
Bola.net - Chelsea kembali memasuki fase turbulensi setelah memecat Liam Rosenior dari kursi pelatih. Keputusan ini bukan sekadar reaksi atas hasil buruk, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih dalam.
Rosenior baru ditunjuk pada 6 Januari 2026 menggantikan Enzo Maresca. Namun, masa jabatannya hanya bertahan singkat di tengah tekanan besar Premier League.
Dalam 23 pertandingan, ia hanya mampu membawa Chelsea meraih 11 kemenangan. Statistik tersebut awalnya terlihat cukup kompetitif sebelum performa tim anjlok drastis.
Puncak krisis terjadi saat Chelsea menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol. Catatan ini menjadi yang terburuk sejak 1912, tahun tenggelamnya Titanic, sebuah anomali dalam sejarah panjang klub.
Rekor Buruk dan Keputusan Tak Terhindarkan

Kekalahan telak 0-3 dari Brighton menjadi titik akhir masa jabatan Rosenior. Dalam laga tersebut, Chelsea bahkan gagal mencatatkan satu tembakan tepat sasaran dengan xG hanya 0,4.
Data ini menunjukkan betapa tumpulnya lini serang The Blues dalam beberapa pekan terakhir. Minimnya kreativitas dan efektivitas menjadi masalah yang tak kunjung terpecahkan.
Rentetan lima kekalahan tanpa gol bukan hanya soal angka. Ini adalah indikator runtuhnya struktur permainan yang sebelumnya sempat terlihat menjanjikan pada awal kedatangan Rosenior.
Manajemen akhirnya mengambil keputusan cepat untuk menghentikan tren negatif tersebut. Stabilitas tim menjadi prioritas utama menjelang fase akhir musim.
Retakan di Ruang Ganti yang Tak Terlihat

Di balik performa buruk, muncul laporan tentang ketegangan di dalam ruang ganti. Beberapa sumber menyebut Rosenior menjadi figur yang memicu frustrasi di antara pemain.
Pandangan terhadap Rosenior memang beragam di dalam tim. Ada yang menilai ia sosok ramah dan profesional, tetapi tidak sedikit yang merasa kurang cocok dengan pendekatannya.
Beberapa pemain, khususnya yang berbahasa Spanyol, disebut lebih nyaman bekerja di bawah Enzo Maresca. Hal ini tercermin dari pernyataan Marc Cucurella dan Enzo Fernandez dalam wawancara mereka.
Keputusan rotasi pemain, termasuk kebijakan terhadap penjaga gawang dan menit bermain Josh Acheampong, juga menimbulkan ketidakpuasan. Situasi makin kompleks ketika pemain senior cenderung pasif dalam forum internal tim, mencerminkan hilangnya kepemimpinan yang solid di dalam skuad.
Sumber: BBC Sport
Klasemen Premier League 2025/2026
Baca Ini Juga
- Calum McFarlane Kembali Jadi Pelatih Sementara Chelsea
- Liam Rosenior Dipecat Chelsea Hanya Setelah 3 Bulan, Pengganti Sementara Diumumkan
- Jika Rumor Terealisasi, Begini Wajah Man United Dengan 2 Bek Baru Plus Gelandang Rp2,3 Triliun: Siap Bersaing Rebut Gelar Juara!
- Para Penyerang Chelsea Tumpul, Harapan ke Liga Champions Kian Semu
- PSG Tiba-Tiba Coba Serobot Liverpool Dalam Perburuan Winger Kandidat Pengganti Salah yang Bernilai Rp2 Triliun Ini
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
106 Hari yang Berujung Pemecatan: Kisah Singkat Liam Rosenior di Chelsea
Liga Inggris 23 April 2026, 00:24
-
Calum McFarlane Kembali Jadi Pelatih Sementara Chelsea
Liga Inggris 23 April 2026, 00:17
LATEST UPDATE
-
Hasil Leverkusen vs Bayern: Die Roten ke Final DFB Pokal, Mimpi Treble Terjaga
Bundesliga 23 April 2026, 04:25
-
Timnas Argentina: Siapa Saja yang Hampir Pasti Masuk Skuad Piala Dunia 2026?
Piala Dunia 23 April 2026, 01:00
-
106 Hari yang Berujung Pemecatan: Kisah Singkat Liam Rosenior di Chelsea
Liga Inggris 23 April 2026, 00:24
-
Calum McFarlane Kembali Jadi Pelatih Sementara Chelsea
Liga Inggris 23 April 2026, 00:17
-
Juventus Cari Alternatif: Alisson Sulit, De Gea Jadi Opsi
Liga Italia 22 April 2026, 23:23
LATEST EDITORIAL
-
7 Kandidat Pengganti Casemiro di Manchester United, Siapa Paling Ideal?
Editorial 22 April 2026, 15:08
-
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hugo Ekitike Usai Cedera Parah
Editorial 21 April 2026, 11:46
-
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid
Editorial 16 April 2026, 23:37



















KOMENTAR