Angel Di Maria.
So, di usia yang 34 tahun, Ibra diragukan mampu beradaptasi dengan kerasnya Premier League.
Ekstra

Selalu Ingin Jadi No 1
Ibrahimovic merupakan sosok pemain yang angkuh, ia selalu ingin menjadi sosok yang nomor satu di klub. Hal inilah yang membuat karirnya di Barcelona tidak begitu mulus. Ia enggan tunduk kepada pemain-pemain yang sudah lama berada di Barca seperti Iniesta, Xavi dan Messi.
Hal yang sama bisa saja terjadi di MU. Ibra tak mungkin bersedia tunduk pada arah pemain-pemain seperti Chris Smalling, Bastian Schweinsteiger, bahkan mungkin hingga Wayne Rooney.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Motta: Diego Costa Suka Bicara Sendiri!
Liga Inggris 19 Februari 2016, 11:46
-
Cavani Diklaim Akan Gabung Juventus Musim Depan
Liga Italia 19 Februari 2016, 11:18
-
Harapan Besar Chelsea Pada Gol Tandang Obi Mikel
Liga Champions 19 Februari 2016, 10:33
-
Fabregas Sempat Bersitegang dengan Ibrahimovic
Liga Inggris 19 Februari 2016, 10:14
-
Lima Alasan Ibrahimovic Bakal Jadi Transfer Flop Bagi MU
Liga Inggris 19 Februari 2016, 00:50
LATEST UPDATE
-
Nonton Live Streaming Liga Inggris: Palace vs Arsenal
Liga Inggris 24 Mei 2026, 20:17
-
Nonton Live Streaming Liga Inggris: Liverpool vs Brentford
Liga Inggris 24 Mei 2026, 19:58
-
Apakah Pertandingan Brighton vs MU Ditayangkan SCTV?
Liga Inggris 24 Mei 2026, 19:54
-
Klasemen Pembalap Moto3 Junior 2026
Otomotif 24 Mei 2026, 19:38
-
Nonton Live Streaming Liga Inggris: Brighton vs Man United
Liga Inggris 24 Mei 2026, 19:25
-
Luka Modric Siap Bertahan di AC Milan, Ini 2 Syarat Utamanya
Liga Italia 24 Mei 2026, 19:19
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00
-
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manchester City
Editorial 19 Mei 2026, 09:39
-
5 Pemain yang Bisa Jadi Fondasi Jose Mourinho di Real Madrid
Editorial 18 Mei 2026, 12:25

























KOMENTAR