
Bola.net - Manajer Michelin Motorsport, Piero Taramasso, angkat bicara soal kehebohan mengenai dugaan pelanggaran batas minimum tekanan ban di MotoGP baru-baru ini. Lewat GPOne, Rabu (11/5/2022), Taramasso menyatakan tak ada pihak yang curang, namun ia menegaskan terdapat pemakaian sensor berbeda di antara tim-tim peserta.
Batas minimum tekanan ban MotoGP adalah 1,9 bar atau 27,6 psi untuk ban depan dan 1,7 bar atau 24,6 psi untuk ban belakang. Namun, dugaan pelanggaran batas minimum ini terkuak ke publik setelah Mat Oxley, jurnalis Motor Sport Magazine, mendapatkan bocoran anomali data ban balapan di Jerez dari insinyur salah satu pabrikan.
Dari data itu, ada empat rider yang berkendara dengan tekanan ban yang tak sesuai regulasi. Mereka adalah Pecco Bagnaia (ban depan), Jorge Martin (ban depan), Andrea Dovizioso (ban belakang), dan Alex Rins (ban depan). Bagnaia dan Martin bahkan berkendara dengan tekanan ban depan di bawah regulasi sepanjang balapan (25 lap).
Insinyur terkait menyatakan praktik ini sudah dilakukan seluruh pabrikan selama bertahun-tahun, sejak Michelin mengambil alih peran Bridgestone sebagai suplier tunggal pada 2016. Namun, Taramasso menyebut praktik ini bukan pelanggaran karena tiap tim memakai sensor tekanan ban yang berbeda, sehingga toleransinya berbeda-beda pula.
Sudah Ada Rencana Seragamkan Sensor Mulai 2023

Taramasso menyatakan, musim ini seluruh pabrikan dan tim bersama Dorna Sports memang sepakat berbagi data tekanan ban. Langkah ini dilakukan demi mengamati cara kerja tiap sensor, sebelum diseragamkan pada 2023. Saat sudah diseragamkan, maka toleransinya akan sama, sehingga lebih mudah memantau kedisiplinan tiap tim.
"Data itu memang nyata, namun harus dijelaskan. Michelin menyuplai ban kepada semua partisipan MotoGP dan meminta batas minimum tekanan ban dihormati. Setelahnya, MSMA, IRTA, dan Dorna memutuskan untuk bekerja sama tahun ini dengan cara berbagi data semua rider," ungkap Taramasso.
"Ini dilakukan demi memahami sistem kerjanya, dan kemudian menerapkan aturan yang lebih tegas tahun depan, dengan sensor yang seragam, yang punya toleransi yang sama, dengan kanal transfer data yang hanya bisa diakses oleh Dorna dan IRTA. Dengan cara itu, perhitungan bisa dilakukan," lanjut pria Italia ini.
Taramasso menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga jenis sensor berbeda yang dipakai oleh 12 tim peserta MotoGP. Hal ini berbeda dengan MotoE, di mana Michelin juga menjadi suplier tunggal ban dan seluruh tim memakai sensor yang sama. Moto2 dan Moto3, yang memakai ban Dunlop, juga memakai sensor yang sama.
Beda Sensor, Beda Toleransi Penghitungan

"Cara itu (penyeragaman sensor) tak bisa dilakukan tahun ini, karena tim-tim yang ada memakai materi berbeda. Beberapa pakai McLaren, beberapa lagi pakai LDL, dan beberapa lainnya pakai 2D. Semuanya sensor dengan toleransi berbeda, dan kanal transmisinya terbuka, jadi semua orang bisa memodifikasi data itu, tak seperti di Moto2 dan MotoE," tutur Taramasso.
"Kini kami bekerja berdasarkan kepercayaan, semua tim tahu nilai-nilai apa yang harus dihormati, dan mereka tahu bahwa mereka tak bisa main-main dengan tekanan ban. Pasalnya, konsekuensinya bisa jadi bencana. Tak seorang pun berani berkendara dengan tekanan ban yang lebih rendah dari yang kami minta," lanjutnya.
Taramasso juga menyatakan, rendahnya tekanan ban tak berarti pembalap otomatis mendapatkan keuntungan, karena terkadang ada pula yang justru mendapatkan kesialan. Ia menambahkan bahwa main-main dengan tekanan bisa menyebabkan kerusakan pada ban, dan ini tentu membahayakan nyawa rider.
"Dalam MotoGP masa kini, tak ada yang main-main dengan tekanan ban, semua mencoba menaati batasan minimum, dan mereka tahu menurunkan tekanan ban terlalu jauh bisa bikin bannya rusak. Namun, bukan tugas Michelin untuk menilai apa yang harus dilakukan semua tim. Yang jelas, ada banyak parameter yang harus dipertimbangkan dalam menentukan tekanan," tutupnya.
Sumber: Motor Sport Magazine, GPOne
Baca Juga:
- Pecco Bagnaia Ingin Menang Lagi di Le Mans, Jack Miller Tekad Ulang Sukses 2021
- Fabio Quartararo Nantikan 'Rematch' dengan Pecco Bagnaia di Le Mans
- CEO Dorna Pasrah Suzuki Tinggalkan MotoGP: Tak Ada Solusinya
- Tak Muluk Bidik Podium, Marc Marquez Sekadar Cari Kemajuan di Le Mans
- Yamaha Minta Toprak Razgatlioglu Buru-Buru ke MotoGP Sebelum Jadi Rider Senior
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Suzuki Resmi Umumkan Rencana Mundur dari MotoGP pada Akhir 2022
Otomotif 12 Mei 2022, 15:29
-
Fabio Quartararo Nantikan 'Rematch' dengan Pecco Bagnaia di Le Mans
Otomotif 12 Mei 2022, 10:59
-
CEO Dorna Pasrah Suzuki Tinggalkan MotoGP: Tak Ada Solusinya
Otomotif 12 Mei 2022, 08:45
LATEST UPDATE
-
Sejarah Baru, Como Lolos Liga Champions untuk Pertama Kali!
Liga Italia 25 Mei 2026, 05:13
-
Kata-kata Allegri Setelah AC Milan Gagal Lolos Liga Champions
Liga Italia 25 Mei 2026, 05:09
-
AC Milan dan Juventus Gagal Lolos ke Liga Champions Musim Depan
Liga Italia 25 Mei 2026, 05:03
-
Man of the Match Torino vs Juventus: Dusan Vlahovic
Liga Italia 25 Mei 2026, 05:01
-
Rekap La Liga 2025/2026: Juara, Wakil Eropa, Degradasi dan Promosi
Liga Spanyol 25 Mei 2026, 05:00
-
Tangis Mohamed Salah
Liga Inggris 25 Mei 2026, 04:47
-
Janji Perubahan dari Arne Slot untuk Liverpool Musim Depan
Liga Inggris 25 Mei 2026, 04:28
-
Man of the Match Milan vs Cagliari: Gennaro Borrelli
Liga Italia 25 Mei 2026, 04:23
LATEST EDITORIAL
-
Ke Mana Pep Guardiola Setelah Man City? Ini 7 Kandidat Tujuannya
Editorial 20 Mei 2026, 16:16
-
Daftar Manajer Termuda Juara Premier League, Mikel Arteta Masuk
Editorial 20 Mei 2026, 14:19
-
5 Destinasi Potensial Dani Carvajal Setelah Tinggalkan Real Madrid
Editorial 19 Mei 2026, 10:00
-
4 Pelatih yang Bisa Gantikan Pep Guardiola di Manchester City
Editorial 19 Mei 2026, 09:39
-
5 Pemain yang Bisa Jadi Fondasi Jose Mourinho di Real Madrid
Editorial 18 Mei 2026, 12:25
























KOMENTAR