Kebobolan 13 Gol dari 4 Laga: Ada Apa dengan Lini Belakang Juventus?

Kebobolan 13 Gol dari 4 Laga: Ada Apa dengan Lini Belakang Juventus?
Pemain Juventus Federico Gatti dan pemain Galatasaray, Victor Osimhen, berebut bola dalam laga leg pertama play-off Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Khalil Hamra

Bola.net - Juventus kembali dipermalukan di Liga Champions 2025/2026. Pada matchday pertama babak play-off, Bianconeri tumbang 2-5 meski sempat unggul 2-1 di babak pertama.

Duel yang berlangsung di RAMS Park, Rabu (18/2) dini hari WIB, menjadi tamparan keras bagi wakil Italia tersebut. Lima gol bersarang ke gawang Juventus dalam satu laga.

Catatan itu terasa janggal untuk klub dengan tradisi pertahanan kuat. Ini menjadi kali pertama Juventus kebobolan lima gol dalam satu pertandingan sejak format baru Liga Champions diterapkan.

Kekalahan ini bukan insiden tunggal. Tren performa Juventus menunjukkan penurunan signifikan, terutama dalam aspek bertahan.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

1 dari 3 halaman

Rekor Buruk dan Rapuhnya Pertahanan

Pemain Juventus, Khephren Thuram (kiri), dan pemain Galatasaray, Baris Yilmaz, berebut bola dalam laga leg pertama play-off Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Khalil Hamra

Pemain Juventus, Khephren Thuram (kiri), dan pemain Galatasaray, Baris Yilmaz, berebut bola dalam laga leg pertama play-off Liga Champions, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. (c) AP Photo/Khalil Hamra

Kebobolan lima gol menegaskan adanya masalah struktural di lini belakang. Stabilitas yang selama ini menjadi identitas Juventus terlihat menghilang.

Dalam empat laga terakhir di semua kompetisi, Juventus kalah tiga kali dan hanya sekali imbang. Selama periode itu, mereka kebobolan 13 gol.

Sebelumnya, Juventus kemasukan tiga gol saat takluk dari Atalanta dan Inter Milan. Mereka juga kebobolan dua kali ketika bermain imbang melawan Lazio.

Data tersebut memperlihatkan pola yang konsisten: pertahanan Juventus mudah ditembus. Intensitas, koordinasi, dan transisi bertahan menjadi titik lemah yang berulang.

2 dari 3 halaman

Pengakuan Spalletti: Ada yang Salah

Pelatih Juventus, Luciano Spalletti. (c) AP Photo/Philippe Magoni

Pelatih Juventus, Luciano Spalletti. (c) AP Photo/Philippe Magoni

Kartu merah Juan Cabal dan cedera Gleison Bremer memang memengaruhi jalannya laga. Namun, pelatih Luciano Spalletti tidak menjadikannya alasan utama.

Ia mengakui ada persoalan mendasar dalam cara timnya bertahan. Pendekatan taktik dinilai belum berjalan optimal.

“Saya yakin kita bisa meringankan beban pertahanan jika kita mampu bermain sepak bola. Jika kita membangun barikade dan melakukan serangan balik, kita tidak memiliki pemain yang cocok untuk pendekatan seperti itu,” kata Spalletti.

“Jadi saya percaya menyerang adalah bentuk pertahanan terbaik, mengambil inisiatif. Jika kita turun di bawah standar kualitas kita, maka kita selalu berisiko kebobolan gol," tegas Spalletti.

Sumber: Opta, Football Italia


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL