
Bola.net - Salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia, Timnas Italia, kembali menorehkan catatan kelam. Juara dunia empat kali itu dipastikan gagal tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah tersingkir secara dramatis di babak playoff Eropa.
Dalam laga yang digelar Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, Italia harus mengakui keunggulan Timnas Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti dengan skor 1-4, usai bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan.
Italia sebenarnya memulai laga dengan baik. Striker muda Moise Kean sukses membuka keunggulan di awal pertandingan. Namun situasi berubah drastis ketika bek andalan Alessandro Bastoni diganjar kartu merah langsung sebelum turun minum.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Bosnia dengan baik. Gol penyeimbang akhirnya tercipta lewat pemain pengganti Haris Tabakovic pada menit ke-79, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
Namun, di babak adu penalti, Italia tak mampu menjaga ketenangan. Eksekusi dari Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal berbuah gol. Sementara itu, penendang terakhir Bosnia, Esmir Bajraktarevic, memastikan kemenangan sekaligus tiket ke Piala Dunia.
Berikut lima pelajaran yang bisa diambil dari hasil pertandingan Bosnia vs Italia ini selengkapnya.
Luka Lama Kembali Terbuka

Kegagalan ini memperpanjang tren buruk Italia di ajang kualifikasi Piala Dunia. Sebelumnya, mereka juga tersingkir di playoff saat menghadapi Swedia dan Makedonia Utara pada dua edisi terakhir.
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, mengakui timnya tengah berada dalam situasi sulit.
“Faktanya, Italia gagal lolos ke tiga Piala Dunia berturut-turut. Ini masa yang sangat berat, baik untuk tim nasional maupun klub,” ujarnya.
Sementara itu, bek senior Leonardo Spinazzola mengungkapkan kekecewaan mendalam yang dirasakan seluruh tim.
“Sulit dipercaya kami tersingkir dengan cara seperti ini. Ini menyakitkan bagi semua orang, termasuk generasi muda yang belum pernah melihat Italia bermain di Piala Dunia,” katanya.
Periode Kelam Italia

Kegagalan ini memastikan Italia akan absen setidaknya selama 16 tahun dari panggung terbesar sepak bola dunia, sebuah kenyataan pahit bagi negara yang pernah berjaya dengan gelar juara pada 1934, 1938, 1982, dan 2006.
Hasil ini membuat Italia menjadi juara dunia pertama yang absen dalam tiga edisi berturut-turut, 2018, 2022, dan 2026.
Kegagalan ini memperpanjang puasa Italia di panggung sepak bola terbesar dunia. Juara Piala Dunia 1934, Piala Dunia 1938, Piala Dunia 1982, dan Piala Dunia 2006 itu dipastikan tidak akan tampil setidaknya selama 16 tahun sejak terakhir kali berpartisipasi.
Jika ditarik ke belakang, penurunan performa Italia sebenarnya sudah terlihat sejak Piala Dunia 2010 dan Piala Dunia2014. Pada dua edisi tersebut, Italia gagal melangkah dari fase grup, sebuah hasil yang jauh dari ekspektasi untuk tim dengan tradisi kuat di kancah internasional.
Ironisnya, di tengah periode sulit itu, Italia sempat mencicipi kejayaan dengan menjuarai Euro 2020 yang digelar pada 2021. Gelar tersebut sempat memberi harapan bahwa kebangkitan Italia tinggal menunggu waktu.
Namun, realitas berkata lain. Hingga kini, laga terakhir Italia di fase gugur Piala Dunia masih terjadi saat mereka menjuarai edisi 2006 usai mengalahkan Prancis melalui adu penalti di partai final.
Sepanjang sejarah, kegagalan lolos ke Piala Dunia bukanlah hal yang sering dialami Italia. Sebelum periode suram ini, mereka hanya pernah absen sekali, yakni pada Piala Dunia 1958.
Generasi yang Kehilangan Momen

Kondisi ini menciptakan fenomena “generasi hilang”. Pemain muda Italia saat ini belum pernah merasakan atmosfer putaran final Piala Dunia. Bahkan, generasi di bawah usia 15 tahun tidak memiliki ingatan tentang penampilan terakhir Italia di turnamen tersebut pada 2014.
Kala itu, Italia tersingkir di fase grup setelah kalah dari Uruguay dalam laga yang diwarnai insiden gigitan Luis Suarez terhadap Giorgio Chiellini.
Ironisnya, Italia sempat menunjukkan kebangkitan dengan menjuarai UEFA Euro 2020. Namun keberhasilan tersebut kini terasa kontras dengan performa mereka di level dunia.
Krisis Sepak Bola Italia

Kegagalan ini juga memunculkan tanda tanya besar terhadap masa depan Gattuso, yang baru mengambil alih tim dari Luciano Spalletti dalam situasi krisis.
Meski sempat mencatat enam kemenangan beruntun, Italia kembali goyah di laga-laga krusial. Ketua federasi sepak bola Italia, Gabriele Gravina, bahkan secara terbuka mengakui kondisi genting yang dialami negaranya.
“Kami menyadari sedang berada dalam krisis besar,” ujarnya.
Bosnia Cetak Sejarah

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi momen bersejarah bagi Bosnia. Mereka berhasil lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya sepanjang sejarah, setelah sebelumnya tampil pada 2014.
Keberhasilan ini terasa semakin istimewa mengingat perbedaan mencolok antara kedua tim, baik dari segi peringkat FIFA, jumlah populasi, hingga nilai skuad.
Di Piala Dunia kedua mereka sepanjang sejarah, Bosnia dan Herzegovina akan bersaing di Grup B bersama Kanada, Qatar, dan Swiss.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Bosnia dan Herzegovina Mengubur Mimpi Italia dengan Ketenangan
Piala Dunia 1 April 2026, 08:48
LATEST UPDATE
-
Final Four Proliga 2026 Memasuki Fase Krusial
Voli 1 April 2026, 19:28
-
Lewandowski hingga Donnarumma, 6 Bintang Top Absen di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 1 April 2026, 19:28
-
Tangis Lewandowski dan Mimpi Piala Dunia yang Terhenti
Piala Dunia 1 April 2026, 17:24
-
Ironi Timnas Italia: Dari 4 Kali Juara ke Langganan Absen di Piala Dunia
Piala Dunia 1 April 2026, 17:00
-
Rapuhnya Timnas Inggris Tanpa Harry Kane: Alarm Bahaya Thomas Tuchel
Piala Dunia 1 April 2026, 16:28
LATEST EDITORIAL
-
Tanpa Italia hingga Nigeria, Ini Tim Besar yang Absen di Piala Dunia 2026
Editorial 1 April 2026, 08:21
-
3 Alternatif Murah Julian Alvarez untuk Barcelona di Bursa Transfer
Editorial 30 Maret 2026, 11:45




















KOMENTAR