
Bola.net - Nama besar Real Madrid selalu identik dengan kejayaan dan deretan pemain bintang. Namun, di lorong stadion Santiago Bernabeu, terdapat sebuah kutipan legendaris dari Alfredo Di Stefano yang menjadi pengingat penting bagi siapa pun yang mengenakan jersey putih tersebut.
“Tidak ada pemain yang lebih hebat daripada kalian semua bersama-sama.” Kalimat ini menegaskan bahwa kekuatan tim jauh lebih berharga daripada kehebatan individu, sebuah pesan yang kini terasa sangat relevan di tengah ujian berat yang sedang menimpa klub raksasa Spanyol tersebut.
Di tengah menurunnya performa tim dan kepastian mengakhiri musim tanpa trofi besar untuk kali kedua secara beruntun, kritik terhadap para bintang mulai bermunculan dari tribun Bernabeu.
Vinicius Junior, Jude Bellingham, hingga Kylian Mbappe menjadi sasaran siulan dan cemoohan suporter. Bahkan presiden klub Florentino Perez, sosok utama di balik era galactico modern Madrid, ikut mendapat tekanan dari fans.
Statistik Mbappe Tidak Pernah Jadi Masalah

Jika melihat statistik ofensif, sulit menyalahkan Mbappe atas situasi Real Madrid musim ini. Penyerang Prancis itu justru tampil sebagai mesin gol utama sejak bergabung secara gratis dari PSG pada musim panas 2024.
Mbappe telah mencetak 77 gol di La Liga dan Liga Champions sejak kedatangannya. Ia juga sukses merebut Sepatu Emas musim 2024/2025 dan nyaris pasti finis sebagai top skor Liga Champions dengan koleksi 15 gol.
Performanya saat Madrid tersingkir dari Bayern Munchen di perempat final Liga Champions bahkan menjadi salah satu sedikit hal positif bagi Los Blancos. Mbappe mencetak dua gol dalam dua leg ketika sebagian besar rekan setimnya gagal tampil maksimal.
Secara statistik, kontribusinya juga sangat dominan. Mbappe mencetak hampir dua kali lipat lebih banyak dibanding pemain Madrid lain sejak kedatangannya. Ia bahkan mencetak tujuh gol lebih banyak dari nilai expected goals yang dimilikinya.
Sayangnya, bagi sebagian fans Madrid, angka-angka itu ternyata belum cukup.
Masalah Besar Ada di Keseimbangan Tim

Perdebatan soal Mbappe bukan lagi tentang produktivitasnya. Fokus kritik kini mengarah pada dampaknya terhadap keseimbangan permainan Real Madrid.
Sejak awal, staf Carlo Ancelotti sebenarnya sudah memiliki kekhawatiran mengenai kontribusi bertahan Mbappe. Ketika transfernya mulai mendekati kenyataan dua tahun lalu, ada anggota staf pelatih yang disebut menyoroti minimnya usaha defensif sang pemain.
Kini kekhawatiran itu dianggap terbukti. Di La Liga dan Liga Champions, Mbappe menjadi pemain Madrid dengan catatan tekel, intersep, dan perebutan bola paling rendah per 90 menit. Bahkan untuk kategori usaha tekel nyata, ia berada di posisi terakhir dari seluruh pemain outfield La Liga musim ini.
Dalam banyak pertandingan, Mbappe menjadi pemain Madrid yang paling sedikit membantu pertahanan. Situasi itu semakin terasa ketika ia bermain bersama Vinicius Junior, Rodrygo, dan Bellingham yang sama-sama memiliki kecenderungan menyerang.
Hubungan Mbappe dengan Vinicius

Masalah lain muncul dari hubungan taktisnya dengan Vinicius Junior. Keduanya sama-sama nyaman bergerak dari sisi kiri sehingga area permainan mereka sering tumpang tindih.
Memang ada beberapa momen kombinasi menarik di antara keduanya, tetapi koneksi mereka belum sehalus duet Vinicius dan Rodrygo dalam beberapa musim terakhir.
Situasi itu memunculkan pertanyaan besar tentang perencanaan skuad Madrid. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah menghadirkan dua penyerang dominan di sisi kiri benar-benar keputusan ideal untuk jangka panjang.
Ruang Ganti Madrid Ikut Memanas
Masalah Real Madrid tidak berhenti di lapangan. Situasi ruang ganti juga disebut mulai memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Laporan mengenai pertengkaran di sesi latihan antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde memperlihatkan tensi internal yang meningkat. Nama Mbappe ikut terseret setelah muncul laporan mengenai adu argumen dengan anggota staf pelatih jelang laga melawan Real Betis pada 24 April lalu.
Di saat yang sama, keputusannya pergi ke Italia bersama pasangannya ketika sedang menjalani pemulihan cedera juga memicu kritik internal.
Meski begitu, hubungan Mbappe dengan fans Madrid memang belum sepenuhnya pulih sejak ia sempat menolak pindah pada 2022 sebelum akhirnya bergabung dua tahun kemudian.
Ketika diperkenalkan di Bernabeu pada Juli 2024, Florentino Perez menyebut Mbappe telah melakukan “pengorbanan besar” demi bergabung dengan Madrid. Namun sebagian fans masih sulit melupakan penolakan sebelumnya.
Jangan Lewatkan!
- Analisis Masa Depan Marcus Rashford: Man Utd Ada di Posisi Serba Sulit?!
- Di Usia 18 Tahun, Trofi Lamine Yamal Sudah Lebih Banyak dari Messi dan Ronaldo, Apa Saja?
- Jadwal La Liga Pekan Ini Live di beIN Sports dan Vidio, 13-15 Mei 2026
- Legenda Real Madrid Semprot Florentino Perez, Sindir Keras Kondisi Tim Musim Ini
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Jujur, Xabi Alonso Memang Semenarik Itu untuk Chelsea
Liga Spanyol 12 Mei 2026, 19:49
-
Memancing di Air Keruh, MU Kebut Transfer Aurelien Tchouameni
Liga Inggris 12 Mei 2026, 16:41
-
Pucuk Dicinta, Ulam-pun Tiba! Xabi Alonso Bersedia Latih Chelsea
Liga Inggris 12 Mei 2026, 16:38
LATEST UPDATE
-
Prediksi Final Coppa Italia Lazio vs Inter Milan 14 Mei 2026
Liga Italia 12 Mei 2026, 19:15
-
Prediksi Alaves vs Barcelona 14 Mei 2026
Liga Spanyol 12 Mei 2026, 18:49
-
Predksi Man City vs Crystal Palace 14 Mei 2026
Liga Inggris 12 Mei 2026, 18:30
-
Daftar Kandidat Pelatih Baru Chelsea Semakin Panjang
Liga Inggris 12 Mei 2026, 17:47
-
Jadwal TV: 12-15 Mei 2026
Jadwal Televisi 12 Mei 2026, 17:18
























KOMENTAR