Drama, Konflik, dan Kebangkitan: Kisah Inter Milan Juara di Era Cristian Chivu

Drama, Konflik, dan Kebangkitan: Kisah Inter Milan Juara di Era Cristian Chivu
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, merayakan kemenangan dalam pertandingan Serie A melawan Parma, Senin (4/5/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Luca Bruno

Bola.net - Perayaan gelar juara Inter musim ini terasa berbeda. Di tengah sorak-sorai San Siro, Cristian Chivu justru memilih berdiri di belakang, membiarkan para pemain menikmati momen yang mereka perjuangkan sepanjang musim.

Kendati demikian, di balik sikap sederhana itu, tersimpan kisah tentang bagaimana seorang pelatih membangkitkan tim yang sempat retak, kehilangan arah, bahkan dianggap sudah habis.

Inter akhirnya memastikan Scudetto ke-21 mereka, dan di balik pencapaian itu, ada peran besar Chivu yang bekerja dalam senyap, mengikat kembali ruang ganti yang nyaris pecah dan mengubah luka menjadi kekuatan.

1 dari 5 halaman

Dari Luka Musim Lalu ke Kebangkitan

Para pemain Inter Milan merayakan Scudetto ke-21 mereka setelah laga Serie A/Liga Italia antara Inter vs Parma di Milan, Italia, Minggu, 3 Mei 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Para pemain Inter Milan merayakan Scudetto ke-21 mereka setelah laga Serie A/Liga Italia antara Inter vs Parma di Milan, Italia, Minggu, 3 Mei 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Inter datang ke musim ini dengan beban berat. Mereka kehilangan gelar Serie A di hari terakhir musim 2024/2025, lalu dipermalukan PSG dengan skor telak di final Liga Champions hanya beberapa hari kemudian.

Situasi itu membuat banyak pihak menilai Inter sudah mencapai akhir siklus. Kepercayaan diri runtuh, dan fondasi tim mulai dipertanyakan.

Masalah semakin rumit ketika Lautaro Martinez secara terbuka mengkritik rekan setimnya, Hakan Calhanoglu, soal komitmen. Rumor transfer ke Galatasaray ikut memperkeruh suasana.

Dari luar, Inter terlihat seperti tim yang siap runtuh. Namun di dalam, cerita yang berbeda sedang dibangun.

2 dari 5 halaman

Peran Cristian Chivu

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu. (c) Spada/LaPresse via AP

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu. (c) Spada/LaPresse via AP

Chivu datang menggantikan Simone Inzaghi dengan pengalaman yang terbatas sebagai pelatih tim utama. Namun ia membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan statistik: empati.

Ia sendiri pernah melewati momen kritis dalam kariernya sebagai pemain, saat mengalami cedera kepala serius pada 2010. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap sepak bola dan kehidupan.

“Ini tim tidak pernah kehilangan kebersamaan,” kata Nicolo Barella, menggambarkan dampak pendekatan Chivu.

Alih-alih memaksakan ide baru, Chivu memilih menjaga stabilitas. Ia mempertahankan sistem 3-5-2 yang sudah dibangun sejak era Antonio Conte dan dikembangkan Inzaghi.

Keputusan itu terbukti krusial. Di tengah tekanan dan konflik, Inter tetap solid sebagai satu kesatuan.

3 dari 5 halaman

Mengatasi Krisis dan Cedera

Pemain Inter Milan Marcus Thuram (kiri) dan Nicolo Barella merayakan Scudetto usai laga Serie A/Liga Italia antara Inter vs Parma di Milan, Italia, Minggu, 3 Mei 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Pemain Inter Milan Marcus Thuram (kiri) dan Nicolo Barella merayakan Scudetto usai laga Serie A/Liga Italia antara Inter vs Parma di Milan, Italia, Minggu, 3 Mei 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Perjalanan menuju gelar tidak berjalan mulus. Inter dihantam cedera dan performa yang naik turun sepanjang musim.

Lautaro tetap tajam meski sempat absen dalam sejumlah laga, sementara Calhanoglu hanya tampil sporadis tapi tetap menentukan. Denzel Dumfries juga harus menepi lama karena cedera.

Di lini belakang, para pemain senior seperti Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij mulai tergerus usia. Rotasi dan manajemen pemain menjadi kunci.

Chivu juga berani memberi ruang bagi pemain muda seperti Francesco Pio Esposito. Ia menjadi bagian penting dalam transisi generasi di skuad Inter.

Semua itu membuat Inter tetap kompetitif, bahkan saat kondisi tim tidak ideal.

4 dari 5 halaman

Serangan Jadi Senjata Utama Inter Milan

Berbeda dengan tradisi Serie A yang identik dengan pertahanan kuat, Inter justru menang lewat produktivitas gol.

Mereka mencetak jauh lebih banyak gol dibanding rival seperti Napoli dan AC Milan.

Pendekatan ini menjadikan Inter sebagai tim yang lebih direct dan agresif. Bahkan di Eropa, hanya beberapa klub seperti Bayern Munich dan Barcelona yang lebih produktif.

Chivu membuktikan bahwa di Italia, kemenangan tidak selalu harus datang dari pertahanan terbaik. Kadang, mencetak lebih banyak gol sudah cukup untuk menjadi juara.

5 dari 5 halaman

Tantangan di Eropa dan Masa Depan

Meski dominan di liga, Inter masih menyisakan pekerjaan rumah di Eropa. Mereka tersingkir lebih awal dari Liga Champions, termasuk kekalahan mengejutkan dari Bodo/Glimt.

Kekalahan tersebut menunjukkan bahwa Inter masih perlu berkembang dalam laga-laga besar.

Presiden klub, Beppe Marotta, menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil keputusan berani yang diperhitungkan.

Sementara itu, direktur olahraga Piero Ausilio sudah menatap masa depan, termasuk rencana investasi pemain muda Italia.

Chivu sendiri tetap fokus. Setelah pesta gelar, ia langsung mengalihkan perhatian ke final Coppa Italia.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL