Bola.net - Piala Dunia 2010 merupakan salah satu periode tergelap dalam sejarah partisipasi Italia di turnamen akbar empat tahunan tersebut. Mereka gagal lolos dari fase grup dengan cara yang cukup memalukan, yakni finis di posisi terbawah. Padahal, Azzurri datang sebagai juara bertahan.
Ya, empat tahun sebelumnya di Jerman, diselimuti pesimisme menyusul prahara akibat skandal Calciopoli yang menghantam Calcio, Fabio Cannavaro dan kawan-kawan meraih gelar juara dunia keempatnya.
Kini, Piala Dunia 2014 Brasil sudah di depan mata. Italia pun telah memastikan diri berlaga di putaran utama. Sanggupkah mereka meraih gelarnya yang kelima dan berdiri sejajar dengan Selecao? Biarlah pertanyaan tersebut terjawab pada waktunya nanti.
Sebelum itu, mari kita segarkan kembali ingatan mengenai perjalanan Italia ketika terakhir kali mereka berdiri gagah di puncak jagat sepak bola. [initial]
Skuat

Kiper:
Gianluigi Buffon (28 tahun, Juventus)
Angelo Peruzzi (36 tahun, Lazio)
Marco Amelia (24 tahun, Livorno)
Belakang:
Cristian Zaccardo (24 tahun, Palermo)
Fabio Grosso (28 tahun, Palermo)
Fabio Cannavaro (32 tahun, Juventus)
Andrea Barzagli (25 tahun, Palermo)
Alessandro Nesta (30 tahun, AC Milan)
Gianluca Zambrotta (29 tahun, Juventus)
Massimo Oddo (29 tahun, Lazio)
Marco Materazzi (32 tahun, Inter Milan)
Tengah:
Daniele De Rossi (22 tahun, AS Roma)
Gennaro Gattuso (28 tahun, AC Milan)
Mauro Camoranesi (29 tahun, Juventus)
Simone Barone (28 tahun, Palermo)
Simone Perrotta (28 tahun, AS Roma)
Andrea Pirlo (27 tahun, AC Milan)
Depan:
Alessandro Del Piero (31 tahun, Juventus)
Luca Toni (29 tahun, Fiorentina)
Francesco Totti (29 tahun, AS Roma)
Alberto Gilardino (23 tahun, AC Milan)
Vincenzo Iaquinta (26 tahun, Udinese)
Filippo Inzaghi (32 tahun, AC Milan)
*Usia dan klub disesuaikan dengan saat turnamen digelar.
Grup

Ghana
Debutan di Piala Dunia.
Republik Ceko
Debutan di Piala Dunia
Amerika Serikat
Prestasi terbaik di Piala Dunia: semifinal 1930, kalah 1-6 melawan Argentina.

(Klasemen akhir Grup E © Wikipedia).
Start Sempurna

Gol pembuka diciptakan oleh Andrea Pirlo pada menit 40, sedangkan Vincenzo Iaquinta melengkapi performa apik Italia dengan finishing-nya di menit 83.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Andrea Pirlo (Italia)
Start yang sempurna oleh Italia.
Nyaris Disakiti Paman Sam

Italia unggul terlebih dahulu melalui Alberto Gilardino meneruskan free kick Andrea Pirlo di menit 22. Namun, lima menit berselang, own goal Cristian Zaccardo membuat kedudukan kembali sama kuat dan bertahan hingga peluit panjang.
Sampai final, tak ada lagi gol yang bersarang di gawang Italia.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Kasey Keller (Amerika Serikat)
Salah satu momen paling diingat dalam laga ini adalah kartu merah Daniele De Rossi akibat sikutannya terhadap striker Amerika Serikat Brian McBride.
Kemenangan Yang Mahal

Penggantinya adalah Marco Materazzi. Dari sinilah Materazzi kemudian menjadi salah satu bagian integral Italia sepanjang turnamen.
Di laga ini, Materazzi mencetak gol pembuka pada menit 26 dan tampil solid bersama sang kapten Fabio Cannavaro di jantung pertahanan Italia. Gol Filippo Inzaghi tiga menit jelang bubaran pun menegaskan kemenangan Italia.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Marco Materazzi (Italia)
Italia finis sebagai juara grup dengan keunggulan satu poin atas Ghana dan lolos ke babak berikutnya.
Melangkah Diiringi Dewi Fortuna

Secara kualitas, Australia tentu di bawah Brasil maupun Azzurri sendiri. Seharusnya, Italia menang bisa dengan mudah. Namun, itu tidak terjadi. Kartu merah Marco Materazzi di menit 50 membuat keadaan jadi sulit bagi mereka.
Sepanjang laga, Gianluigi Buffon beberapa kali melakukan penyelamatan untuk mengamankan gawang Italia dari gempuran Mark Viduka dan kawan-kawan. Hingga habis waktu normal, skor 0-0 tetap tak berubah. Di masa injury time, momen krusial tercipta.
Fabio Grosso dijatuhkan di area terlarang dan wasit Luis Medina Cantalejo menunjuk titik putih. Para pemain Australia memprotes keputusan pengadil asal Spanyol tersebut, tapi keputusannya tak berubah. Francesco Totti mengeksekusinya dengan sempurna dan Socceroos pun terluka.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Gianluigi Buffon (Italia)
Kelolosan Italia ke perempat final dinilai kontroversial oleh banyak pihak. Beberapa menganggap langkah Italia diiringi Dewi Fortuna.
Kali Ini, Tak Ada Keraguan

Gennaro Gattuso bermain tak kenal lelah di lini tengah Italia sebagai perusak tempo permainan dan pemutus alur serangan Ukraina. Gol pembuka Gianluca Zambrotta di menit 6 serta brace Luca Toni pada menit 59 dan 69 sukses mengakhiri perlawanan Ukraina.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Gennaro Gattuso (Italia)
Italia pun melangkah ke semifinal. Dari semua pilihan, lawan mereka berikutnya adalah yang terberat.
Westfalenstadion Jadi Saksi

Usai melewati Swedia dan Argentina, Jerman berambisi memberikan yang terbaik untuk para pendukungnya, yakni kelolosan ke partai final. Namun, sepertinya Jerman salah pilih lawan dan di waktu yang tidak tepat pula. Saat itu, Italia sedang berada dalam performa puncak.
Barisan pertahanan Italia yang digalang Fabio Cannavaro dan Marco Materazzi ibarat dinding baja yang sanggup meredam setiap serangan Jerman. Sepanjang laga, Michael Ballack dan kawan-kawan bahkan hanya diizinkan melepas 2 shot on target (dari total 13 shot). Semuanya dimentahkan dengan brilian oleh Gianluigi Buffon di bawah mistar.
Sementara itu, lini tengah Italia dengan Andrea Pirlo sebagai porosnya sanggup mengalahkan Jerman dalam urusan ball possession hingga 57%. Hasilnya, distribusi bola untuk Francesco Totti dan Luca Toni di front line pun mengalir lancar.
Italia membukukan total 15 shot. Dari jumlah itu, 10 mengarah tepat sasaran ke gawang Jens Lehmann dan dua di antaranya sukses dikonversi menjadi gol kemenangan.
Dua gol itu sendiri tercipta saat extra time lewat sepakan terarah Fabio Grosso hasil assist brilian Pirlo pada menit 119 serta counter attack cepat di mana Alberto Gilardino memberi jalan bagi sesama substitute Alessandro Del Piero untuk menyelesaikannya dengan finishing berkelas pada menit 121. Selebrasi Grosso sendiri merupakan salah satu momen paling tak terlupakan dari Piala Dunia 2006.

(© Wikipedia)
Man of the match: Andrea Pirlo (Italia)
Statistik dan performa di atas arena tidak berbohong. Italia lolos ke partai pemungkas karena memang lebih layak. Westfalenstadion saksinya.
Akhir Manis di Berlin

Piala Dunia 2006 sendiri bisa dibilang sebagai akhir dari generasi emas Prancis bersama maestro jenius yang bernama Zinedine Zidane. Melihat perjalanannya hingga final dengan mengalahkan Spanyol, Brasil dan Portugal serta kualitas tim yang dinilai sedikit di atas Italia, Les Bleus pun tak pelak lebih diunggulkan. Terlebih lagi, Italia dianggap sudah kehabisan tenaga akibat laga penuh tensi dan menguras energi melawan Jerman di empat besar.
Zidane pun diyakini bisa melalui laga terakhir sebelum pensiun dengan raihan gelar Piala Dunia bersama negaranya.
Namun, Italia menyiapkan sebuah skenario berbeda. Marco Materazzi jadi salah satu aktor utamanya.
Pada menit 7, wasit Horacio Elizondo asal Argentina memberi Prancis hadiah penalti yang cukup kontroversial setelah Materazzi dianggap menjatuhkan Florent Malouda di area terlarang, padahal kontak antara kedua pemain itu terbilang minimal. Zidane lalu dengan dinginnya mengecoh Gianluigi Buffon untuk membawa Prancis memimpin.
Pada menit 19, berawal dari set-piece Andrea Pirlo, kedudukan kembali imbang setelah Materazzi menaklukkan Fabien Barthez dengan sundulannya. Skor 1-1 bertahan hingga habis waktu normal. Laga berlanjut ke extra time.
Di sinilah, tepatnya pada menit 110, sebelum laga berlanjut ke adu penalti, terjadi sebuah insiden yang melekat kuat dalam ingatan publik dunia. Gara-gara terprovokasi, Zidane menanduk dada Materazzi dan menerima kartu merah!
Di babak adu penalti, Prancis berada dalam situasi terjepit setelah eksekusi David Trezeguet tak menemui sasaran. Italia berada di atas angin berkat penalti sukses Pirlo, Materazzi, Daniele De Rossi dan Alessandro Del Piero. Dengan keadaan unggul 4-3, Fabio Grosso melangkah sebagai penendang kelima. Penaltinya sempurna dan Italia keluar sebagai juara.

(© Wikipedia)
Man of the Match: Andrea Pirlo (Italia)
Bukan ending yang ideal bagi pemain sekelas dan sehebat Zidane meski dia dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen oleh FIFA. Sebaliknya bagi Italia, ini adalah akhir yang sangat manis dan indah.
Berangkat dengan sejuta pesimisme dan keraguan di tengah prahara, Azzurri justru menjadikannya motivasi untuk menaklukkan dunia.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
FIFA dan FIFPro Rilis 15 Nominasi Gelandang Terbaik Dunia
Piala Dunia 6 Desember 2013, 19:49
-
Italia 2006, Menaklukkan Dunia di Tengah Prahara
Editorial 6 Desember 2013, 11:37
-
Bertandang Dall'Ara, Juve Tanpa Sang Jendral
Liga Italia 6 Desember 2013, 01:15
-
Preview: Bologna vs Juve, Perlebar Jarak
Liga Italia 5 Desember 2013, 11:48
-
Ingin Beri Ballon d'Or, Pogba Sebut Pirlo Inspirasinya
Liga Italia 5 Desember 2013, 11:14
LATEST UPDATE
-
Tottenham Sepakat Transfer Savinho dari Man City, Tembus 75 Juta Pounds
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 14:21
-
Prediksi Manchester City vs Bournemouth 23 Agustus 2026
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 14:00
-
2 Klub Premier League Dekati Gabriel Jesus, Arsenal Siap Lepas?
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 13:52
-
Jadwal Lengkap Premier League 2026/2027
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 13:45
-
Jadwal Lengkap La Liga 2026/2027
Liga Spanyol 21 Agustus 2026, 13:44
-
Jadwal Lengkap Serie A 2026/2027
Liga Italia 21 Agustus 2026, 13:34
-
5 Pertanyaan Besar untuk Real Madrid
Liga Spanyol 21 Agustus 2026, 13:18
-
Michael Carrick Bantah Klaim Manchester United Dapat Start Mudah di Premier League
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 13:14
-
Jadwal Serie A Pekan Ini, 22-25 Agustus 2026
Liga Italia 21 Agustus 2026, 12:32
-
Siapa Kapten Ideal Real Madrid di Era Mourinho?
Liga Spanyol 21 Agustus 2026, 12:11
-
Pemain-pemain Berkaki Cepat di Premier League Musim Ini
Liga Inggris 21 Agustus 2026, 11:13
-
Arda Guler, Perkembangan Kecilnya Bisa Beri Dampak Besar pada Permainan Real Madrid
Liga Spanyol 21 Agustus 2026, 09:47
-
Diego Moreira: Ambisi, Target, dan Karakter Sang Pemain Baru AC Milan
Liga Italia 21 Agustus 2026, 07:39
LATEST EDITORIAL
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
-
5 Pemain yang Masih Bisa Direkrut Manchester United Sebelum Bursa Transfer Ditutup
Editorial 4 Agustus 2026, 13:00
-
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United Pekan Ini
Editorial 3 Agustus 2026, 10:59


























KOMENTAR