Jejak Langkah Roberto Martinez Meraih Sukses Jauh dari Kampung Halaman

Jejak Langkah Roberto Martinez Meraih Sukses Jauh dari Kampung Halaman
Pelatih Portugal Roberto Martinez tiba untuk laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Kroasia di Toronto, Kamis, 2 Juli 2026 (c) AP Photo/Stephanie Scarbrough

Bola.net - Portugal akan menghadapi Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bagi Roberto Martinez, pertandingan ini jauh lebih dari sekadar perebutan tiket menuju perempat final.

Di bangku cadangan Portugal berdiri seorang pria yang lahir, tumbuh, dan mengejar mimpi pertamanya di tanah Spanyol. Kini, jalan hidup membawanya kembali menghadapi negeri yang membentuk dirinya.

Jarak antara Balaguer dan stadion tempat Portugal bertanding memang ribuan kilometer. Namun, setiap langkah Martinez di panggung sepak bola dunia masih terasa dekat bagi kota kecil yang tak pernah melupakan anak kebanggaannya.

Saat peluit pertama berbunyi, hati Balaguer akan terbagi dua. Ada Spanyol, negara mereka. Ada pula Roberto Martinez, sosok yang hingga hari ini masih mereka anggap sebagai milik sendiri.

1 dari 3 halaman

Dari Jalanan Balaguer Menuju Panggung Dunia

Balaguer bukan kota yang akrab dengan gemerlap sepak bola. Berpenduduk kurang dari 20 ribu jiwa, kota di wilayah Catalonia itu menjadi tempat Roberto Martinez menghabiskan masa kecil sambil membawa bola ke mana pun ia pergi.

"Roberto tergila-gila pada sepak bola. Dia selalu membawa bola dan bermain bersama ayahnya saat jeda pertandingan," kenang Andreu Martinez, sahabat sekaligus tetangganya, kepada FIFA.

Pada usia 16 tahun, Martinez meninggalkan rumah demi bergabung dengan akademi Real Zaragoza. Debut di kasta tertinggi Liga Spanyol pada 1993 menjadi kebanggaan seluruh Balaguer, seolah kota kecil itu ikut tampil di lapangan.

Namun, sepak bola tidak selalu menghadirkan jalan yang lurus. Setelah kontraknya bersama Zaragoza berakhir, Martinez pulang tanpa kepastian dan gagal mendapatkan klub baru meski sempat menjalani beberapa kesempatan seleksi.

2 dari 3 halaman

Ketika Inggris Mengubah Takdir

Banyak pemain memilih bertahan di zona nyaman. Martinez justru mengambil keputusan yang terdengar nyaris mustahil pada musim panas 1995: menerima tawaran dari Wigan Athletic yang ketika itu bermain di kasta keempat Inggris.

"Itu seperti mendapatkan tiket ke bulan. Kami sama sekali tidak tahu apa pun tentang Wigan dan hanya sedikit memahami sepak bola Inggris," ujar Martinez saat mengenang momen tersebut kepada AS.

Keputusan yang semula tampak berisiko berubah menjadi titik balik hidupnya. Ia terpilih sebagai Pemain Terbaik Wigan pada musim pertama, kemudian dikenang sebagai salah satu legenda terbesar dalam sejarah klub.

Martinez kembali ke Wigan sebagai pelatih pada 2009. Empat tahun berselang, ia mencatat salah satu kejutan terbesar sepak bola Inggris dengan mengantarkan klub itu menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Manchester City yang bertabur bintang.

3 dari 3 halaman

Portugal Menjadi Rumah Baru

Karier kepelatihan Martinez terus berkembang bersama Everton dan Belgia sebelum Portugal mempercayakan kursi pelatih kepadanya pada 2023. Gelar UEFA Nations League 2025 menjadi bukti bahwa kepercayaan tersebut tidak keliru.

Kini, Portugal berharap kisah indah itu berlanjut di Piala Dunia 2026. Ironisnya, rintangan berikutnya datang dari Spanyol, negara yang memberinya bahasa, budaya, dan kenangan masa kecil.

Meski telah lama membangun kehidupan jauh dari kampung halaman, Martinez tidak pernah memutus ikatan dengan Balaguer. Ia masih berkumpul dengan mantan rekan setimnya, menikmati makanan khas daerah asalnya, dan pulang ketika memiliki kesempatan.

Ketika Portugal dan Spanyol bertemu di lapangan nanti, Balaguer kembali berada dalam dilema yang indah. Mereka mencintai Spanyol, tetapi juga ingin melihat putra kota mereka terus menulis sejarah bersama Portugal.

Sumber: FIFA


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL