Piala Dunia 2026: Kenapa Harga Tiket Sangat Mahal dan Apa Dampaknya?

Piala Dunia 2026: Kenapa Harga Tiket Sangat Mahal dan Apa Dampaknya?
Trofi Piala Dunia dipajang saat drawing Piala Dunia 2026 di Kennedy Center di Washington, 5 Desember 2025 (c) Dan Mullan/Pool Photo via AP

Bola.net - Piala Dunia 2026 kembali jadi pembahasan panas, terutama terkait harga tiket yang dinilai sangat tinggi. Banyak penggemar mengaku kesulitan menjangkau biaya untuk menyaksikan langsung turnamen terbesar sepak bola dunia ini.

Gelombang penjualan tiket terbaru justru memicu kekecewaan di kalangan penggemar global. Alih-alih antusias, banyak yang mempertanyakan kebijakan harga yang dianggap melampaui ekspektasi awal.

FIFA membuka fase penjualan tambahan mendekati hari pertandingan. Tiket untuk seluruh 104 laga tersedia dengan sistem siapa cepat dia dapat.

Namun, harga yang ditawarkan tetap menjadi hambatan utama. Tiket paling mahal untuk final bahkan mencapai hampir $11.000 (sekitar Rp187 juta), angka yang jauh dari jangkauan mayoritas penonton.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar tentang strategi penjualan tiket. Banyak pihak mulai menilai pendekatan FIFA tidak sepenuhnya berpihak pada penggemar.

1 dari 4 halaman

Harga Tiket Melonjak Jauh dari Janji Awal

Suasana peluncuran trophy tour Piala Dunia di Jakarta (c) Bola.net/Fitri Apriani

Suasana peluncuran trophy tour Piala Dunia di Jakarta (c) Bola.net/Fitri Apriani

Pada tahap awal, tiket dijanjikan mulai dari $21 (sekitar Rp357 ribu). Kenyataannya, tiket termurah yang tersedia justru berada di kisaran $60 (sekitar Rp1,02 juta) dan jumlahnya sangat terbatas.

Harga tiket kategori lain bahkan jauh lebih tinggi dari rencana awal. Untuk partai final, harga naik dari $8.680 menjadi $10.990 (sekitar Rp187 juta).

Kenaikan ini memicu kritik dari berbagai kelompok penggemar. Mereka menilai harga tersebut tidak sesuai dengan janji awal saat proses bidding tuan rumah.

2 dari 4 halaman

Faktor Amerika Serikat dalam Penentuan Harga

Trofi Piala Dunia FIFA dipajang saat proses undian playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Zurich, Swiss, Kamis, 20 November 2025. (c) Claudio Thoma/Keystone via AP

Trofi Piala Dunia FIFA dipajang saat proses undian playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Zurich, Swiss, Kamis, 20 November 2025. (c) Claudio Thoma/Keystone via AP

Sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Serikat. Kondisi ini memengaruhi struktur harga karena pasar olahraga di negara tersebut tergolong matang dan kompetitif.

Penggemar di Amerika Serikat terbiasa dengan harga tinggi untuk acara olahraga premium. Hal ini membuat FIFA melihat peluang besar untuk memaksimalkan pendapatan.

Strategi ini berdampak pada kenaikan harga secara keseluruhan. Penonton dari negara lain pun ikut terdampak oleh standar harga tersebut.

3 dari 4 halaman

Peran Dynamic Pricing dalam Kenaikan Harga

Trofi Piala Dunia 2026 dipajang di kantor FIFA di Zurich, Swiss pada 13 Desember 2024 lalu. (c) Til Buergy/Keystone via AP, File

Trofi Piala Dunia 2026 dipajang di kantor FIFA di Zurich, Swiss pada 13 Desember 2024 lalu. (c) Til Buergy/Keystone via AP, File

FIFA menerapkan sistem dynamic pricing atau harga dinamis dalam penjualan tiket. Harga bisa berubah secara real-time tergantung permintaan, ketersediaan, dan waktu pembelian.

Model ini umum digunakan di industri olahraga Amerika Serikat. Namun, penerapannya di ajang global memicu perdebatan karena dianggap tidak ramah bagi penggemar biasa.

Beberapa pihak menilai pendekatan ini lebih berfokus pada keuntungan. Akibatnya, akses bagi penonton dengan anggaran terbatas menjadi semakin sempit.

4 dari 4 halaman

Risiko Tiket Tidak Terjual dan Reaksi Penggemar

Seorang fan timnas Jerman dengan replika trofi Piala Dunia. (c) AP Photo/Matthias Schrader

Seorang fan timnas Jerman dengan replika trofi Piala Dunia. (c) AP Photo/Matthias Schrader

Meski harga tinggi, FIFA tetap optimistis tiket akan habis terjual. Berdasarkan logika pasar, harga bisa turun jika permintaan melemah.

Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai teori. Ada kemungkinan sebagian penggemar memilih mundur karena kecewa dengan strategi harga yang diterapkan.

Data penjualan awal menunjukkan beberapa pertandingan belum mencapai target. Hal ini menjadi sinyal bahwa harga bisa memengaruhi minat secara signifikan.

Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara keuntungan dan aksesibilitas. Jika tidak dikelola dengan tepat, pengalaman menonton langsung bisa semakin eksklusif dan jauh dari jangkauan banyak penggemar.

Sumber: Al Jazeera


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL