Kisah Carson Branstine: Cuma Punya Uang Rp400 Ribu, Jadi Sopir Antar Makanan Demi Main di Wimbledon 2025

Bola.net - Panggung Grand Slam Wimbledon selalu melahirkan kisah-kisah inspiratif yang luar biasa dari para atletnya. Salah satu cerita paling menyentuh tahun ini datang dari petenis asal Kanada, Carson Branstine, yang berhasil melakoni debut impiannya di All England Club.
Namun, di balik keberhasilannya menembus babak utama dan berhadapan dengan petenis nomor satu dunia, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang sangat mengharukan. Branstine harus melalui jalan terjal yang berliku, termasuk bekerja sebagai sopir antar makanan untuk menyambung hidup dan mengejar mimpinya.
Dari titik terendah dengan saldo rekening yang nyaris kosong, ia bangkit dengan semangat pantang menyerah dan berjuang melewati tiga babak kualifikasi yang melelahkan. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa kerja keras, tekad yang kuat, dan keberanian untuk tidak menyerah akan selalu membuahkan hasil yang manis.
Perjalanan seorang Carson Branstine ini layak menjadi suluh inspirasi bagi siapa pun yang tengah berjuang meraih mimpi di tengah keterbatasan. Mari kita simak lebih dalam kisah perjuangannya yang luar biasa dari jalanan Los Angeles hingga ke lapangan suci Wimbledon.
Sempat Malu Akui Jadi Sopir Antar Makanan

Dalam sebuah wawancara di Tennis Channel, Carson Branstine secara terbuka membagikan kisah perjuangan hidupnya yang belum pernah terungkap sebelumnya. Ia mengakui sempat mengambil pekerjaan sampingan sebagai sopir Uber Eats untuk bisa terus membiayai karier tenisnya yang membutuhkan biaya besar.
Pada awalnya, ia merasa sedikit malu dan ragu untuk menceritakan pekerjaan sampingannya tersebut kepada publik. Ia sempat khawatir seluruh dunia akan mengetahui kesulitan finansial yang tengah dihadapinya sebagai seorang atlet muda yang berjuang sendirian.
"Ya, itu benar. Awalnya saya sedikit malu saat memberitahu kalian tentang hal ini," kata Branstine dengan jujur. "Saya sempat berpikir, 'Oh, apakah seluruh dunia akan tahu tentang ini?'"
"Tetapi ya, pada bulan Februari, karena Anda tahu saat Anda bermain di level ITF dan membiayai seluruh hidup Anda sendiri sebagai seorang dewasa muda, segalanya menjadi sangat mahal," jelasnya mengenai realita yang ia hadapi.
Berada di Titik Terendah dalam Hidup
Keputusan Branstine untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai sopir antar makanan bukanlah tanpa sebuah alasan yang mendesak. Ia mengaku sempat berada di titik terendah dalam hidupnya, di mana ia benar-benar kehabisan uang bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Biaya hidup yang sangat tinggi di California Selatan membuatnya semakin tertekan secara finansial. Ia mengenang bagaimana hanya untuk mengisi bensin mobil saja sudah menjadi beban yang sangat berat dan menguras habis isi rekeningnya.
"Tinggal di California Selatan, hanya untuk mengisi tangki bensin mobil saja sudah sangat menguras rekening saya," kenangnya.
"Dan saat itu saya berpikir dalam hati, 'Ya Tuhan, bagaimana saya bisa bermain di sebuah turnamen, jangankan itu, untuk hidup saja bagaimana?'"
Menangis Saat Melihat Saldo Rekening
Momen paling menyedihkan dalam hidup Branstine terjadi hanya beberapa pekan sebelum ia secara ajaib berhasil mencapai final turnamen WTA pertamanya di Cancun. Ia menemukan fakta pahit bahwa saldo di rekening banknya sudah nyaris kosong.
Melihat kenyataan tersebut, ia pun tak kuasa menahan tangis dan segera menghubungi beberapa temannya untuk berbagi beban. Namun, ia tidak berani memberitahu orang tuanya karena takut mereka akan marah dan kecewa dengan kondisinya.
"Saya melihat rekening saya pada suatu pagi dan saya melihat hanya ada $26 (sekitar £19) di dalamnya. Dan saya menangis, saya menelepon beberapa teman saya," ungkapnya.
"Saya tidak menelepon orang tua saya. Saya berpikir, 'Ya Tuhan, jika mereka mendengar tentang ini, mereka pasti akan sangat marah pada saya'," lanjut Branstine.
Bangkit dari Keterpurukan dan Wujudkan Mimpi
Setelah melalui momen keterpurukan itu, Branstine memutuskan untuk tidak terus meratapi nasib dan langsung mengambil tindakan nyata. Tanpa banyak berpikir, ia mulai bekerja sebagai sopir antar makanan di sekitar Los Angeles setelah selesai menjalani sesi latihan tenisnya.
Kerja keras dan semangat pantang menyerahnya itu akhirnya terbayar lunas dengan sebuah pencapaian yang luar biasa. Ia berhasil lolos dari babak kualifikasi dan melakoni debut impiannya di babak utama Wimbledon, bahkan berkesempatan menghadapi petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka.
"Jadi saya berpikir, 'Oke, ini saatnya, Anda tidak perlu banyak berpikir. Saya akan melakukannya saja'," tegasnya mengenang momen saat ia mengambil keputusan besar itu.
"Jadi saya berkeliling Los Angeles mengantarkan makan malam orang-orang setelah selesai berlatih setiap harinya," pungkasnya.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Roma vs Juventus: Nicolo Pisilli
Liga Italia 2 Maret 2026, 04:54
-
Man of the Match Arsenal vs Chelsea: Gabriel Magalhaes
Liga Inggris 2 Maret 2026, 04:28
-
Prediksi Real Madrid vs Getafe 3 Maret 2026
Liga Spanyol 2 Maret 2026, 03:00
-
Man of the Match Man United vs Crystal Palace: Bruno Fernandes
Liga Inggris 1 Maret 2026, 23:38
-
Kemenangan Man United Ternoda dengan Cedera Luke Shaw
Liga Inggris 1 Maret 2026, 23:36
-
Hasil Man Utd vs Crystal Palace: Setan Merah 'Memasak' Lagi!
Liga Inggris 1 Maret 2026, 23:02
-
Hasil BRI Super League: Persis Solo dan Bhayangkara FC Ukir Kemenangan
Bola Indonesia 1 Maret 2026, 22:32
LATEST EDITORIAL
-
Boros Tanpa Hasil, 5 Kesalahan Transfer Terbesar Manchester United
Editorial 27 Februari 2026, 16:12
-
10 Kiper Terhebat dalam Sejarah Premier League Menurut Jamie Carragher
Editorial 25 Februari 2026, 16:24
-
5 Klub MLS yang Paling Mungkin Mendatangkan Casemiro
Editorial 25 Februari 2026, 14:47
-
6 Pemain Arsenal yang Kontraknya Habis pada 2027, Siapa Bertahan dan Siapa Dijual?
Editorial 24 Februari 2026, 14:21
























KOMENTAR