Pelajaran dari Tragedi Titanic Chelsea: Tiket UCL Sulit, Skandal Barbergate, Formasi Berantakan, Era Rosenior Segera Berakhir?

Pelajaran dari Tragedi Titanic Chelsea: Tiket UCL Sulit, Skandal Barbergate, Formasi Berantakan, Era Rosenior Segera Berakhir?
Pelatih Chelsea, Liam Rosenior. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Chelsea kembali mengalami hasil buruk setelah dihajar Brighton di AMEX Stadium. Kekalahan ini membuat posisi Liam Rosenior sebagai pelatih utama semakin tidak aman. Tekanan terhadapnya meningkat seiring performa tim yang terus menurun.

Hasil ini memperpanjang rekor buruk The Blues di Liga Inggris musim ini. Mereka kalah lima kali beruntun tanpa mencetak satu gol pun ke gawang lawan. Catatan kelam tersebut menyamai rekor tahun 1912 saat kapal Titanic dinyatakan tenggelam.

Situasi ini membuat peluang Chelsea untuk menembus Liga Champions hampir tertutup. Brighton justru berhasil melampaui mereka dan naik ke posisi enam klasemen sementara Premier League. Perubahan ini mempertegas jarak performa kedua tim sepanjang musim.

Sejak awal pertandingan, Chelsea tidak mampu menunjukkan intensitas yang memadai. Tim terlihat kesulitan mengimbangi tempo permainan Brighton dan sering kehilangan bola di area penting. Kondisi ini membuat mereka semakin tertekan sepanjang laga.

1 dari 5 halaman

Harapan Liga Champions yang Sirna

Momen pemain Brighton, Ferdi Kadioglu usai membobol gawang Chelsea. (c) Gareth Fuller/PA via AP

Momen pemain Brighton, Ferdi Kadioglu usai membobol gawang Chelsea. (c) Gareth Fuller/PA via AP

Secara matematis, peluang Chelsea untuk finis di zona Liga Champions masih ada. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya setelah kekalahan telak di markas Brighton. Performa tim tidak mencerminkan tim yang bisa bersaing di papan atas.

Kehadiran petinggi klub di stadion menambah sorotan terhadap situasi ini. Evaluasi terhadap posisi pelatih diperkirakan menjadi pembahasan serius setelah hasil tersebut. Kekalahan ini dianggap sebagai sinyal kuat kegagalan proyek musim ini.

Brighton mendominasi pertandingan dari awal hingga akhir tanpa banyak perlawanan berarti dari Chelsea. Tim tamu juga sering melakukan kesalahan sendiri yang merugikan mereka. Brentford, Bournemouth, dan Fulham kini berpotensi menyalip di klasemen.

2 dari 5 halaman

Skandal Barbergate dan Bocornya Info Internal Tim

Brighton vs Chelsea: Perebutan bola antara Moises Caicedo dengan Georginio Rutter. (c) Gareth Fuller/PA via AP

Brighton vs Chelsea: Perebutan bola antara Moises Caicedo dengan Georginio Rutter. (c) Gareth Fuller/PA via AP

Masalah Chelsea tidak hanya terjadi di dalam lapangan. Sebelum laga, informasi mengenai absennya Joao Pedro dan Cole Palmer tersebar ke publik melalui media sosial. Kebocoran ini memicu pertanyaan soal disiplin internal tim.

Sumber kebocoran diduga berasal dari tukang cukur pribadi Marc Cucurella yang membagikan informasi tersebut. Ia kemudian menghapus unggahannya setelah menyadari dampaknya terhadap tim. Meski begitu, informasi sudah terlanjur menyebar luas.

Kejadian ini memberi keuntungan taktis bagi lawan karena mereka lebih siap menghadapi perubahan strategi Chelsea. Situasi tersebut juga menambah tekanan pada manajemen dan staf pelatih. Isu internal ini memperburuk kondisi ruang ganti.

3 dari 5 halaman

Kegagalan Taktik Tiga Bek

Aksi pemain Chelsea, Alejandro Garnacho saat melawan Brighton di Amex Stadium, 22 April 2026. (c) dok.ChelseaFC

Aksi pemain Chelsea, Alejandro Garnacho saat melawan Brighton di Amex Stadium, 22 April 2026. (c) dok.ChelseaFC

Liam Rosenior mencoba pendekatan berbeda dengan memakai skema tiga bek sejak awal pertandingan. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan kondisi skuad yang tidak lengkap karena cedera. Namun hasilnya tidak berjalan sesuai rencana.

Brighton langsung mencetak gol cepat melalui Ferdi Kadioglu, yang mengekspos kelemahan struktur pertahanan Chelsea. Perubahan taktik tidak mampu menutup celah yang sudah terbuka sejak awal laga.

Di babak kedua, Chelsea beralih ke formasi 4-2-3-1, tetapi perubahan itu tetap tidak memberi dampak signifikan. Kesalahan Jorrel Hato berujung pada gol kedua Brighton. Alejandro Garnacho yang masuk sebagai pemain pengganti juga tidak mampu mengubah jalannya pertandingan.

Danny Welbeck menutup pertandingan dengan gol di masa injury time. Skor akhir memperlihatkan jarak kualitas yang jelas antara kedua tim.

4 dari 5 halaman

Akhir Era Rosenior?

Pelatih Chelsea, Liam Rosenior memberikan instruksi saat melawan PSG di leg I babak 16 besar Liga Champions, 12 Maret 2026. (c) AP Photo/Michel Euler

Pelatih Chelsea, Liam Rosenior memberikan instruksi saat melawan PSG di leg I babak 16 besar Liga Champions, 12 Maret 2026. (c) AP Photo/Michel Euler

Tekanan terhadap Liam Rosenior semakin besar setelah hasil ini. Banyak pihak menilai posisinya sudah berada di ambang akhir. Ia kesulitan mengelola ekspektasi besar yang melekat pada klub.

Meski bukan penyusun utama skuad, hasil yang diraih tetap jauh dari target. Tim yang awalnya diproyeksikan bersaing di papan atas justru tampil tidak konsisten sepanjang musim.

Sebagian pengamat menilai mempertahankan Rosenior hingga musim depan berisiko. Klub disebut membutuhkan pelatih dengan pengalaman lebih besar untuk membangun ulang struktur tim. Situasi ini membuat masa depannya semakin tidak pasti.

5 dari 5 halaman

Borok Manajemen BlueCo Terungkap

Pascal Gross mencoba merebut bola dari kaki Marc Cucurella di laga Brighton vs Chelsea, Rabu (22/4/2026) (c) Premier League Official

Pascal Gross mencoba merebut bola dari kaki Marc Cucurella di laga Brighton vs Chelsea, Rabu (22/4/2026) (c) Premier League Official

Krisis Chelsea juga dikaitkan dengan kebijakan manajemen BlueCo. Penunjukan Rosenior sejak awal sudah menuai kritik dari sebagian pendukung. Keraguan terhadap kapasitasnya terus muncul sebelum musim dimulai.

Pengalaman Rosenior di Strasbourg dan Hull City dinilai belum cukup untuk menangani tekanan di klub sebesar Chelsea. Ekspektasi tinggi tidak sejalan dengan hasil di lapangan.

Kekecewaan suporter semakin terlihat jelas dalam beberapa laga terakhir. Sebagian bahkan meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai. Reaksi ini menunjukkan tingkat frustrasi yang semakin dalam terhadap kondisi tim.


BERITA TERKAIT

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR

LATEST UPDATE

LATEST EDITORIAL