
Bola.net - Liverpool menjalani musim yang terasa sangat berbeda dibandingkan setahun lalu. Setelah tampil dominan dan menjuarai Premier League musim lalu, The Reds kini tercecer jauh dalam perburuan gelar dan hanya berkutat di papan atas tanpa pernah benar-benar meyakinkan.
Jarak 25 poin dari total perolehan musim juara menjadi gambaran paling jelas tentang kemunduran mereka. Produktivitas gol menurun tajam, pertahanan rapuh, dan atmosfer Anfield mulai berubah panas seiring meningkatnya frustrasi suporter terhadap Arne Slot dan jajaran klub.
Situasi ini menjadi semakin kompleks karena Liverpool tidak hanya menghadapi masalah teknis di lapangan. Duka mendalam akibat meninggalnya Diogo Jota pada Juli lalu turut membayangi perjalanan mereka sepanjang musim.
Penurunan Tajam yang Sulit Diabaikan

Secara statistik, penurunan Liverpool terlihat sangat mencolok. Mereka baru mencetak 60 gol liga musim ini, turun 28 gol dibanding musim lalu. Rata-rata 1,67 gol per pertandingan juga menjadi yang terburuk sejak musim 2015/2016.
Masalah tidak berhenti di lini depan. Tim asuhan Slot sudah kebobolan 48 kali di Premier League. Jika kembali kebobolan tiga gol dalam dua laga terakhir, itu akan menjadi catatan pertahanan terburuk Liverpool dalam era Premier League dengan format 38 pertandingan.
Anfield yang biasanya penuh optimisme kini mulai dipenuhi suara ketidakpuasan. Suporter bahkan melontarkan boos saat Liverpool ditahan Chelsea pekan lalu. Reaksi itu menunjukkan betapa besar ekspektasi yang kini berubah menjadi kemarahan.
Slot sendiri mengakui tekanan besar yang sedang mengelilingi klub. Menjelang laga melawan Aston Villa, ia mengatakan bahwa semua pihak di Liverpool mendapat sorotan keras musim ini.
“Kami semua mendapat bagian masing-masing. Para pemain mendapat kritik, manajer mendapat kritik, dan orang-orang lain di klub juga mendapat kritik. Begitulah sepakbola sekarang ketika Anda tidak menjuarai liga,” kata Slot.
Arne Slot Kehilangan Sentuhan

Arne Slot sempat dipuji habis-habisan saat membawa Liverpool menjadi juara pada musim debutnya. Banyak pihak menilai ia berhasil memberikan sentuhan taktik baru yang membuat Liverpool berkembang dibanding era akhir Jurgen Klopp.
Meski begitu, reputasi itu kini mulai memudar. Sebagian suporter bahkan mencoba menyepelekan perannya dalam keberhasilan musim lalu dengan menyebut Slot hanya menikmati warisan skuad Klopp.
Musim ini memang menghadirkan banyak statistik buruk. Liverpool sudah menelan 18 kekalahan di semua kompetisi, jumlah tertinggi sejak 2014/2015. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, Liverpool juga disapu bersih Manchester United dan Manchester City dalam duel liga pada musim yang sama.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya hasil pertandingan, tetapi cara Liverpool bermain. Tim terlihat kehilangan identitas. Build-up berjalan lambat, serangan mudah ditebak, dan pressing agresif yang dulu menjadi ciri khas Liverpool mulai menghilang.
Data menunjukkan Liverpool hanya merebut bola di sepertiga akhir lapangan sebanyak 4,1 kali per laga musim ini. Itu menjadi rata-rata terendah mereka sejak 2014/2015.
Arne Slot Cari Pembelaan

Masalah bola mati juga menjadi mimpi buruk. Liverpool sudah kebobolan 18 gol liga dari situasi set-piece non-penalti, angka terburuk mereka di era Premier League.
Slot memang punya alasan pembelaan. Ia diterpa badai cedera dan tidak pernah benar-benar melihat trio mahal Alexander Isak, Hugo Ekitike, dan Florian Wirtz bermain bersama secara reguler. Ketiganya hanya mencatat 118 menit bermain bersama sepanjang musim.
Namun, kritik terhadap Slot tetap sulit dihindari. Pergantian pemainnya sering dianggap tidak jelas arah. Keputusan memainkan Dominik Szoboszlai sebagai bek kanan darurat juga menuai tanda tanya besar.
Selain itu, Slot terlalu jarang memberi kesempatan kepada pemain pelapis. Akibatnya, sejumlah pemain inti tampak kelelahan saat musim memasuki fase krusial.
Banyak Pemain Gagal Memenuhi Ekspektasi

Jika melihat performa individu, hanya sedikit pemain Liverpool yang benar-benar tampil konsisten musim ini.
Szoboszlai menjadi salah satu pengecualian terbesar. Gelandang asal Hungaria itu tampil impresif dengan 13 gol dan 10 assist.
Ia menjadi gelandang Liverpool pertama sejak Steven Gerrard pada musim 2013/2014 yang mampu mencetak dua digit gol dan assist dalam satu musim.
Rio Ngumoha juga memberi harapan besar. Di usia 17 tahun, ia beberapa kali menunjukkan potensi luar biasa. Sementara itu, Virgil van Dijk tetap tampil stabil dan selalu tersedia untuk dimainkan sepanjang musim.
Namun setelah itu, daftar kekecewaan jauh lebih panjang. Mohamed Salah mengalami penurunan performa signifikan. Alexis Mac Allister kehilangan pengaruh di lini tengah, Ryan Gravenberch tak lagi dominan, dan kontribusi Cody Gakpo menurun drastis.
Inkonsistensi Pemain Liverpool
Dua rekrutan paling menarik musim panas lalu, Florian Wirtz dan Alexander Isak, juga gagal memenuhi ekspektasi besar. Cedera memang menjadi salah satu penyebab, tetapi performa mereka tetap dianggap jauh dari level terbaik.
Beberapa pemain lain seperti Curtis Jones, Ibrahima Konate, dan Milos Kerkez juga dinilai terlalu inkonsisten sepanjang musim.
Pada akhirnya, kritik kepada Slot saja dianggap tidak cukup. Banyak pihak menilai para pemain juga harus bertanggung jawab karena gagal menjaga standar permainan Liverpool.
Saat tim membutuhkan sosok penyelamat di momen-momen sulit, seringkali tidak ada pemain yang benar-benar tampil sebagai pembeda.
Transfer Mahal dan Keputusan Klub Dipertanyakan
Sorotan kini juga mengarah kepada Michael Edwards dan Richard Hughes, dua sosok penting di balik arah baru Liverpool.
Setelah kembali ke klub sebagai kepala sepakbola FSG pada 2024, Edwards membawa perubahan besar dengan menghapus model manajer tradisional dan menggantinya dengan sistem head coach. Slot menjadi simbol proyek baru tersebut.
Richard Hughes lalu ditunjuk sebagai direktur olahraga dan bertugas memimpin perekrutan pemain. Liverpool menghabiskan sekitar 450 juta pounds dalam bursa transfer musim panas lalu, angka yang memecahkan rekor klub.
Sayangnya, investasi besar itu belum menghasilkan dampak sesuai harapan. Skuad Liverpool masih terlihat tidak seimbang.
Area sayap dianggap tetap bermasalah meski klub mengeluarkan dana besar. Banyak pemain baru juga belum mampu memberi pengaruh signifikan.
Jangan Lewatkan!
- Terancam Dipecat? Nasib Mikel Arteta di Arsenal Bisa Ditentukan dalam 3 Laga Terakhir
- Premier League Jadi Liga Paling Kompetitif di Eropa Musim Ini, Juara Masih Misterius!
- Manchester United Yakin Tak Ulangi Kesalahan Ole Gunnar Solskjaer dengan Michael Carrick
- Jadwal Liga Inggris Pekan Ini Live di SCTV dan Vidio, 16-20 Mei 2026
- Michael Carrick Terhalang Restu Sir Jim Ratcliffe untuk Jadi Manajer Permanen MU?
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Menguliti Liverpool dan Masalahnya Musim Ini
Liga Inggris 15 Mei 2026, 21:55
-
Jadwal Liga Inggris Pekan Ini Live di SCTV dan Vidio, 16-20 Mei 2026
Liga Inggris 15 Mei 2026, 18:05
-
Juventus Ngebet Datangkan Alisson Becker
Liga Italia 15 Mei 2026, 17:27
LATEST UPDATE
-
Prediksi Roma vs Lazio 17 Mei 2026
Liga Italia 15 Mei 2026, 22:58
-
Prediksi Juventus vs Fiorentina 17 Mei 2026
Liga Italia 15 Mei 2026, 22:57
-
Menguliti Liverpool dan Masalahnya Musim Ini
Liga Inggris 15 Mei 2026, 21:55
-
Prediksi Genoa vs Milan 17 Mei 2026
Liga Italia 15 Mei 2026, 21:30
LATEST EDITORIAL
-
Prediksi Starting XI Real Madrid Era Mourinho, Tanpa Vinicius dan Trent
Editorial 12 Mei 2026, 23:01






















KOMENTAR