
Bola.net - Perayaan gelar juara Inter musim ini terasa berbeda. Di tengah sorak-sorai San Siro, Cristian Chivu justru memilih berdiri di belakang, membiarkan para pemain menikmati momen yang mereka perjuangkan sepanjang musim.
Kendati demikian, di balik sikap sederhana itu, tersimpan kisah tentang bagaimana seorang pelatih membangkitkan tim yang sempat retak, kehilangan arah, bahkan dianggap sudah habis.
Inter akhirnya memastikan Scudetto ke-21 mereka, dan di balik pencapaian itu, ada peran besar Chivu yang bekerja dalam senyap, mengikat kembali ruang ganti yang nyaris pecah dan mengubah luka menjadi kekuatan.
Dari Luka Musim Lalu ke Kebangkitan

Inter datang ke musim ini dengan beban berat. Mereka kehilangan gelar Serie A di hari terakhir musim 2024/2025, lalu dipermalukan PSG dengan skor telak di final Liga Champions hanya beberapa hari kemudian.
Situasi itu membuat banyak pihak menilai Inter sudah mencapai akhir siklus. Kepercayaan diri runtuh, dan fondasi tim mulai dipertanyakan.
Masalah semakin rumit ketika Lautaro Martinez secara terbuka mengkritik rekan setimnya, Hakan Calhanoglu, soal komitmen. Rumor transfer ke Galatasaray ikut memperkeruh suasana.
Dari luar, Inter terlihat seperti tim yang siap runtuh. Namun di dalam, cerita yang berbeda sedang dibangun.
Peran Cristian Chivu

Chivu datang menggantikan Simone Inzaghi dengan pengalaman yang terbatas sebagai pelatih tim utama. Namun ia membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan statistik: empati.
Ia sendiri pernah melewati momen kritis dalam kariernya sebagai pemain, saat mengalami cedera kepala serius pada 2010. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap sepak bola dan kehidupan.
“Ini tim tidak pernah kehilangan kebersamaan,” kata Nicolo Barella, menggambarkan dampak pendekatan Chivu.
Alih-alih memaksakan ide baru, Chivu memilih menjaga stabilitas. Ia mempertahankan sistem 3-5-2 yang sudah dibangun sejak era Antonio Conte dan dikembangkan Inzaghi.
Keputusan itu terbukti krusial. Di tengah tekanan dan konflik, Inter tetap solid sebagai satu kesatuan.
Mengatasi Krisis dan Cedera

Perjalanan menuju gelar tidak berjalan mulus. Inter dihantam cedera dan performa yang naik turun sepanjang musim.
Lautaro tetap tajam meski sempat absen dalam sejumlah laga, sementara Calhanoglu hanya tampil sporadis tapi tetap menentukan. Denzel Dumfries juga harus menepi lama karena cedera.
Di lini belakang, para pemain senior seperti Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij mulai tergerus usia. Rotasi dan manajemen pemain menjadi kunci.
Chivu juga berani memberi ruang bagi pemain muda seperti Francesco Pio Esposito. Ia menjadi bagian penting dalam transisi generasi di skuad Inter.
Semua itu membuat Inter tetap kompetitif, bahkan saat kondisi tim tidak ideal.
Serangan Jadi Senjata Utama Inter Milan
Berbeda dengan tradisi Serie A yang identik dengan pertahanan kuat, Inter justru menang lewat produktivitas gol.
Mereka mencetak jauh lebih banyak gol dibanding rival seperti Napoli dan AC Milan.
Pendekatan ini menjadikan Inter sebagai tim yang lebih direct dan agresif. Bahkan di Eropa, hanya beberapa klub seperti Bayern Munich dan Barcelona yang lebih produktif.
Chivu membuktikan bahwa di Italia, kemenangan tidak selalu harus datang dari pertahanan terbaik. Kadang, mencetak lebih banyak gol sudah cukup untuk menjadi juara.
Tantangan di Eropa dan Masa Depan
Meski dominan di liga, Inter masih menyisakan pekerjaan rumah di Eropa. Mereka tersingkir lebih awal dari Liga Champions, termasuk kekalahan mengejutkan dari Bodo/Glimt.
Kekalahan tersebut menunjukkan bahwa Inter masih perlu berkembang dalam laga-laga besar.
Presiden klub, Beppe Marotta, menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil keputusan berani yang diperhitungkan.
Sementara itu, direktur olahraga Piero Ausilio sudah menatap masa depan, termasuk rencana investasi pemain muda Italia.
Chivu sendiri tetap fokus. Setelah pesta gelar, ia langsung mengalihkan perhatian ke final Coppa Italia.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
AC Milan Segera Perpanjang Kontrak Christian Pulisic
Liga Inggris 27 Oktober 2026, 19:13
-
Jadwal Siaran Langsung Persib vs Melbourne Victory di ACL Two di RCTI
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 19:00
-
Bernardo Tavares Ingin Persebaya Punya Identitas Bermain Agresif
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 18:39
-
Sisi Versatile Rizky Ridho yang Dioptimalkan Shin Tae-yong
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 18:30
-
Hasil BRI Super League: Kartu Merah Warnai Kemenangan Borneo FC atas PSS
Bola Indonesia 27 Oktober 2026, 17:30
-
BRI Kepanjen Salurkan KUR Rp496 Miliar kepada 10 Ribu Nasabah, Dorong UMKM Naik Kelas
News 27 Oktober 2026, 17:27
-
Ini Satu Hal yang Buat Lamine Yamal Kalah dari Harry Kane dalam Ballon d'Or 2026
Liga Champions 27 Oktober 2026, 15:49
-
Barcelona Lewatkan Kesempatan Rekrut Bomber Tajam Club Brugge, Kini Menyesal?
Liga Spanyol 27 Oktober 2026, 15:42
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18
























KOMENTAR