Carrick Effect di Old Trafford: Derby Menang, Manchester United Terlihat Hidup Lagi

Carrick Effect di Old Trafford: Derby Menang, Manchester United Terlihat Hidup Lagi
Pelatih Manchester United, Michael Carrick bersalaman dengan penyerang MU, Matheus Cunha usai laga melawan Manchester City, 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Bola.net - Ada sesuatu yang terasa berbeda di Old Trafford saat Manchester United meraih kemenangan ini. Hasil tersebut memberi sinyal bahwa MU mulai menemukan kembali jati dirinya.

Kemenangan 2-0 atas Manchester City menghadirkan euforia yang sudah lama jarang terlihat. Para pemain tampak bermain lebih ringan, para pendukung merayakan tanpa rasa cemas, dan dari tribun kehormatan, Sir Alex Ferguson menyaksikan dengan senyum penuh makna.

Di tengah masa transisi usai pemecatan Ruben Amorim, Michael Carrick ditunjuk sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Namun, hanya lewat satu derby, ia seolah berhasil menekan sakelar yang lama mati di klub ini.

1 dari 7 halaman

Atmosfer Old Trafford dan Efek Instan Carrick

Selebrasi Bryan Mbeumo dan Casemiro bersama pemain Manchester United di laga melawan Man City, Sabtu 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Selebrasi Bryan Mbeumo dan Casemiro bersama pemain Manchester United di laga melawan Man City, Sabtu 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Sejak peluit akhir dibunyikan, atmosfer Old Trafford terasa berubah. Para pemain yang sebelumnya tampak terbebani oleh seragam United kini berjalan dengan kepala tegak. Para pendukung yang biasanya menonton dengan waswas, kali ini bersatu dalam kegembiraan.

Carrick, sosok yang dikenal tenang dan minim retorika, menyebut kemenangan ini sebagai “awal yang seperti mimpi”. Ungkapan itu terasa wajar jika melihat performa United: bertahan dengan determinasi tinggi, agresif di lini tengah, serta menyerang dengan tempo cepat.

Bagi banyak orang di stadion, laga ini terasa seperti kembalinya “cara Manchester United bermain”. Bukan sekadar menang, tetapi menang dengan identitas yang jelas, sesuatu yang lama hilang dalam beberapa era terakhir.

2 dari 7 halaman

Keputusan Taktis yang Mengubah Wajah Tim

Bek Manchester City, Abdukodir Khusanov mencoba menghentikan pergerakan penyerang Manchester United, Bryan Mbeumo, 18 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Bek Manchester City, Abdukodir Khusanov mencoba menghentikan pergerakan penyerang Manchester United, Bryan Mbeumo, 18 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Sebagai mantan gelandang yang dikenal cerdas membaca permainan, Carrick mengambil sejumlah keputusan berani. Ia memanggil kembali Harry Maguire ke jantung pertahanan setelah absen dua bulan akibat cedera hamstring, langkah yang sempat memunculkan tanda tanya.

Carrick juga mengembalikan Kobbie Mainoo ke lini tengah. Keputusan ini terbukti krusial, karena gelandang muda tersebut tampil seolah ingin menebus periode terpinggirkan di era Amorim.

Formasi 4-2-3-1 memberi ruang lebih besar bagi Bruno Fernandes untuk bergerak lebih maju. Kebebasan ini menjadi kunci dalam membangun serangan cepat dan langsung, yang membuat City kesulitan mengimbangi intensitas permainan tuan rumah.

3 dari 7 halaman

Reaksi Pemain dan Pengakuan dari Guardiola

Duel Lisandro Martinez dengan Erling Haaland di laga Manchester United vs Manchester City, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Duel Lisandro Martinez dengan Erling Haaland di laga Manchester United vs Manchester City, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Lisandro Martinez, yang tampil solid bersama Maguire di lini belakang, mengungkapkan pesan sederhana dari Carrick sebelum laga. Ia menyebut sang pelatih meminta para pemain memanfaatkan energi penonton.

“Hari ini kami melakukannya,” kata Martinez. “Ketika kami bersama-sama, mustahil kalah di kandang.”

Pernyataan tersebut mencerminkan kuatnya ikatan antara tim dan tribun pada laga itu.

Dari kubu lawan, Pep Guardiola turut mengakui perbedaan tersebut. Ia menilai United bermain dengan “sesuatu yang tidak kami miliki”, sebuah pengakuan langka dari pelatih Manchester City yang terbiasa mengontrol derby.

4 dari 7 halaman

Pelajaran dari Masa Lalu: Bahaya Terbawa Euforia

Winger Manchester United, Amad Diallo berusaha melewati hadangan bek Manchester City, Nathan Ake di Old Trafford, 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Winger Manchester United, Amad Diallo berusaha melewati hadangan bek Manchester City, Nathan Ake di Old Trafford, 17 Januari 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Namun, sejarah Manchester United mengajarkan pentingnya kehati-hatian. Tujuh tahun lalu, euforia serupa muncul saat Ole Gunnar Solskjaer mencatat kemenangan dramatis di Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Seruan untuk langsung mengangkatnya sebagai pelatih permanen pada akhirnya berujung pada harapan yang tak sepenuhnya terwujud.

United pernah mengalami “fajar palsu” di era Louis van Gaal, Jose Mourinho, Solskjaer, Erik ten Hag, hingga Amorim. Kemenangan besar, bahkan trofi, kerap diikuti periode suram dengan performa inkonsisten dan identitas yang kabur.

Derby, betapapun prestisiusnya, bukan selalu barometer kemajuan jangka panjang. Old Trafford terlalu sering merayakan puncak singkat sebelum kembali terjerembap ke lembah kekecewaan.

5 dari 7 halaman

Identitas Klub dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Ada pandangan yang menilai United terlalu terikat pada masa lalu dengan menunjuk mantan pemain sebagai solusi jangka pendek. Namun, sudut pandang lain menyebut masalah sebenarnya terletak pada hilangnya identitas klub di bawah kepemilikan keluarga Glazer.

Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, United kerap terlihat sebagai tim tanpa wajah. Para pelatih dari luar datang membawa ide masing-masing, tetapi jarang berhasil menanamkan karakter yang benar-benar melekat.

Itulah sebabnya kemenangan ini terasa penting. Bukan karena keberuntungan atau strategi bertahan semata, melainkan karena United tampil nyaman dengan dirinya sendiri, menyerang cepat dari tengah dan sayap, serta berani mempercayai pemain muda lokal di panggung besar.

6 dari 7 halaman

Realitas di Balik Penampilan Terbaik

Dua catatan tetap perlu disampaikan. City tampil buruk dengan lini belakang yang tambal sulam, sementara Diogo Dalot beruntung tidak menerima kartu merah usai tekel berbahaya terhadap Jeremy Doku di menit awal.

Namun, semua itu tidak menghapus fakta bahwa Carrick hanya memiliki tiga hari latihan untuk menyiapkan tim ini. Penampilan tersebut terasa sebagai yang terbaik sejak kemenangan tak terduga United atas City di final Piala FA Mei 2024 di bawah asuhan Ten Hag.

Ketika ditanya soal menjaga standar performa, Carrick menjawab dengan nada realistis. Ia menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci, dan emosi besar seperti derby tidak bisa dijadikan sandaran setiap pekan.

7 dari 7 halaman

Antara Logika dan Perasaan

Pertanyaan besar kini muncul, bagaimana jika Carrick terus tampil meyakinkan hingga akhir musim? Secara logika, Man United tetap perlu mencari sosok berpengalaman dengan visi dan otoritas untuk bersaing di level tertinggi.

Nama-nama seperti Carlo Ancelotti, Thomas Tuchel, Mauricio Pochettino, hingga Julian Nagelsmann mungkin masuk pertimbangan. Namun, setiap pilihan tetap membawa risiko, bahkan dengan rekam jejak mentereng.

Untuk saat ini, semua itu masih terlalu dini. Efek “new manager bounce” kerap memikat, tetapi juga memiliki batas. Yang jelas, pada Sabtu itu, Manchester United terlihat bebas dari belenggu taktik lama dan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tampak seperti diri mereka sendiri.

Baru satu pertandingan, tetapi rasanya berbeda. Seolah ada sedikit keteraturan yang kembali, sebuah perjalanan singkat ke masa depan dengan menoleh ke masa lalu.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL