Debut Darren Fletcher di Man Utd: 6 Perubahan Penting yang Tak Terlihat di Era Amorim

Debut Darren Fletcher di Man Utd: 6 Perubahan Penting yang Tak Terlihat di Era Amorim
Darren Fletcher dan skuad Manchester United tiba di markas Burnley, Kamis (08/01/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Bola.net - Manchester United mengawali era baru pasca pemecatan Ruben Amorim dengan hasil imbang 2-2 melawan Burnley di Turf Moor, Kamis 8 Januari 2026 dini hari WIB.

Laga tersebut menjadi debut Darren Fletcher sebagai pelatih interim, sekaligus pertandingan pertama Setan Merah di bawah arahan teknis yang berbeda dari periode sebelumnya.

Hasilnya memang belum kemenangan. Namun, di balik skor, Fletcher langsung meninggalkan jejak yang cukup jelas. Ada perubahan struktur, peran pemain, hingga pendekatan manajemen laga yang terasa lebih lugas dan pragmatis.

Pertandingan ini juga menjadi indikasi awal bagaimana Fletcher ingin mengatur timnya, yaitu lebih sederhana dalam struktur dan lebih jelas dalam peran pemain kunci. Berikut enam perubahan utama yang tampak dalam debut Fletcher bersama Manchester United.

1 dari 6 halaman

1. Kembali ke Empat Bek, Struktur Lebih Sederhana

Pemain Manchester United, Leny Yoro (kiri), dan pemain Burnley, Bashir Humphreys, berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Pemain Manchester United, Leny Yoro (kiri), dan pemain Burnley, Bashir Humphreys, berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Perubahan paling mudah dikenali adalah soal formasi. Fletcher meninggalkan skema tiga bek yang kerap digunakan Amorim dan memilih kembali ke empat bek klasik. Pendekatan ini membuat struktur bertahan United terlihat lebih rapi, terutama saat Burnley mencoba menyerang lewat sisi sayap.

Empat bek memberi kejelasan tugas. Bek tidak lagi harus naik-turun ekstrem seperti wing-back, sementara lini tengah memiliki referensi posisi yang lebih stabil. Dalam konteks laga tandang pertama pasca pergantian pelatih, pilihan ini terasa aman dan masuk akal.

2 dari 6 halaman

2. Bruno Fernandes Dikembalikan ke Peran No.10

Selebrasi skuad Manchester United di laga lawan Burnley di Liga Inggris 2025/26, Kamis (08/01/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Selebrasi skuad Manchester United di laga lawan Burnley di Liga Inggris 2025/26, Kamis (08/01/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Fletcher juga langsung mengembalikan Bruno Fernandes ke habitat aslinya: gelandang serang nomor 10. Bruno ditempatkan tepat di belakang striker, menjadi pusat aliran bola dan pengambil keputusan di sepertiga akhir.

Peran ini membuat kontribusi Bruno lebih terasa. Ia tidak lagi terlalu sering turun ke area dalam untuk membantu build-up, melainkan fokus mencari ruang di antara lini lawan. Dampaknya, koneksi dengan lini depan, terutama Benjamin Sesko, menjadi lebih hidup.

3 dari 6 halaman

3. Manuel Ugarte Dipercaya Sejak Awal

Pemain Manchester United, Casemiro (kiri), dan pemain Burnley, Hjalmar Ekdal, saling berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Pemain Manchester United, Casemiro (kiri), dan pemain Burnley, Hjalmar Ekdal, saling berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Di lini tengah, Fletcher memberi kepercayaan penuh kepada Manuel Ugarte sebagai starter. Ugarte berperan sebagai jangkar, menjaga keseimbangan dan memutus alur serangan Burnley sebelum berkembang.

Kehadiran Ugarte membuat peran pemain lain menjadi lebih jelas. Casemiro dan gelandang lain tidak harus terus menutup ruang, sementara Bruno mendapat kebebasan lebih besar untuk menyerang.

Ini sinyal bahwa Fletcher memprioritaskan stabilitas terlebih dahulu, sebelum memikirkan dominasi penuh.

4 dari 6 halaman

4. Pendekatan Sayap Lebih Hati-hati

Pemain Manchester United, Benjamin Sesko (kiri), dan pemain Burnley, Maxime Esteve, saling berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Pemain Manchester United, Benjamin Sesko (kiri), dan pemain Burnley, Maxime Esteve, saling berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris, Kamis (8/1/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Pilihan pemain di sektor bek sayap dan sayap juga mencerminkan pendekatan yang lebih konservatif. Bek sayap tidak terlalu agresif naik bersamaan, sehingga risiko ruang kosong di belakang bisa ditekan.

Konsekuensinya, serangan dari sisi lapangan tidak selalu mengalir deras. Namun, Fletcher tampaknya lebih memilih keamanan struktur ketimbang permainan terbuka yang berisiko, terutama di laga pertamanya sebagai caretaker.

5 dari 6 halaman

5. Benjamin Sesko Jadi Titik Fokus Serangan

Perubahan lain yang sangat menonjol adalah penegasan peran Benjamin Sesko sebagai ujung tombak utama. Fletcher menjadikan Sesko sebagai pusat serangan, dan striker itu membalas kepercayaan dengan dua gol penting.

Dengan dukungan Bruno dari belakang dan suplai yang lebih langsung, Sesko tidak dibiarkan terisolasi. Pola ini membuat United lebih cepat sampai ke kotak penalti lawan, tanpa harus memainkan build-up berlapis yang kerap buntu sebelumnya.

6 dari 6 halaman

6. Pergantian Pemain yang Pragmatis

Sebagai pelatih interim, Fletcher juga menunjukkan pendekatan realistis dalam mengelola pertandingan. Pergantian pemain dilakukan untuk menjaga ritme dan keseimbangan, bukan untuk eksperimen besar.

Usai laga, Fletcher menegaskan bahwa timnya menciptakan cukup peluang untuk menang, tetapi masih perlu memperbaiki pengelolaan momen krusial. Pernyataan ini mencerminkan fokus jangka pendeknya, yaitu hasil, efisiensi, dan kontrol pertandingan.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL