
Bola.net - Atmosfer El Clasico akhir pekan ini terasa berbeda bagi Alvaro Arbeloa. Untuk pertama kalinya, mantan bek tangguh Real Madrid itu akan datang ke Camp Nou sebagai pelatih kepala Los Blancos.
Meski begitu, nama Arbeloa tidak pernah benar-benar jauh dari kontroversi saat berhadapan dengan Barcelona. Dari perang komentar dengan Gerard Pique hingga tudingan soal keberpihakan wasit, hubungan Arbeloa dengan rival abadi Madrid itu sudah panas sejak lebih dari satu dekade lalu.
Kini, dengan Barcelona berpeluang mengunci gelar La Liga jika terhindar dari kekalahan, sosok Arbeloa kembali menjadi pusat perhatian menjelang El Clasico terbaru.
Awal Rivalitas Arbeloa dengan Barcelona

Nama Arbeloa identik dengan era penuh tensi Real Madrid kontra Barcelona pada masa Jose Mourinho. Sebagai bek yang bermain agresif, ia kerap terlibat benturan keras dengan pemain Blaugrana, termasuk rekan-rekannya sendiri di timnas Spanyol.
Salah satu momen paling terkenal terjadi pada Agustus 2017 saat Madrid menghadapi Barcelona di final Supercopa de Espana.
Ketika Cristiano Ronaldo menerima kartu merah usai dianggap melakukan diving, Arbeloa meluapkan kemarahannya di media sosial. “ Mereka menertawakan kami. Memalukan,” tulis Arbeloa di X, yang saat itu masih bernama Twitter.
Madrid akhirnya tetap menang 3-1 lewat gol telat Marco Asensio. Arbeloa bahkan kembali menyindir dengan menyebut Madrid menang “bahkan tanpa 12 pemain”, sebuah sindiran yang dianggap mengarah kepada keberpihakan wasit kepada Barcelona.
Komentar-komentar semacam itu memperkuat citra Arbeloa sebagai salah satu figur Madrid yang paling vokal terhadap Barcelona.
Era Mourinho dan Clasico yang Penuh Ketegangan

Perseteruan Arbeloa dengan Barcelona mencapai puncaknya saat Mourinho menangani Madrid pada periode 2010 hingga 2013. Saat itu, setiap El Clasico nyaris selalu dipenuhi konflik di dalam maupun luar lapangan.
Arbeloa termasuk pemain paling loyal kepada Mourinho. Gaya bermain kerasnya berkali-kali memancing emosi pemain Barcelona.
Meski begitu, Arbeloa merasa tensi panas itu bermula setelah Barcelona menang 5-0 atas Madrid pada November 2010. Ia mengaku selebrasi Gerard Pique yang mengangkat lima jari sebagai simbol lima gol menjadi bahan bakar motivasi Madrid.
“Setelah kekalahan besar seperti itu, komentar mereka sangat menyakiti kami dan memengaruhi kami secara psikologis. Tetapi kemudian kami bisa mengalahkan mereka di Copa del Rey,” kata Arbeloa kepada majalah Jot Down pada 2014.
Final Copa del Rey 2011 sendiri juga diwarnai kontroversi ketika Arbeloa terlihat menginjak David Villa, yang juga rekan setimnya di timnas Spanyol.
Beberapa bulan kemudian, Arbeloa malah menanggapinya dengan santai. “Saya menendang Villa jauh lebih keras saat kami latihan bersama dibandingkan saat Clasico,” ujarnya sambil bercanda.
Perang Sindiran dengan Gerard Pique

Rivalitas pribadi Arbeloa dengan Gerard Pique kemudian berkembang menjadi perang komentar yang berlangsung bertahun-tahun.
Pada Desember 2015, Madrid didiskualifikasi dari Copa del Rey karena memainkan Denis Cheryshev yang tidak memenuhi syarat. Pique saat itu mengejek situasi tersebut melalui media sosial.
Arbeloa membalas dengan nada sarkastis. “Suatu hari nanti saya akan melihat teman saya Gerard tampil di Comedy Club dan berbicara soal Real Madrid,” katanya.
Pique kemudian membalas dengan sindiran yang lebih tajam. Ia mengatakan Arbeloa bukan temannya, hanya “sekadar kenalan”. Dalam pengucapan bahasa Spanyolnya, Pique secara sengaja menyindir julukan “cono” yang diberikan fans Barcelona kepada Arbeloa, karena dianggap “berguna seperti cone latihan” di lapangan.
Perseteruan mereka terus berlanjut dalam berbagai kesempatan. Pada 2016, Arbeloa kembali menyindir Barcelona soal bantuan wasit setelah Blaugrana kalah dari Real Sociedad.
Arbeloa Masih Membawa Bara Lama Sebagai Pelatih
Setelah pensiun, Arbeloa tetap aktif membela Madrid di ruang publik. Ia berulang kali mengkritik sistem perwasitan Spanyol dan menuduh Barcelona mendapat keuntungan dari keputusan wasit.
Salah satu komentarnya yang paling keras muncul setelah kartu merah Ronaldo pada 2017. “Menyakitkan melihat Real Madrid mendapat jumlah kartu merah yang sama dalam tiga pertandingan seperti Barcelona dalam lebih dari dua musim,” kata Arbeloa dalam sebuah acara sponsor klub.
Kini, setelah dipercaya menangani Madrid sejak Januari, Arbeloa kembali membawa sikap yang sama. Ia beberapa kali menyinggung kasus Negreira, investigasi terkait pembayaran Barcelona kepada mantan wakil ketua komite wasit Spanyol, Jose Maria Enriquez Negreira.
El Clasico yang Bisa Jadi Kesempatan Terakhir
Di tengah sorotan besar itu, posisi Arbeloa juga belum sepenuhnya aman. Laporan The Athletic menyebut Florentino Perez mempertimbangkan membawa kembali Jose Mourinho musim depan.
Isu tersebut otomatis memunculkan kembali memori era penuh kontroversi antara Mourinho dan Barcelona lebih dari satu dekade lalu.
Arbeloa sendiri menolak banyak berbicara soal masa depannya. Ia hanya menegaskan akan selalu melakukan apa yang terbaik untuk Real Madrid.
Situasi itu membuat laga di Camp Nou kali ini terasa semakin emosional. Bisa jadi, ini merupakan satu-satunya kesempatan Arbeloa memimpin Madrid di El Clasico sebagai pelatih kepala.
Di sisi lain, Barcelona tentu ingin menjadikan laga tersebut sebagai panggung pesta juara La Liga.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Drama di Balik Layar Real Madrid: Mbappe dan Rudiger Picu Ketegangan Jelang El Clasico
- Efek Domino Kemenangan PSG: Singkirkan Bayern Munchen, La Liga Malah Jadi Pemenang Sesungguhnya, Kok Bisa?
- Manchester United Tutup Pintu untuk Marcus Rashford di Old Trafford
- Barcelona Ditawari Wesley Fofana, Chelsea Sudah Tetapkan Harga
- Wojciech Szczesny Tolak Tawaran Klub Rival La Liga dan Pilih Bertahan di Barcelona
TAG TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Inter Milan Siapkan Tawaran Baru untuk Gelandang Liverpool
Liga Inggris 18 Agustus 2026, 07:27
-
Manchester United dan Para Rival yang Bisa Jegal Arsenal di Premier League 2026-27
Liga Inggris 18 Agustus 2026, 07:19
-
Inter Milan Bangkit Ketika Semua Mengira Mereka Sudah Mati
Liga Italia 18 Agustus 2026, 06:37
-
Juventus Dapat Kiper Tottenham, Luciano Spalletti: Saya Sangat Mengenalnya
Liga Italia 18 Agustus 2026, 06:32
-
Kylian Mbappe dan Refleksi Level yang Ingin Dilihat Real Madrid Sepanjang Musim
Liga Spanyol 18 Agustus 2026, 06:27
-
Rafael Leao Ditawarkan ke Roma, AC Milan Pasang Harga Anyar
Liga Italia 18 Agustus 2026, 05:55
-
RB Leipzig Ingin Pulangkan Nkunku dari AC Milan
Liga Italia 18 Agustus 2026, 05:49
-
Federico Valverde Bukan Toni Kroos, Mourinho Harus Ubah Perannya di Real Madrid
Liga Spanyol 18 Agustus 2026, 05:43
-
Belum Menyerah! Inter Milan Nego Liverpool Lagi untuk Curtis Jones
Liga Italia 17 Agustus 2026, 23:59
-
Dewata Challenge Series 2026: Eliano Reijnders Siap Bermain Lawan Bali United
Bola Indonesia 17 Agustus 2026, 23:36
-
Klub Saudi Pro League Bermiant Pada Pedro Neto, Chelsea Tergoda Jual?
Liga Inggris 17 Agustus 2026, 23:30
-
Real Madrid Siap Lepas Eduardo Camavinga ke MU, Minta Harga Segini
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 23:00
-
Michael Carrick Pelatih Bagus, Tapi Tidak Akan Sanggup Bawa MU Juara!
Liga Inggris 17 Agustus 2026, 22:34
-
Rodri Pilih Nomor Punggung Ini di Barcelona, Ada yang Harus Mengalah!
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 22:12
-
Mariano Peralta Merasa Makin Nyetel di Persib Bandung
Bola Indonesia 17 Agustus 2026, 22:12
LATEST EDITORIAL
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
-
5 Pemain yang Masih Bisa Direkrut Manchester United Sebelum Bursa Transfer Ditutup
Editorial 4 Agustus 2026, 13:00
-
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United Pekan Ini
Editorial 3 Agustus 2026, 10:59























KOMENTAR