4 Klub Premier League Bisa Tuntut Manchester City, Nilai Kompensasinya Tembus Rp4 Triliun

4 Klub Premier League Bisa Tuntut Manchester City, Nilai Kompensasinya Tembus Rp4 Triliun
Bendera sepak pojok berlogo Manchester City di Etihad Stadium. (c) AP Photo/Jon Super

Bola.net - Manchester City berpotensi menghadapi tuntutan kompensasi bernilai lebih dari 200 juta pounds atau sekitar Rp4,7 triliun jika akhirnya dinyatakan bersalah dalam kasus pelanggaran aturan keuangan Premier League. Setidaknya empat klub disebut telah mempertahankan hak mereka untuk menempuh jalur hukum terkait kerugian yang mereka klaim akibat kasus tersebut.

Arsenal, Manchester United, Liverpool dan Tottenham Hotspur termasuk klub yang telah mempertahankan hak untuk mengajukan tuntutan berdasarkan Section W dalam regulasi Premier League. Langkah tersebut dilakukan sebelum batas waktu pengajuan klaim berakhir.

Kasus Manchester City mencakup dugaan pelanggaran finansial dalam periode 2009 hingga 2018. Beberapa klub menilai dampak dari dugaan pelanggaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan perebutan gelar, tetapi juga potensi pendapatan yang hilang dari kompetisi dan kesempatan lainnya.

Namun, tuntutan kompensasi belum dapat diajukan saat ini. Proses tersebut baru bisa berjalan setelah seluruh perkara Manchester City selesai, termasuk tahapan banding yang diperkirakan akan ditempuh klub.

1 dari 4 halaman

Empat Klub Pertahankan Hak Menggugat

Arsenal disebut menjadi klub pertama yang mempertahankan hak untuk mengajukan klaim kompensasi terkait kasus Manchester City. Tottenham Hotspur, Liverpool dan Manchester United kemudian melakukan langkah serupa sebelum batas waktu yang ditentukan berakhir.

Manchester United dan Tottenham Hotspur tidak memberikan komentar ketika dimintai tanggapan mengenai perkara tersebut. Sementara itu, sejumlah klub lain juga disebut telah berdiskusi dengan firma hukum untuk mengetahui apakah mereka masih memiliki peluang mengajukan tuntutan.

Masalahnya, klub yang tidak mempertahankan haknya sebelum batas waktu berakhir menghadapi persoalan hukum tersendiri. Ada pandangan bahwa waktu yang telah berlalu membuat klaim tersebut sulit dilakukan, meski regulasi dinilai masih menyisakan ruang untuk argumentasi hukum.

Para pengacara dapat berargumen bahwa seluruh persoalan merupakan bagian dari satu proses yang sudah dimulai sebelum batas waktu berakhir. Karena itu, kemungkinan klaim dari klub lain masih menjadi wilayah yang belum sepenuhnya jelas.

2 dari 4 halaman

Kerugian Tidak Hanya soal Gelar

Manchester United dan Liverpool memiliki contoh kerugian yang berkaitan langsung dengan perebutan gelar Premier League. Manchester United finis sebagai runner-up pada musim 2011/2012 dan 2017/2018, sedangkan Liverpool berada di posisi kedua pada 2013/2014.

Manchester City juga lolos ke Liga Champions pada setiap musim dalam periode 2009/2010 hingga 2017/2018. Karena itu, potensi klaim tidak hanya terbatas pada kerugian akibat gagal menjadi juara atau kehilangan pendapatan dari satu musim.

Kerugian yang disebut dalam proses tersebut juga dapat mencakup "loss of chance" atau kehilangan kesempatan pada musim-musim berikutnya. Kesempatan memperoleh pendapatan komersial juga berpotensi menjadi bagian dari perhitungan klaim.

Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebut klaim yang berhasil dapat bernilai lebih dari 200 juta pounds bagi sebagian klub. Namun, nilai akhirnya tentu akan bergantung pada dasar hukum dan perhitungan kerugian yang nantinya diajukan.

3 dari 4 halaman

Kasus Burnley Jadi Acuan

Salah satu perkara yang menjadi rujukan adalah tuntutan Burnley terhadap Everton yang menghasilkan keputusan pada Juni tahun ini. Komisi independen memutuskan Everton harus membayar 35,1 juta pounds kepada Burnley setelah pelanggaran aturan Profitability and Sustainability Rules dinilai memberikan keuntungan olahraga.

Everton mengakhiri musim 2021/2022 di posisi ke-16 dengan 39 poin. Burnley terdegradasi setelah finis di peringkat ke-18 dengan 35 poin.

Kasus tersebut menjadi contoh bahwa dugaan pelanggaran aturan finansial dapat berujung pada tuntutan kompensasi dari klub lain yang merasa dirugikan. Perkara Manchester City memiliki cakupan yang jauh lebih panjang sehingga kemungkinan klaimnya juga dapat mencakup lebih banyak aspek.

Namun, kasus Burnley dan Everton tidak secara otomatis menentukan nilai atau hasil tuntutan terhadap Manchester City. Setiap klaim nantinya tetap harus dinilai berdasarkan fakta, aturan dan kerugian yang dapat dibuktikan.

4 dari 4 halaman

Manchester City Masih Bisa Banding

Manchester City diperkirakan akan menggunakan seluruh jalur banding yang tersedia jika hasil akhir perkara menyatakan mereka bersalah atas sebagian besar dakwaan. Klub selama ini konsisten membantah tuduhan pelanggaran aturan keuangan yang diajukan Premier League.

Dalam pernyataan terbaru, Manchester City menegaskan proses Premier League masih berlangsung dan sejumlah tahapan penting belum selesai. Klub juga menekankan bahwa proses tersebut berada dalam kerahasiaan yang ketat.

"Proses Premier League masih berlangsung, dengan sejumlah elemen penting yang harus diselesaikan dan tunduk pada kerahasiaan yang ketat. Karena itu, posisi Manchester City tetap konsisten dengan pernyataan klub pada Februari 2023," demikian pernyataan klub.

Manchester City juga menyatakan telah menghormati proses hukum selama delapan tahun dengan harapan Premier League bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak dan adil. Selama proses banding belum selesai, klub-klub yang mempertahankan hak untuk menuntut kompensasi masih harus menunggu sebelum dapat memulai proses hukum mereka.

Sumber: Independent


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL