
Bola.net - Pembalap Petronas Yamaha SRT, Franco Morbidelli, mengaku 'syok' bisa meraih tiga kemenangan dan menjadi runner up MotoGP 2020, mengingat pada awal musim ini ia sangat marah karena merasa dianaktirikan oleh Yamaha. Hal ini ia sampaikan kepada GPOne pada Senin (23/11/2020) usai finis ketiga di Portimao, Portugal.
Awal musim ini, Morbidelli memang kurang bersinar. Usai finis kelima di Spanyol, ia gagal finis di Andalusia ketiga tiga rider Yamaha lain naik podium. Ia pun meraih podium perdananya di Ceko dengan finis kedua, namun ia sempat kehilangan percaya di Austria dan Styria usai bertabrakan keras dengan Johann Zarco.
Kepercayaan dirinya pun kembali saat tampil di San Marino, di mana ia menggebrak dengan kemenangan yang dominan. Sejak itu ia tampil lebih konsisten, dan akhirnya kembali menang di Teruel dan Valencia, dengan tambahan satu podium usai finis ketiga di Portimao. Hasil-hasil ini pun membantunya jadi runner up.
Prestasi Morbidelli ini jelas fantastis, apalagi jika mengingat ia gagal meraih satu podium tahun lalu, dan tahun ini ia sekadar mengendarai YZR-M1 versi 2019, alih-alih YZR-M1 versi 2020 seperti Maverick Vinales, Fabio Quartararo, dan Valentino Rossi, yang justru mengakhiri musim di peringkat 6, 8, dan 15.
Level Persaingan Internal di Yamaha Memang Tinggi

"Saya sangat puas atas musim ini. Musim ini tak dimulai dengan cara terbaik, karena saya frustrasi saat tahu bakal dapat motor yang berbeda dari tiga rider Yamaha lain. Tapi kami mampu mengatasi semua masalah dan menuju arah yang tepat. Kini saatnya rehat dan memikirkan tahun depan," ungkap juara dunia Moto2 2017 ini.
Sekadar dapat motor M1 versi 2019 tak bikin Morbidelli merasa talentanya diremehkan. Ia justru maklum karena tiga rider Yamaha lainnya juga sangat kuat. Namun, ia tetap sedih karena selalu jadi 'pilihan keempat' Yamaha. Kini ia berharap 2020 menjadi peringatan bagi mereka bahwa dirinya tak kalah berpotensi dibanding yang lain.
"Saya tak merasa diremehkan. Saya tahu tiga rider Yamaha lain sangat kuat. Tapi saya merasa ada di tempat terbuncit di Yamaha. Saya harap musim ini bikin saya jadi pertimbangan serius Yamaha. Level kompetisi di Yamaha memang tinggi. Vale punya pengalaman segudang, sementara Fabio dan Mack super cepat," ujarnya.
Sempat Merasa Tak 'Dicintai' Yamaha
Di lain sisi, Morbidelli juga mengaku dirinya sama sekali tak menduga bakal mengoleksi tiga kemenangan sepanjang musim ini, terutama menjadi runner up. Apalagi ia sempat merasa dianaktirikan dan tak 'dicintai' oleh Yamaha karena diberi paket motor lama.
"Jika Anda bilang bahwa saya bakal memenangi tiga balapan di MotoGP, saya mungkin bakal nangis! Ini sungguh bikin saya syok. Tapi tak dimungkiri musim ini memang hebat," kisah rider Italia berdarah Brasil ini, yang juga anggota VR46 Riders Academy.
"Pada awal musim, saya bagaikan rider Yamaha paling tertinggal. Fakta bahwa saya punya motor berbeda dari tiga rider lain bikin saya merasa tak dicintai. Tapi saya memusnahkan amarah ini dengan bekerja keras di rumah dan bekerja keras dengan tim. Semua terbayarkan dan kami telah membuat perbedaan," tutup Morbidelli.
Sumber: GPOne
Video: Miguel Oliveira Menangi MotoGP Portugal 2020
Baca Juga:
- Tugas Berkurang: Valentino Rossi Jelaskan Keuntungan Bela Tim Satelit Yamaha
- Terhormat Bela KTM, Pol Espargaro Tak Cemas Gagal Menang
- Casey Stoner: Joan Mir Kejutan Manis, Tapi Sulit Samai Level Marc Marquez
- Casey Stoner Sebal Rider MotoGP Masa Kini Terpengaruh Instagram
- FIM Resmi Rilis Daftar Peserta MotoGP, Moto2, dan Moto3 2021
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Merasa Anak Tiri Yamaha, Franco Morbidelli Syok Jadi Runner Up MotoGP 2020
Otomotif 24 November 2020, 16:23
-
Tugas Berkurang: Valentino Rossi Jelaskan Keuntungan Bela Tim Satelit Yamaha
Otomotif 24 November 2020, 15:17
-
Maverick Vinales: MotoGP 2020 Musim Terburuk dalam Karier Saya
Otomotif 23 November 2020, 18:18
-
Fabio Quartararo: 3 Kali Menang, MotoGP 2020 Tetap Bikin Sedih
Otomotif 23 November 2020, 16:52
-
Galeri Foto: Momen Perpisahan Valentino Rossi dan Monster Energy Yamaha
Open Play 23 November 2020, 12:57
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Inter vs Bodo/Glimt: Jens Petter Hauge
Liga Champions 25 Februari 2026, 06:14
-
Hasil Leverkusen vs Olympiakos: Die Werkself Siap Jumpa Arsenal atau Bayern
Liga Champions 25 Februari 2026, 05:34
-
Hasil Inter vs Bodo/Glimt: Sampai di Sini Saja, Nerazzurri
Liga Champions 25 Februari 2026, 05:13
-
Man of the Match Atletico Madrid vs Club Brugge: Alexander Sorloth
Liga Champions 25 Februari 2026, 04:20
-
Barcelona Siapkan Skenario Permanen untuk Joao Cancelo: Transfer Gratis Jadi Kunci?
Liga Spanyol 25 Februari 2026, 00:56
-
Ketenangan Senne Lammens Jadi Kunci Kemenangan Man United atas Everton
Liga Inggris 25 Februari 2026, 00:50
LATEST EDITORIAL
-
6 Pemain Arsenal yang Kontraknya Habis pada 2027, Siapa Bertahan dan Siapa Dijual?
Editorial 24 Februari 2026, 14:21
-
4 Rekrutan Gratis Manchester United, Adakah yang Benar-Benar Sukses?
Editorial 24 Februari 2026, 13:58
-
6 Calon Pengganti Casemiro di Manchester United: Siapa Pewaris Tahta Gelandang Bertahan?
Editorial 20 Februari 2026, 00:00
-
7 Pemain yang Tenggelam Usai Pindah Klub Musim 2025/2026: Masih Ingat Darwin Nunez?
Editorial 19 Februari 2026, 23:35

























KOMENTAR