Kebangkitan Kobbie Mainoo Jadi Momen Emas bagi Ineos di Manchester United, Kok Bisa?

Kebangkitan Kobbie Mainoo Jadi Momen Emas bagi Ineos di Manchester United, Kok Bisa?
Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo (c) AP Photo/Dave Shopland

Bola.net - Kebangkitan performa Kobbie Mainoo bersama Manchester United dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar kabar baik bagi tim di lapangan. Lebih dari itu, situasi ini membuka peluang strategis bagi manajemen klub, khususnya Ineos, untuk mengamankan masa depan salah satu aset paling berharga di Old Trafford.

Di bawah kepemimpinan Ruben Amorim, Mainoo sempat tersisih. Gelandang muda lulusan akademi Carrington itu jarang mendapat kepercayaan sebagai starter dan bahkan terkesan terisolasi dari skema utama tim. Amorim berkali-kali menegaskan bahwa Mainoo masih berada di bawah bayang-bayang Bruno Fernandes dalam hierarki lini tengah.

Namun, dinamika berubah drastis setelah Amorim dipecat. Penunjukan Michael Carrick, bersama Darren Fletcher dalam struktur kepelatihan, menjadi titik balik bagi karier Mainoo di United. Carrick menemukan formula yang memungkinkan Mainoo dan Bruno Fernandes tampil bersama, sesuatu yang gagal diwujudkan sebelumnya.

Performa apik Mainoo mencapai puncaknya saat Manchester United menumbangkan Manchester City 2-0. Bermain penuh selama 90 menit, gelandang berusia 20 tahun itu menuai pujian langsung dari Carrick. Ketenangan, visi bermain, dan kedewasaan Mainoo di laga besar kembali menegaskan statusnya sebagai pemain masa depan Setan Merah.

1 dari 3 halaman

Kesempatan Emas Ineos

Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo (c) MUFC Official

Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo (c) MUFC Official

Situasi ini menghadirkan “kesempatan emas” bagi Ineos. Kontrak Mainoo saat ini masih berlaku hingga 2027, tetapi nilainya di pasar dan perannya di dalam tim terus meningkat. Ia bukan sekadar pemain muda potensial, melainkan fondasi yang bisa menopang proyek jangka panjang klub.

Sebelumnya, Manchester United sempat membuka negosiasi perpanjangan kontrak dengan Mainoo. Namun, pembicaraan itu dikabarkan menemui jalan buntu setelah muncul tuntutan gaji sekitar £200.000 per pekan. Di tengah ketidakpastian peran di tim utama saat itu, masa depan Mainoo pun terlihat abu-abu.

Kini kondisinya berbeda. Dengan kepercayaan penuh dari Carrick dan peran sentral di lini tengah, Mainoo kembali melihat masa depan cerah di Old Trafford. Inilah momen ideal bagi Ineos untuk menghidupkan kembali pembicaraan kontrak dan menunjukkan komitmen klub terhadap pemain akademi terbaiknya.

2 dari 3 halaman

Manchester United Tak Mau Ulangi Kesalahan

Perebutan bola antara Kobbie Mainoo dengan Pascal Gross pada laga Manchester United vs Brighton di Piala FA, 11 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Perebutan bola antara Kobbie Mainoo dengan Pascal Gross pada laga Manchester United vs Brighton di Piala FA, 11 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Manchester United memiliki rekam jejak pahit terkait penjualan pemain lulusan akademi. Kasus Scott McTominay yang kini bersinar bersama Napoli menjadi pengingat bahwa melepas pemain internal tanpa perencanaan matang bisa berujung penyesalan.

Mainoo bahkan dipandang sebagai talenta langka, “once-in-a-generation”, yang sudah terbukti di level tertinggi. Ia tampil menonjol di final Piala FA bersama United dan bahkan mencuri perhatian di final Euro bersama timnas Inggris, meski usianya masih sangat muda.

Tentu, Ineos tetap perlu menjaga struktur gaji klub agar tetap sehat. Namun, mengamankan tahun-tahun emas Mainoo harus menjadi prioritas utama hingga akhir musim ini. Perpanjangan kontrak bukan hanya soal angka, melainkan sinyal kuat bahwa Manchester United siap membangun masa depan dengan identitas dan talenta sendiri.

Sumber: United In Focus


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL