5 Pelajaran dari Laga Atletico Madrid vs Barcelona: Kali Ini Tak Ada Maaf Buat Barca dan Hansi Flick

5 Pelajaran dari Laga Atletico Madrid vs Barcelona: Kali Ini Tak Ada Maaf Buat Barca dan Hansi Flick
Kekecewaan Jules Kounde usai gawang timnya kebobolan dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Bola.net - Kekalahan telak 0-4 yang diderita Barcelona dari Atletico Madrid pada leg pertama Copa del Rey menjadi tamparan keras bagi pelatih Hansi Flick. Bermain di Estadio Metropolitano, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, Blaugrana tampil jauh dari ekspektasi dan takluk oleh intensitas serta efektivitas permainan tuan rumah.

Empat gol kemenangan Atletico seluruhnya tercipta di babak pertama, masing-masing lewat bunuh diri Eric Garcia, aksi Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julian Alvarez.

Hasil ini menjadi bekal berharga bagi Atletico untuk menghadapi leg kedua. Sebaliknya, Barcelona kini berada dalam situasi sulit dan memerlukan usaha luar biasa untuk membalikkan defisit empat gol tersebut.

Absennya sejumlah pemain kunci seperti Marcus Rashford, Raphinha, dan Pedri sudah menjadi sinyal bahaya sebelum laga dimulai. Namun, tak banyak yang memprediksi Barcelona akan runtuh sedemikian rupa di panggung semifinal.

Berikut lima sorotan utama dari laga yang menjadi malam kelam bagi raksasa Catalan tersebut.

1 dari 5 halaman

Minim Intensitas, Tak Termaafkan

Selebrasi Antoine Griezmann dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Selebrasi Antoine Griezmann dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Kekalahan dalam sepak bola adalah hal wajar. Bahkan tim-tim terbaik sepanjang sejarah pun tak selalu menang. Namun yang sulit diterima adalah kurangnya determinasi dan daya juang.

Sejak menit awal, Atletico tampil lebih lapar. Anak asuh Diego Simeone selalu unggul dalam duel, lebih cepat menyambar bola kedua, serta agresif dalam menekan dan menyerang. Sebaliknya, Barcelona terlihat pasif dan lambat merespons situasi.

Di babak pertama, praktis hanya ada satu tim di lapangan. Intensitas tinggi yang diperagakan tuan rumah membuat lini tengah dan belakang Barca kocar-kacir.

2 dari 5 halaman

Malam Kelam Alejandro Balde

Kekecewaan Dani Olmo usai gawang timnya kebobolan dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Kekecewaan Dani Olmo usai gawang timnya kebobolan dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Secara kolektif Barcelona tampil buruk, tetapi performa Alejandro Balde menjadi salah satu titik terlemah yang paling mencolok.

Sebagai bek kiri yang gemar overlap, Balde diharapkan mampu memberi kontribusi ofensif sekaligus disiplin bertahan. Namun, pada laga ini, ia gagal di kedua aspek tersebut. Umpan silangnya tak efektif, sementara sisi kirinya terus dieksploitasi oleh serangan Atletico.

Beberapa kali pergerakan Giuliano Simeone dengan mudah melewati penjagaannya. Bahkan dalam satu momen, Balde memberi jarak dua yard dan tetap kalah cepat mengejar bola. Sisi kiri pertahanan Barcelona menjadi pintu masuk utama serangan tuan rumah sepanjang pertandingan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah tak ada alternatif lain di posisi tersebut untuk memberi tekanan sekaligus kompetisi internal bagi Balde?

3 dari 5 halaman

Kontroversi dan Kepemimpinan Wasit

Aksi Fermin Lopez dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Aksi Fermin Lopez dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Laga semifinal ini juga diwarnai keputusan kontroversial. Penundaan VAR hingga delapan menit untuk menentukan keputusan offside menuai tanda tanya besar.

Selain itu, dua potensi kartu merah dalam insiden yang melibatkan Simeone terhadap Balde tak berujung pada hukuman tegas. Sejumlah keputusan lain juga dinilai inkonsisten.

Dalam pertandingan sepenting semifinal Copa del Rey, bukan hanya pemain yang dituntut tampil sempurna. Perangkat pertandingan pun seharusnya menunjukkan kualitas terbaiknya—sesuatu yang terasa kurang pada malam itu.

4 dari 5 halaman

Taktik Berani Diego Simeone Berbuah Manis

Selebrasi Ademola Lookman dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Selebrasi Ademola Lookman dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Tanpa gelandang Pablo Barrios, banyak yang meragukan kemampuan Atletico mengontrol permainan. Namun, Diego Simeone justru memilih pendekatan agresif.

Ia menurunkan empat pemain berorientasi menyerang dan mendorong timnya bermain cepat melalui serangan balik. Strategi ini sukses besar.

Pergerakan Giuliano Simeone di sisi sayap, tusukan Ademola Lookman ke tengah, kecerdikan Antoine Griezmann dalam mencari ruang, serta kreativitas Julian Alvarez membuat garis pertahanan tinggi Barcelona tampak rapuh.

Gol keempat yang dicetak Alvarez disambut ledakan emosi luar biasa dari publik Metropolitano. Performa ini menjadi pengingat bahwa Atletico tetap tim yang sangat berbahaya, terutama saat bermain di kandang dengan dukungan penuh suporter.

5 dari 5 halaman

Kedalaman Skuad Barcelona Dipertanyakan

Lamine Yamal dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Lamine Yamal dalam laga Atletico Madrid vs Barcelona di leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026, Jumat (13/2/2026). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Absennya Raphinha dan Marcus Rashford memaksa Hansi Flick meracik ulang komposisi lini depan. Ia memasang Ferran Torres sebagai penyerang tengah dengan dukungan Fermin Lopez dan Dani Olmo dari sisi kiri.

Namun, eksperimen itu tak berjalan sesuai rencana. Keseimbangan permainan Barcelona berantakan. Lopez memang aktif, tetapi kurang efektif. Olmo nyaris tak terlihat kontribusinya. Torres pun gagal memberi dampak signifikan dan menyia-nyiakan peluang emas untuk memperkecil ketertinggalan.

Keputusan Flick menarik Marc Casado dan memasukkan Robert Lewandowski pada menit ke-36 menunjukkan adanya pengakuan bahwa strategi awal keliru.

Kekalahan ini menegaskan betapa absennya satu atau dua pemain kunci bisa mengacaukan sistem permainan Barcelona. Jika ingin membalikkan keadaan di leg kedua, Flick membutuhkan kembalinya para pemain inti secepat mungkin.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL